Dedikasi Martha Tilaar untuk Dunia Jamu

Untuk memperingati HUT Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ke-34 tahun, Hateknas ke XVII serta HUT Kemerdekaan RI ke 67, BPPT menyelenggarakan berbagai kegiatan, di antaranya adalah Penganugrahan Gelar Perekayasa Utama Kehormatan (PUK). Penganugrahan ini diselenggarakan setiap tahun yang merupakan penghormatan kepada seseorang atas jasa-jasanya yang besar dalam kegiatan perekayasaan teknologi di Indonesia.

Tahun 2012 ini adalah penganugerahan PUK yang ke-6, yang diberikan kepada Dr. (H.C) Martha Tilaar, pendiri Martha Tilaar Group, atas karya nyata di Bidang Kesehatan. Kiprahnya telah mencerminkan esensi kegiatan seorang perekayasa yakni Research (R), Development (D), Engineering (E) dan Operation (O) yang dibuktikan dengan berbagai prestasi di bidang kesehatan dan kosmetika, khususnya yang berbahan baku jamu. Seperti apa bentuk dedikasi dan perjuangan  Martha Tilaar dalam mengembangkan industri jamu Indonesia, berikut petikan wawancara Gustyanita Pratiwi dari SWA Online.

Bagaimana perasaan Anda memenangkan penghargaan ini?

Ini merupakan hadiah ulang tahun saya yang ke-75 tahun. Saya sangat menyadari bahwa penghargaan ini tidak  mungkin saya peroleh tanpa usaha dan dedikasi yang tinggi dari rekan-rekan di Martha Tilaar.  Kami kerja keras bersama  dalam mewujudkan cita-cita. Karenanya penghargaan ini bukan saja untuk saya, melainkan juga untuk rekan-rekan semua, teman-teman seperjuangan saya. Selain itu, juga didukung  doa keluarga. Saya ibaratkan, sekuntum melati dalam untaian bunga yang mengharumkan nama bangsa. Ini adalah suatu perjalanan yang menceritakan seorang anak bangsa dalam meraih sebuah impian.

Seperti apa bentuk tekad Anda dalam mengawali perjuangan?

Kita semua mengetahui, bahwa diperlukan modal yang besar untuk memulai sebuah usaha. Hal ini sama sekali tidak salah. Dan pengalaman saya pun mengatakan demikian. Saya memulai usaha ini dengan sesuatu yang besar yaitu tekad. Tekad saya adalah mengangkat kearifan lokal bangsa Indonesia menjadi mendunia, khususnya dalam bidang kesehatan dan kosmetika alami. Local wisdom goes global! Ternyata tekad yang besar dan disertai dengan konsistensi yang tinggi menghasilkan buah yang manis dan mengubah sebuah usaha kecil menjadi sebuah perusahaan nasional.

Apa saja yang mendasari tekad Anda untuk mendalami bisnis kosmetika?

Ada 2 hal yang mendasari tekad saya ini, pertama adalah pengalaman pribadi saya sendiri dalam menggunakan obat tradisional Indonesia, atau yang kita kenal dengan jamu. Jamu selalu dekat dengan kehidupan pribadi saya. Banyak pengalaman yang saya alami secara pribadi untuk menjaga kesehatan dan kecantikan, dengan menggunakan jamu. Misalnya pengobatan tradisional seperti pemijatan untuk menangani kondisi kesehatan saya yang pada waktu itu dikatakan mandul oleh para dokter ahli. Setelah belasan tahun menikah, saya belum dikaruniai seorang anak. Walau berbagai usaha telah dilakukan sambil berdoa. Pada usia pernikahan ke-16 tahun, yaitu di usia saya yang ke-42 tahun, saya divonis bahwa kemungkinan besar tidak akan memperoleh anak seumur hidup. Hancur hati saya. Perempuan mana yang mau divonis seperti itu. Namun saya sadar, bahwa saya tidak boleh larut dalam kesedihan. Eyang putri saya, yang terkenal ahli dalam hal jamu, turut serta merawat sang cucu dalam proses mendapatkan keturunan. Dengan telaten, beliau mengurut, memberi ‘parem’, dan meramu jamu penyubur untuk saya minum. Ternyata dengan penanganan eyang, saya secara tradisional akhirnya dikaruniai putra dan putri. Saya mengandung puteri pertama saya, Wulan Maharani di usia 42 tahun. Tiga tahun kemudian, saya kembali mengandung putera saya Kilala Esra yang melingkupi kebahagiaan saya dan suami.

