Digitalisasi HR Ala Erajaya

Transformasi sistem Human Resources (HR) menjadi Human Capital adalah salah satu kunci sukses perusahaan dalam mengarungi samudera bisnis yang semakin ketat belakangan ini. PT Erajaya Swasembada Tbk (Erajaya) melakukannya dengan digitalisasi sistem HR. Nilai investasinya tidak tanggung-tanggung, Rp 1,5 miliar.

Manager HR People Development Erajaya, Budi Hartono mengatakan, transformasi HR ini terkait erat dengan pengembangan sumber daya manusia. Sehingga, karyawan lebih efektif dalam bekerja. Perseroan menggunakan provider dari ProIn dalam transformasi HR yang sudah disiapkan sejak 2013 dan mulai aktif setahun berikutnya.

“Lewat platform web base ini, kami melakukan perubahan yang signifikan. Ada dua modul yang dipakai yakni basic modul yang meliputi segala data karyawan mulai dari pembayaran gaji, pembayaran PPh, slip dan lainnya. Kedua, advance modul yang meliputi training, assessment, performance management, dan lainnya yang bisa dipantau sistem,” katanya.

Menurut dia, dampak positifnya bisa dilihat dari sisi model organisasi. Dari awalnya, sentralistik sesuai merek karena sebelumnya memang setiap merek punya organisasi sendiri termasuk leader dan tim. Saat ini, diubah dari merek menjadi area. Sehingga, perseroan tidak hanya fokus pada brand dan melupakan area yang perlu dikembangkan.

Ibox

“Jadi, kami lebih kepada pemilihan area yang belum dikembangkan. Brand tetap fokus, satu sama lain saling bersaing. Tapi, mayoritas penjualan kami adalah multibrand. Setiap dealer yang tadinya bisa didatangi banyak sales, kini cukup satu orang. Yang tadinya banyak kebocoran, kami bisa pangkas pengeluaran,” katanya.

Budi menjelaskan, saat ini kendalanya adalah membangun budaya learning. Inilah yang terus disampaikan kepada para leader. Mereka bertanggung jawab terhadap pengembangan tim. Terjun di bisnis distribusi, sumber daya manusia harus terus diperkuat. Alasannya, semua produk dan kompetitor akan bersaing dari segi harga.

Setiap pekan, selalu ada pelatihan untuk karyawan ritel yang baru. Ada juga pelatihan untuk para leader, dari basic leadership, supervisor development, hingga ranah eksekutif. Semuanya dilakukan di learning center, yakni Erajaya Development & Assessment Center di Hayam Wuruk Plaza yang dibangun dengan investasi hingga Rp 1,5 miliar pada 2012 silam.

“Program training mingguan dimulai sejak 2014. Sebelumnya, training biasa saja sesuai dari permintaan user atau bagian-bagian. Sekarang, kami lebih proaktif dan segmented. Kalau bisnis ritel, distribusi kami punya pelatihan khusus, mulai dari staff, supervisor, manager, dan seterusnya,” kata dia.

Sejak berdiri tahun 1996, bisnis Erajajaya semakin menggurita. Sebagai perusahaan ritel dan distribusi perangkat elektronik yang berhubungan dengan telekomunikasi, hingga kini Erajaya sudah memiliki 10 anak usaha di berbagai sektor seperti Erafone, TAM, MMS, dan iBox. Outletnya pun sudah tersebar ke seluruh pelosok Indonesia.

“Dulu, peserta training hanya sebagian orang. Sekarang, supervisor juga ikut mendorong timnya untuk ikut training. Hasilnya bagi perusahaan cukup memuaskan. Selama 3 tahun terakhir, bisnis Erajaya naik dari Rp 12 triliun hingga Rp 14,5 triliun,” kata Budi. (Reportase: Syukron Ali)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)