Dua Strategi Menyelesaikan Permasalahan Gula Nasional

Selama 41 tahun pemerintah berupaya untuk meningkatkan industri gula, namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda membaiknya industri tersebut. Menurut Subiyono, Direktur Utama PT Perkebunan Nasional (PN) X, permasalahan gula selama ini adalah karena kurangnya pabrik gula dan penanganan off farm. Saat ini Indonesia memiliki 62 pabrik gula dengan 50 di antaranya milik BUMN dan sisanya milik swasta.

Subiyono, Direktur Utama PT Perkebunan Nasional (PN) X Subiyono, Direktur Utama PT Perkebunan Nasional (PN) X

Kebanyakan pabrik berada di pulau Jawa dan berada di tengah kota menyebabkan banyak pabrik gula kekurangan pasokan. Hal ini karena banyak petani yang sudah tidak memiliki lahan tebu di tengah kota. Konsumsi rata-rata gula per tahun berjumlah 3 juta ton, sementara pabrik-pabrik tersebut hanya mampu menghasilkan 2,4 juta ton per tahun.

Ketersediaan gula masih sangat minim, oleh karena itu ia menyarankan 2 hal. Pertama intensifikasi yang berfokus pada revitalisasi pabrik dan penanganan off farm. Kedua, ekstensifikasi dengan perluasan areal dan penambahan pabrik.

Intensifikasi dilakukan karena banyak tanaman tebu yang sudah melewati masa produktivitas, namun tetap di panen. Selain itu menipisnya lahan akibat berkembanganya industri lain membuat sumber bahan baku gula berkurang, sehingga full capacity hanya mencapai 70% dari target 90%. Saat ini pabrik di pulau Jawa diperkirakan hanya bisa menghasilkan 2,4 juta ton di tahun 2016.

”Kalau full capacity harusnya bisa memproduksi hingga 2,7 juta ton per tahun. Sementara tahun ini tampaknya hanya bisa memproduksi 2,4 juta ton dan ini menurun dari tahun lalu,” kata Subiyono. Untuk menambah produksi, PTPN X melakukan berbagai upaya.  Salah satunya revitalisasi  11 pabrik milik BUMN ini.

Dari 50 pabrik gula yang berada di pulau Jawa milik BUMN, 85% di antaranya dibangun pada masa Belanda, begitu pula dengan pabrik PTPN X. Mereka pun mengganti mesin-mesin uap lama dengan mesin otomatik. Ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi dari pabrik, sehingga efisiensi bisa dilakukan tanpa pemotongan tenaga kerja. Mengingat rata-rata pabrik gula memiliki tenaga kerja 11 hingga 13 ribu orang.

Awalnya, pabrik gula didirikan untuk menyerap banyak tenaga kerja, tapi kini hal tersebut sudah tidak relevan lagi. Oleh karena itu, pabrik harus bisa mencari bentuk bisnis lain seperti bioetanol dan listrik agar tetap bisa untung dan membayar pegawai. PT PN X sendiri sudah mendirikan pabrik bioetanol di Mojokerto dan akan kembali membangun di daerah Bondowoso.

Selain itu, ia berharap agar pabrik gula bisa memproduksi listrik sendiri dari ampas gula. Bagi Subiyono, upaya ini dilakukan agar bisa menaikan daya saing industri gula di kancah global. Saat ini pabrik gula di Thailand, India, dan Brazilia mampu menghasilkan listrik sendiri, sehingga tidak perlu bergantung dari pemerintah.

Di Indonesia, bioetanol full grade sudah dibeli pemerintah dengan harga Rp 9.000, sementara untuk listrik 1 Kwh dihargai Rp 1150. Penjualan ini diharapkan bisa memberikan keuntungan bagi pabrik gula.”Harga gula ditetapkan oleh pemerintah karena pemerintah ingin agar harga gula tetap terjangkau. Supaya tetap untung, pabrik gula harus pandai dalam mengolah keuangannya, misalnya dengan memanfaatkan ampas gula,” jelas Subiyanto.

Strategi ini tidak hanya membuat perusahaan untung tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani. Ke depannya ia juga berharap agar pembangunan pabrik gula diperbanyak serta dilakukan penambahan lahan tanaman tebu untuk memenuhi konsumsi dalam negri yang membutuhkan 5 juta ton pertahun. Diperkirakan Indonesia membutuhkan tambahan 20 pabrik baru dengan kapasitas produksi 10.000 TCD per pabrik.

 

 

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)