Ekonomi Melambat, Belanja Pemerintah Jadi Kunci

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi RI sepanjang kuartal II-2015 hanya tumbuh 4,67%, lebih rendah dari kuartal sebelumnya. Belanja pemerintah kini menjadi satu-satunya harapan untuk memutar lebih cepat roda perekonomian domestik.

“Andai sektor komoditas belum pulih, akselerasi belanja pemerintah adalah kunci untuk untuk mencetak pertumbuhan lebih tinggi di semester II-2015. Tapi, target pertumbuhan 5% saja sangat sulit dicapai dalam situasi ekonomi seperti sekarang,” kata Ekonom UOB, Ho Woei Chen dalam rilisnya.

Belanja masyarakat masih menjadi motor pertumbuhan ekonomi di tengah situasi ekonomi global yang belum menentu. Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk, Ryan Kiryanto menjelaskan, konsumsi rumah tangga masih akan menopang pertumbuhan ekonomi di semester II-2015.

“Konsumsi rumah tangga 56 persen, investasi 30%, belanja pemerintah 10%, ekspor- impor 4%. Ada kenaikan konsumsi karena Idul Fitri, banyak orang mudik dan berbelanja," kata dia.

roda ekonomi

Sepanjang kuartal II-2015, ekspor masih melemah meski tidak sedalam kuartal I-2015. Belanja pemerintah dan investasi tumbuh lambat. Impor terpuruk kian dalam sekaligus menunjukkan lemahnya permintaan domestik maupun internasional. Hanya konsumsi rumah tangga yang masih mampu bertumbuh positif.

“Pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2015 yang hanya 4,67% adalah yang terendah sejak kuartal III-2009. Namun, ini memang sejalan dengan ekspektasi pasar,” katanya.

Meski demikian, ia memerkirakan Bank Indonesia selaku penjaga inflasi dan nilai tukar Rupiah belum akan menurunkan suku bunga acuan (BI Rate). Pasalnya, laju inflasi masih berpeluang naik dalam jangka pendek dan Rupiah pun masih dalam tekanan. “Sulit melihat BI menurunkan BI Rate dengan pertimbangan menjaga aliran modal masuk,” katanya.

Dari data UOB, kurs Rupiah terpangkas lebih dari 16% sejak April 2014 lalu. Nilai tukar rupiah tercatat pernah menyentuh angka Rp 13.544 per dolar AS pada akhir Juli.

Dengan mempertimbangkan kebijakan normalisasi The Fed pada paruh kedua tahun ini dan pelemahan di sektor komoditas dan defisit current account, UOB memerkirakan kurs rupiah masih akan melemah ke level Rp 13.600 per dolar AS pada akhir tahun 2015. “Pada kuartal I-2016, kurs Rupiah bahkan bisa di posisi Rp 13.700 per dolar AS,” katanya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)