Digitalisasi Perbankan, Kuncinya Outsourcing

Perbankan harus terus berbenah di era digital seperti sekarang. Kehadiran startup terutama di financial technology harus diantisipasi. Merangkul para startup ini adalah pilihan yang bijak untuk memuluskan program digitalisasi perbankan. Namun, upaya tersebut tidak semudah membalikkan piring di atas meja makan.

"Bank harus dan hanya bisa meng-outsource inovasi. Dengan kata lain, inovasi dilakukan di luar perusahaan. Selama bank mencoba melakukan riset dan pengembangan di dalam, inovasi biasanya tidak akan jalan. Mengapa?" kata Yansen Kamto, CEO Kibar Kreasi Indonesia.

Menurut dia, pola pikir jajaran direksi dan komisaris harus dibenahi lebih dulu sebelum bank memutuskan untuk masuk ke digital banking. Perubahan di era digital ini pasti akan terus terjadi. Sayang, banyaknya generasi lama di pucuk pimpinan bank membuat upaya digitalisasi perbankan menjadi tidak mulus. Pikiran yang tidak mau terbuka karena menganggap digital itu rumit membuat banyak aplikasi bagus hasil kreasi anak negeri akhirnya layu sebelum berkembang.

Yansen Kamto CEO Kibar ( kiri)

"Mereka baru sadar setelah banyak startup asing masuk ke Indonesia dan mengambil pasar Indonesia. Mereka bersama orang-orang Indonesia lainnya hanya menjadi penonton. Bayangkan, di San Fransico, ada pedagang kaki lima yang mulai menerima pembayaran dengan kartu kredit dengan menggunakan apps bernama Square," kata dia.

Dia menjelaskan, bank mesti bijak menyikapi beberapa kendala untuk masuk ke digital banking. Investasi sebenarnya jauh lebih murah ketimbang melakukan hal yang sama selama bertahun-tahun. Nasabah bank kini lebih sering memakai e-banking, seperti SMS banking dan internet banking untuk bertransaksi ketimbang datang ke kantor cabang bank. Dengan begitu, kantor cabang tidak perlu banyak.

"Ada 3 kendala bank untuk masuk digital banking. Pertama, ketiadaan sumber daya. Mereka biasanya memaksa orang luar untuk masuk ke dalam perusahaan. Namun, orang luar tadi bisa jadi masuk ke lingkaran setan. Ada juga bank yang memaksa orang dari consumer banking masuk ke digital banking. Tapi, itu susah karena mindset consumer dan digital banking berbeda," ujar dia.

Kedua, lanjut Yansen, bank akan terbentur pada birokrasi di perusahaan jika tidak meng-outsource inovasi dari luar perusahaan. Kecuali, jika bank tersebut memiliki pemimpin yang visioner. Ketiga, biaya untuk melakukan inovasi di luar perusahaan juga lebih murah. Misalnya, lewat kompetisi dan pemenangnya akan direkrut perusahaan. Misalnya, kompetisi Indonesian Idol lebih murah ketimbang mendidik calon penyanyi dari awal.

"Bank juga harus mengambil inisiatif. Tidak bisa menunggu regulasi dari pemerintah keluar. Pemerintah sekarang memfasilitasi inovasi yang bermanfaat buat masyarakat dan tidak membatasinya. Rezim Jokowi-JK dan Menteri Rudiantara berpikiran terbuka. Ini peluang bagus untuk mengembangkan digitaliasi perbankan," ujar dia.

(Reportase: Maria Hudaibyah Azzahra)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)