Dentsu Aegis Network Indonesia, Resep Keberhasilan: Smart, Fast, Kreatif, dan Inovatif

Maya Watono, Country CEO Dentsu Aegis Network (DAN) Indonesia
Maya Watono, Country CEO Dentsu Aegis Network (DAN) Indonesia

Agar bisnis melejit dan tumbuh berkembang berkelanjutan, perusahaan harus adaptif dengan perubahan yang ada dan tanggap melihat dan membaca tren masa depan. “Perusahaan harus siap berubah dan juga harus menyiapkan staf menyongsong perubahan tersebut,” kata Maya Watono, Country CEO Dentsu Aegis Network (DAN) Indonesia menegaskan.

Strategi ini dilakukan Dentsu Indonesia dalam merancang strategi pertumbuhan bisnis 3-5 tahun terakhir. Tujuannya, agar bisnis tetap tumbuh di atas rata-rata industri.

Dikatakan Maya, saat ini teknologi digital telah menjadi DNA dalam bisnisnya. Salah satu ciri teknologi digital adalah bergerak lebih cepat. Saat ini, konten hanya bertahan selama 24 jam. IG Story, misalnya, hanya bertahan selama 24 jam dan setelah itu materinya basi. ”Itu sebabnya, mau tidak mau, kami harus bergerak cepat; harus menciptakan konten dengan lebih cepat, menarik, inovatif, dan kreatif. Kecepatan dan konten yang kreatif sangat penting saat ini,” kata Maya yang walaupun membentuk tim khusus digital, tetap mewajibkan semua karyawan mengerti digital dan hybrid.

Berkat kegigihannya mendorong teknologi digital, pertumbuhan perusahaan di bidang digitalisasi berada di angka 25%. Selain itu, konversi dari konvensional menuju digital juga ditargetkan di atas angka rata-rata industri. Meskipun untuk target billing sendiri masih single digit, Dentsu Indonesia tetap menargetkan di atas rata-rata industri, yakni di atas 5%. “Per tahun, kami tumbuh sekitar 8%. Angka ini masih di atas industrinya,” ujar Maya tanpa menyebut angkanya.

Dalam menghadapi ancaman VUCA dan disrupsi, Dentsu Indonesia mengantisipasinya dengan mempekerjakan hampir 70% karyawan milenial dari total 1.000 karyawan. ”Pastinya, managing milenial talent is more challenging karena eranya yang berubah,” ujar Maya.

Untuk menginspirasi talenta, bisa bekerja dengan baik di era VUCA ini juga membutuhkan pelatihan, karena talenta milenial haus akan knowledge sehingga perusahaan harus membekali mereka dengan knowledge tersebut. “Lalu, kami harus berikan inspiration reason why you work. Bisa jadi, itu dari sisi wealth of knowledge, uang, passion, atau social impact. Jadi, memang harus ada reason why-nya itu yang harus kami komunikasikan,” ungkap Maya. 

Sementara itu, konsumen saat ini juga cepat bosan, apa yang menjadi berita hari ini besok sudah basi. Maka, sebagai agensi harus kreatif membuat sebuah pesan bisa tertanam di era yang serba instan dan serba bosan. “Ini tantangan bagi advertising agency untuk memenuhi kebutuhan konsumen di era VUCA ini. Perusahaan harus smart, fast, kreatif, dan inovatif,” katanya menegaskan lagi.

Untuk menyikapi kondisi bisnis yang terus berubah dan agar kinerja bisnisnya terus moncer, Dentsu Indonesia akan terus melakukan pelatihan untuk karyawan internalnya agar siap dalam menghadapi digitalisasi. Kemudian, Dentsu Indonesia juga akan terus menambah pengetahuan karyawan. “Kami akan banyak menggalakkan training digital, training untuk tools yang ada, dan knowledge sharing,” kata Maya.

Dentsu Indonesia juga terus memperkuat basis teknologi untuk mengoptimalkan big data, dll. “Untuk nilai investasinya, saya tidak bisa mengatakannya,” ujarnya.

Dengan berbagai strategi yang dijalankan, menurut Maya, new business conversion rate Dentsu Indonesia mencapai 70%, sedangkan tahun lalu di bawah 50%. “Jadi, kami ada growth dari new business conversion rate-nya. Employee participation kami juga naik sekitar 5%. Conversion tim kami yang saat ini juga sudah menuju digital, dari yang tadinya tidak bisa digital, menjadi digital,” kata Maya yang mengaku puas atas pencapaian tersebut. (*)

 Dede Suryadi dan Anastasia A.S.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)