Hal kedua adalah fakta akan kekayaan alam Indonesia, khususnya kekayaan hayati. Kita semua mengetahui, bahkan duniapun mengakui bahwa negara Indonesia adalah negara yang sangat indah dan memiliki sumber kekayaan alam yang sangat besar. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau, yang merupakan rumah bagi hampir 11% spesies tanaman yang ada di dunia, dan 10% hewan jenis mamalia yang ada di dunia. Hutan tropis yang tersisa di dunia 10% ada di Indonesia, di mana terdapat 14-29 tipe ekosistem alami serta sekitar 30 ribu jenis tumbuh-tumbuhan dan 7 ribu diantaranya ditengarai memiliki khasiat sebagai obat, sekitar 90% tanaman obat di kawasan Asia tumbuh di Indonesia. Dan 940 jenis dimanfaatkan oleh masyarakat hanya 120 jenis yang telah masuk Materia Medika Indonesia.

Hal ini berarti masih sangat banyak hal-hal yang perlu kita lakukan untuk menggali kekayaan alam negara Indonesia. Berdasarkan hal tersebut saya pun bertekad untuk terus mendalami khasiat tanaman-tanaman Indonesia berdasarkan kearifan budaya dan leluhur yang sudah berkembang khususnya untuk kesehatan dan kecantikan. Semua ini kemudian dibakukan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk menciptakan inovasi-inovasi dan kreasi-kreasi baru yang sesuai dengan kebutuhan dan mengikuti tren yang sedang berkembang. Dengan demikian terciptalah produk-produk yang dapat memenuhi tuntutan pasar.

Bagaimana perasaan Anda sebagai satu-satunya, wanita pertama yang berhasil mendapatkan penghargaan ini?

Terus terangnya saya tidak mengira karena satu, BPPT pilihannya itu kan banyak yang pintar-pintar, dan saya adalah seorang praktisi saja, dan “bakul jamu”. Kedua, waktu saya datang pertama kali dari Amerika, juga tidak karena sengaja, hanya karena ikut suami dan jadi “TKW”, jadi tidak hal yang hebat-hebat begitu ya. Tapi kalau kita punya tekad yang kuat, pasti akan bisa tercapai. Waktu itu, saya tidak meminta karena saya ingin sekali melestarikan jamu yang berdasarkan kearifan budaya dan untuk rakyat biasa, seperti saya yang lahir di Kebumen, itu tidak ada akses ke keraton, serat-serat centini, dan sebagainya. Dan tidak ada pula literatur, sampai sekarang juga, serat centini ya hanya begitu-begitu saja. Tidak ada literatur untuk jamu-jamu itu sehingga terpaksa saya diajak oleh eyang saya pergi ke dukun-dukun beranak, terus terang ya. Jadi saya belajar, melihat tanaman-tanamannya. Terus terang kita dianggap orang yang begini (sinting). Sudah tidak kira-kira ya? Karena dari Amerika, pergi belajar. Itu pengalaman saya. Tetapi Tuhan itu Maha Baik. Leluhur kita sangat baik kepada kita, karena saya mempunyai ketulusan hati untuk melestarikan budaya bangsa. Jadi selalu ada kemudahan-kemudahannya. Jadi meskipun dianggap gila, ada saja yang membantu. Kita ingin pergi ke Bali, menulis kebudayaan Bali, spa khususnya, karena the Spa Destination, Spa of The World adalah Bali, yah kita duduknya di samping Gubernur. Dulunya dia tidak mau kasih kartu nama. Setelah saya komplain bahwa, ini kita harus kita lestarikan kebudayaan Bali, jangan sampai diklaim, karena saya pergi ke seminar-seminar internasional, sudah diklaim orang Australia dan Amerika. Dan filosofinya itu ngambang, campuran kemana-mana, tapi disebut The Baliness Spa, jadi saya bilang :”Aku harus menulis!” dan saya bukan orang Bali, susah kan? Tapi suami saya membantu di Udayana.

Mengapa tanaman-tanaman jamu  sedikit yang sudah dipatenkan secara nasional. Apa yang terjadi?

Saya pun tidak tahu, mengapa begitu. Terus terang saya meneliti 34 macam, kemudian karena saya pikir, wah kalau tidak dipatenkan, maka nanti bagaimana, padahal kita sudah meneliti. Sebanyak 34 yang dipatenkan dari tahun 2000, baru 5 yang keluar. I don’t know why, maka itu saya anjurkan kepada pakar-pakar, akademisi, pemerintah, serta pengusaha itu bersatu, supaya bisa cepat dan efisien. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)