Dedikasi Irvandi Ferizal untuk HR Indonesia

"Saya sudah 25 tahun berkarya dan mengabdi di dunia HR (Human Resources). Menjadi pembicara, dosen tamu, dan fasilitator. Ketika itu saya mendapat banyak pertanyaan, mengapa pengalaman saya tidak dituliskan dalam sebuah buku?", ungkap Irvandi Ferizal.

Cita-cita menulis buku sudah ia miliki sejak 5 tahun lalu, namun masih sebatas obrolan. Sampai satu tahun lalu, ia memantapkan niatnya. Ia mengatakan satu hal yang menjadi inspirasinya menulis buku adalah berkat sang ibu yang juga menulis untuk beberapa diktat kuliah dan sebuah buku yang diluncurkan ketika sang ibu berusia 70 tahun.

Sudah malang-melintang di bidang tersebut, membuatnya memutuskan untuk menulis sebuah buku. Menurutnya, buku ini dibuat berdasarkan keinginannya untuk berbagi dan meninggalkan legacy untuk para praktisi dan pengamat HR di Indonesia.

Dalam buku berjudul Journey to be Employer of Choice, pria yang kini menjabat sebagai Direktur Human Capital Maybank Indonesia ini membahas beberapa langkah strategis bagi HR, yaitu bagaimana membangun employee engagement, menggunakan standar internasional sebagai kerangka kerja menuju perusahaan pilihan. Kemudian bagaimana membangun employer branding serta leadership dalam manajemen SDM.

Buku ini dikemas dengan konsep real story telling. Penulis menguraikan secara rinci bagaimana pengalamannya ketika bekerja di sebuah perusahaan dan memiliki tanggung jawab mengelola HR atau yang saat ini dikenal dengan human capital.

Menurutnya, sebuah buku menjadi renyah ketika membaca seperti sedang mendengar seseorang sedang bercerita. Di bagian akhir buku, ia bahkan berani melampirkan strategi tingkatkan investors in people, yang ia pernah terapkan di perusahaan sebelumnya yaitu TNT Indonesia.

"Saya tidak masalah jika ada yang mengikuti cara yang sudah saya lakukan. Pengetahun dan pengalaman di perusahaan memang harus mengalir kepada yang lain," ujarnya sambil tersenyum.

Irvandi Ferizal, Direktur Human Capital Maybank Indonesia ketika meluncurkan bukunya yang berjudul 'Journey to be Employer of Choice' Irvandi Ferizal, Direktur Human Capital Maybank Indonesia ketika meluncurkan bukunya yang berjudul 'Journey to be Employer of Choice'

Strategi Menjadi Employer of Choice

Perusahaan mana yang tidak ingin menjadi pilihan untuk bekerja dan menghasilkan karyawan yang memiliki kreativitas dan kinerja tinggi. Untuk menjadi sebuah perusahaan terpilih bukan hal mudah. Oleh karena itu pengelolaan HR melalui employer branding dan engagement mutlak dilakukan.

Strategi itulah yang sudah diterapkannya pada beberapa perusahaan yang pernah dipimpinnya. Kontribusinya dalam bidang HR membawa perusahaan-perusahaan seperti TNT Indonesia, Mondelez, Maybank Indonesia, dll memperoleh prestasi sebagai EOC (Employer of Choice) dan HR excellence.

Dalam buku karyanya, ia menuliskan faktor yang mendorong EOC. Pertama, dimulai dengan pondasi yaitu membentuk kultur dan engagement. Seringkali perusahaan menganggap karyawan level bawah sudah mengetahui arah gerak perusahaan, padahal manajemen hanya melakukan sosialisasi visi dan misi sampai level manajer.

Dalam hal ini perusahaan harus membangun komunikasi top down agar memiliki satu visi. "Jangan mengandalkan kebatinan dalam hal ini. Komunikasikan dengan baik kepada seluruh tim di perusahaan," katanya.

Ia menambahkan bahwa untuk menciptakan engagement, kata kuncinya ialah memanusiakan manusia dan melayani dengan hati.

Kedua, standarisasi HR. Perusahaan harus mengikuti norma-norma yang diakui dan menjadi acuan dalam menjalankan fungsi HR. Ia membahasakan standarisasi sebagai ISO karena dianggap konsepnya sama persis antara keduanya. Ada dua jenis standarisasi HR global, yaitu IiP (Investors in People) dan SA 8000. Standarisasi ini nantinya menghasilkan sebuah sertifikat bagi perusahaan.

Ketiga, employer branding. "Branding is too important to be left to the marketing departement," ujarnya. Ia mencoba menjelaskan bagaimana kuncinya ialah melalukan branding secara dua arah secara internal dan eksternal.

EVP (Employer Value Proposition), dimana akan membuat seseorang tertarik untuk bergabung dan merasa betah bekerja di suatu perusahaan. Ia mencontohkan EVP di Mondelez Indonesia, yang membangun kedekatan antara manajemen dan karyawan melalui ruangan kerja bebas sekat dan program Coffee with GM atau berkomunikasi dengan GM secara rutin.

Keempat, Nilai kepemimpinan. Menurutnya banyak program HR yang bagus tetapi tidak diketahui oleh karyawan dan pihak eksternal. Oleh karena itu selain branding, harus didukung dengan leadership.

Setelah membicarakan empat poin utama di atas, pada bagian epilog ia membuat pertanyaan besar, 'Cukupkah dengan EOC?'. Ia menuturkan perubahan akan terus terjadi, sangat penting bagi HR untuk mempersiapkan langkah tambahan yaitu future ready organization.

Di sini ia menuliskan dalam era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity) sangat penting membangun learning agility. Yaitu kelincahan para karyawan dalam mempelajari hal-hal yang baru secara cepat.

"Konsep organisasi atau perusahaan siap masa depan sebagai kelanjutan dari EOC, akan menjadi peran HR tidak hanya sebagai business partner, tetapi lebih dari itu, mampu sebagai business player," tutupnya.(EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)