Diganjar "Excellence", Metode MMUI Bentuk Eksekutif Humanis

Semakin banyak insan bisnis saat ini menyandang gelar MBA atau Master of Business Administration. Meski demikian, gelar tersebut belum menjamin penyandangnya mampu memberi pengaruh positif terhadap lingkungannya. Itulah sebabnya Magister Manajemen Universitas Indonesia (MMUI) mengusung metode pembelajaran Participated Centered Learning  (PCL) sejak 7 tahun lalu. Bahkan metode ini diganjar akreditasi internasional dan penghargaan “Excellence” in Practice oleh Alliance on Business Education and Scholarship for Tomorrow, a 21st Century Organization, ABEST 21.

PCL merupakan metode pembelajaran yang melibatkan mahasiswa peserta didik secara aktif berkontribusi dalam merekonstruksi ilmu. Oleh-oleh dari Harvard Business School yang diboyong Prof Rhenald Kasali, PhD dan Phillip Purnama ini dinilai mampu menghasilkan eksekutif yang handal. Kepada SWA Online, Rhenald menuturkan, “PCL yang standar di Amerika itu sudah jalan sejak dari SD karena metode belajar anak-anak di Amerika Serikat adalah pesertanya aktif. Sedangkan di Indonesia itu pasif, takut. Dan yang kedua mereka biasa disuapin, jadi dosen dateng langsung menulis di papan tulis mengenai lecture sehingga student tidak berpartisipasi karena tidak ada reward-nya. Kalaupun mereka berpartisipasi, tidak ada rewardnya, tidak ada nilainya.”

Setelah disesuaikan dengan gaya Asia, PCL diterima dengan baik di kalangan akademisi MMUI. Teknisnya, mahasiswa akan menerima kartu dari instruktur atau pengajar setiap mereka berkontribusi dalam rekonstruksi ilmu. Di awal penerapannya, digunakan 4 kartu berwarna biru, hijau, kuning, dan merah. Kartu biru untuk nilai 10 atau “Excellent”, kartu biru bernilai 8 untuk “Bagus”, dan kartu kuning untuk nilai di bawah 8. Sementara itu, peserta yang bicara ngawur mendapat kartu merah. Dampaknya, peserta didik belum berani berpartisipasi karena takut mendapat kartu merah. Setelah 2 tahun berjalan, kartu tersebut dihilangkan. “Kultur ngawur sudah tidak ada,” Rhenald menjelaskan.

Selain menggunakan kartu, MMUI menerapkan manajemen perubahan yang kuat. Manajemen perubahan ini membantu kesiapan peserta didik maupun instruktur dalam bertransformasi dari metode konvensional ke PCL. Oleh karena itu sebelum perkuliahan dimulai peserta didik dibentuk sedemikian rupa agar siap mengikuti metode PCL.

Rhenald mengungkapkan sejumlah keuntungan yang dirasakan setelah 7 tahun diterapkan. “Pertama, kecerdasan emosional dan sosial peserta meningkat sangat tinggi.” Menurutnya, hal tersebut karena peserta didik belajar mendengar dan mengungkapkan isi pikiran sehingga interaksi sosial di kelas pun bertambah. Keuntungan kedua, peserta tidak lagi berorientasi pada nilai ujian saja melainkan dampak dan perubahan yang bisa mereka ciptakan. Saat metode konvensional diterapkan, bobot terbesar penilaian peserta didik ada pada nilai ujian tulis. Dengan PCL, porsi terbesarnya justru pada partisipasi peserta di kelas.

Sisi humanis ternyata muncul sebagai efek lain PCL. “Beberapa pengajar bahkan merasa seperti 20 tahun lalu, ketika kelas selesai, mahasiswa mengucapkan terima kasih,” Mahasiswa pun mendapat kepuasan karena memperoleh kesempatan berdialog. Rhenald mengungkapkan peristiwa yang terjadi. Karena hubungan sosial yang sangat bagus, pernah ada seorang dosen terserang stroke ketika sedang mengajar. Para mahasiswa pun dengan sigap membagi tugas untuk menyelamatkan sang dosen. Ketika ditanya mengapa mereka begitu sigap dan mau membantu dosen tersebut, Haryo, koordinator mahasiswa itu mengungkapkan bahwa mereka menerapkan metode PCL. Rhenald pun merasa pantas memberi mereka penghargaan.

Menerapkan PCL di MMUI ternyata bukan perkara gampang. Tidak sedikit pengajar yang bersikap arogan, enggan turut aktif dalam PCL. Biasanya hal tersebut terjadi pada dosen tetap yang memiliki “perlindungan pasar”. Untuk itu, MMUI tegas mencoret dosen yang tidak kooperatif dengan rating rendah.

Agar PCL dapat dilaksanakan dengan baik dan bertahan hingga saat ini, MMUI menggelontorkan sejumlah strategi. Mereka melakukan pendekatan personal kepada semua instruktur. Selain itu, mahasiswa baru pun ditanamkan pola belajar PCL sebelum perkuliahan dimulai.MMUI juga memperjelas SOP dengan buku pedoman, software, dan contoh-contoh. Memanfaatkan teknologi informasi, MMUI menyajikan nilai peserta secara transparan karena kartu yang digunakan disertai barcode untuk discan pada sistem penilaian. Tak heran bila hasil pembelajaran ini membuat peserta didik merasa bergairah dan panen cumlaude.

“Temuan ini bisa digunakan di institusi pendidikan manapun, terutama di Indonesia,” ungkap pria yang memperoleh gelar PhD dari University of Illinois ini, Senin (18/3). Reviewer dari kampus papan atas Australia, Jepang, dan Malaysia bahkan tertarik dengan metode yang diadopsi untuk mengaktifkan partisipasi eksekutif Asia yang cenderung pasif. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)