Ekonomi Kreatif Indonesia Berpotensi Menjadi Kekuatan Baru

Dari sekian banyak negara di dunia, tidak banyak negara yang memiliki kementerian yang khusus menangangi ekonomi kreatif seperti Indonesia. Inggris merupakan negara yang telah memiliki pengalaman panjang dalam mengurusi ekonomi kreatif. Selain Inggris, Korea Selatan juga memiliki kementerian yang concern terhadap bidang ini. Haiti pun baru-baru ini mendirikan kementerian tersebut.

Perkembangan industri kreatif di Indonesia boleh dibilang merupakan perkembangan yang cukup menggembirakan. Pertumbuhan PDB industri kreatif tahun 2013 dibanding tahun sebelumnya mencapai 5,76%, lebih tinggi dari pertumbuhan nasional 5,74%. Secara berurutan, kontribusi terbesar pada bidang ini diberikan oleh industri mode, kuliner dan kerajinan. Nilainya pun tidak boleh dianggap remeh karena mencapai Rp 641,82 triliun, tujuh persen dari nilai PDB nasional Rp 9.109, 12 triliun.

Menariknya lagi, industri ini mengalami pertumbuhan dalam hal tenaga kerja sebesar 0,62%, jauh di atas pertumbuhan nasional -0,01%. Industri ini mampu menyerap 11% tenaga kerja di indonesia. Namun, dari segi ekspor, Indonesia belum boleh berpuas diri karena masih jauh dibandingkan ekspor Amerika Serikat, Inggris dan Perancis dari sektor yang sama.

Mari Elka Pangestu

Diakui Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 230 juta jiwa mempunyai keuntungan tersendiri, “Dibandingkan Malaysia misalnya, kita punya pasar yang besar untuk membesarkan industri dalam negeri.”

Lebih lanjut ia menyebutkan industri ini memiliki nilai tambah tersendiri. “Selain kontribusi ekonomi, industri kreatif mampu menunjukkan citra sebuah bangsa, industri kreatif juga merupakan cara yang paling ampuh dalam melestarikan budaya dan alam,” ujar Mari menjelaskan. Dampak sosial berupa peningkatan toleransi sosial serta kecintaan terhadap bangsa sendiri juga dapat ditumbuhkan melalui industri ini.

Mari menyebutkan, untuk mengembangkannya, pemerintah membuat cetak biru yang terdiri atas beberapa rencana aksi. “Orang kreatif merupakan pondasi yang paling utama. Dia harus dikembangkan melalui pelatihan dan pengembangan. Kemudian kerangkanya adalah industri yang harus dikembangkan.

Selanjutnya adalah pembiayaan. Kalau di Korea ada hibah, ada venture capital, dsb,” ujarnya panjang lebar. Tidak cukup itu saja, dari segi pemasaran juga perlu menjadi perhatian. Menurut Mari, pasar dalam industri kreatif itu bukan hanya toko atau galeri tetapi juga bagaimana mereka mendapat apresiasi. Teknologi dan infrastruktur serta lingkungan kondusif yang diwujudkan melalui kelembagaan juga mempunyai peran yang penting.

Sinergi antara pemerintah, industri, akademisi dan juga komunitas dalam pengembangan industri kreatif di Indonesia menjadi sesuatu yang perlu dilakukan dengan baik. Mari mengakui, peran komunitas dalam menumbuhkan industri ini sangatlah penting. “Saya percaya, ini bisa menjadi kekuatan baru jika dikelola dengan baik. Perlu konsistensi dan dimulai dengan diri sendiri, bangga dengan budaya sendiri,” tutup perempuan yang pernah menjadi menteri perdagangan itu. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)