Efisiensi Harga Gas Dapat Meningkatkan Daya Saing Industri

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bekerja keras mendorong kinerja investasi yang sudah existing agar tetap tumbuh dalam situasi pertumbuhan ekonomi yang melambat. Untuk mempercepat pertumbuhan BPKM bekerjasama dengan Kementerian Perindustrian dan kalangan industri pengguna gas untuk mencari solusi guna mendorong industri nasional tetap tumbuh,

IMG-20150831-WA0001_resized

“Efisiensi harga gas merupakan salah satu komponen yang dapat dipertimbangkan sebagai salah satu insentif yang dapat diberikan, untuk meningkatkan daya saing industri nasional yang sudah ada.,” ujar Kepala BKPM, Franky Sibarani,

Fokus BKPM saat ini tidak hanya menarik investasi tetapi juga menjaga agar investasi yang sudah ada tidak berhenti atau hengkang. Oleh karena itu, BKPM secara proaktif berkomunikasi dengan kalangan industri untuk membicarakan upaya meningkatkan daya saing mereka di tengah kondisi perekonomian yang tumbuh melambat. Kami akan berkoordinasi dengan Menteri Perindustrian untuk merealisasikan hal tersebut.

Dia menjelaskan, BKPM sudah bertemu dengan Forum Industri Pengguna Gas, Senin lalu (31/8). Pertemuan tersebut membahas potensi peningkatan daya saing industri melalui efisiensi harga gas bagi kalangan industri. Franky menyatakan, akan mengkaji lebih dalam dampak efisiensi harga gas terhadap daya saing industri serta mekanisme yang memungkinkan efisiensi tersebut dapat dilakukan.

“Harga gas berkontribusi cukup besar dalam komponen biaya produksi. Sebagai contoh, industri keramik, komponen harga gas memiliki porsi 30% dari biaya produksi, industri petrokimia 10%, industri kaca 30-35%, industri baja 30-35%, serta industri pupuk 80%. Apabila efisiensi harga gas dapat diberikan, daya saing industri-industri tersebut tentu akan meningkat,” kata Franky.

Sebelumnya, industri pengguna gas di Sumatera Utara (Sumut) menyatakan, mengalami kesulitan dalam menjalankan operasional karena kenaikan harga gas menjadi US$14 per mmbtu dari sebelumnya US$8,7 per mmbtu, sejak 1 Agustus 2015 yang lalu. Ketua Asosiasi Perusahaan Pemakai Gas (Apigas) Sumut, Johan Brien mengungkapkan, secara head to head, harga gas di Sumut jauh di atas Malaysia dan Singapura. Di dua negara itu, harga gas untuk industri paling mahal US$3,8 per mmbtu.

“Kenaikan harga gas hingga dua kali lipat tersebut menjadikan biaya produksi melonjak signifikan, khususnya untuk industri-industri keramik dan sarung tangan yang membutuhkan banyak gas. Akibatnya, industri lokal sulit bersaing di pasar. Apalagi, produk keramik impor terus masuk ke pasar lokal dengan harga yang lebih murah,” tuturnya. (EVA)

2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)