Daya Beli Turun, Kosmetik Viva Masih Perkasa

Viva Cosmetics masih mampu membukukan pertumbuhan di tengah situasi ekonomi yang tengah lesu seperti sekarang. Kepala Divisi Pemasaran PT Vitapharm, Danny Wibisono mengatakan, perseroan terus berusaha menjaga brand awareness. Perseroan bahkan mengalokasikan dana khusus sekitar 40% dari total belanja modal untuk meningkatkan brand awareness. Hasilnya?

“Tahun ini, cukup lumayan, naik 1 digit dari tahun sebelumnya. Tahun ini, kami cukup bertahan dan bertumbuh saat ekonomi sedang lesu. Kemungkinan kami mendapatkan imbas dari melemahnya daya beli pemakai,” katanya.

Pada tahun-tahun sebelumnya, saat kondisi ekonomi masih bagus, banyak pelanggan yang berpindah ke produk kosmetik lainnya yang harganya lebih mahal. Namun, langkah meng-upgrade diri ini terganggu dengan pelemahan ekonomi yang berujung pada menurunnya daya beli. Mereka kemudian kembali lagi menggunakan Viva.

“Tagline kami sesuai untuk daerah tropis cukup melekat di ingatan konsumen. Mereka juga aware bahwa Viva adalah brand asli Indonesia. Jadi, tagline itu sduah cukup menancap di benak konsumen,” ujarnya.

DAnny Wibisono.jpg

Harga memang menjadi perhatian utama pendiri Viva Cosmetics. Tak heran, mereka masih memproduksi bedak dan lipstik dengan harga yang sangat terjangkau. Hingga kini, bedak tabur ukuran 15 gram dijual Rp 1.000 per sachet. Lipstik pun masih ada yang harganya di bawah Rp 10.000 per buah. Meski begitu, kualitas tetap menjadi prioritas utama.

Perseroan juga punya jaringan distribusi yang kuat di seluruh wilayah Indonesia. Para distributor inilah yang menjamin produk Viva Cosmetics mudah diperoleh di pasar tradisional maupun modern, hingga warung kecil. Produk yang dekat dengan konsumen akan meningkatkan brand awareness.

“Itulah yang kami pertahankan. Sejak awal pendiri Viva berharap wanita Indonesia kalau keluar rumah paling minim harus menggunakan bedak dan lipstick,” kata Danny.

Untuk meningkatkan brand awareness, sederet strategi disiapkan mulai dari Above The Line hingga Below The Line. Iklan di TV, majalah, tabloid, hingga radio hingga bisa menjangkau daerah pelosok, dilakukan untuk mendukung kampanye ATL. Sementara, untuk aktivitas BTL menggandeng komunitas atau organisasi wanita, seperti Dharma Wanita, PKK, hingga pelatihan singkat tentang tat arias di SMK dan Universitas.

Iklan TV dipasang di acara dengan segmen perempuan usia 13-55 tahun dengan kelas sosial ekonomi B-C-D, seperti infotainment dan sinetron. Untuk media cetak juga hanya untuk majalah atau tabloid dengan segmen wanita dan gadis remaja.

“Produk kami sangat beragam dan sudah cukup dikenal masyarakat. Kami mengusung satu mereka, yakni Viva. Jadi, cara promosi kami hanya remind saja ke konsumen. Iklan dibagi-bagi seperti body lotion, lipstik. Jadi tidak terlalu hard,” ujarnya.

Perseroan juga tak ketinggalan memanfaatkan kanal promosi digital seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Ada juga online shop yang menawarkan konsultasi online terutama untuk remaja, seperti jerawat, rambut lepek, dan wajah berminyak. Kelebihannya, perseroan bisa menawarkan lebih banyak pilihan produk. Penjualan via online jauh lebih besar terutama di kota-kota seperti Jakarta dan Surabaya.

“Kami punya unit khusus yang menangani media online. Yang konsultasi paling banyak adalah remaja usia 16-20 tahun, hampir setiap hari ada,” ujar dia. (Reportase: Arie Liliyah)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)