Faisal Basri: Energi Tulang Punggung Indonesia

FAISAL

Pemerintahan Presiden Joko Widodo menempatkan energi dan mineral sebagai mesin pertumbuhan. Sebelumnya, energi dan mineral telah menjadi promotor di Indonesia. Hanya saja belakangan, kedua komoditas itu justru menjadi masalah. Sejak 2012, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat disebabkan oleh terlalu besarnya impor energi, dan subsidi BBM yang menyebabkan Indonesia belum memiliki cukup uang untuk pertumbuhan ekonomi. Bagaimana langkah yang akan diambil oleh para pemain komoditas?

Faisal Basri, Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas, mengatakan bahwa energi merupakan tulang punggung Indonesia. “Apapun membutuhkan energi. Melihat industri migas dan tambang bukanlah sebagai kekayaan mineral atau kekayaan minyak, tapi juga ujung tombak pembangunan,” ujarnya. Pria kelahiran 1959 tersebut berharap adanya potensi untuk pembangunan kilang dapat menjadi bagian terbentuknya industri petrokimia yang lengkap.

“Tanggung jawab untuk mengingkatkan perekonomian pertambangan lebih dari 20% perlu dicatat. Hal tersebut berjalan secara bertahap. Dan memang saat ini harus ada pemahaman yang sama antara pemerintah dan pertambangan, bagaimana caranya mengembangkan ini semua untuk kepentingan seluruh masyarakat Indonesia,” ungkap Martiono Hadianto, Ketua Indonesia Mining Association.

Sammy Hamzah, Direktur Indonesian Petroleum Association, mengatakan bahwa kadangkala sebagai pengusaha industri migas dilihat seolah-olah tidak sejalan dengan tujuan pemerintah. “Perlu diwaspadai dengan harga minyak yang turn tentunya akan ada sikap lapang yang sifatnya tidak memenuhi. Akan terjadi perbedaan strategi. Tentu hal ini sebuah dilema dimana saya yakin pemerintah akan siap menghadapinya,” ujarnya.

Syamsu Alam sebagai Presiden Direktur Pertamina, mengungkapkan bahwa Pertamina sedikit berbeda. Pertamina membantu pemerintah untuk mengurangi impor dan meningkatkan produksi. “Kami bisa, tapi di satu sisi kami harus koorporasi diminta untuk selalu mencoba dan mencari jalan tengahnya. Efisiensi untuk tetap meningkatkan produksi dengan memperhatikan aspek-aspek finansial,” ungkapnya.

Sementara itu, narasumber terakhir pada acara Indonesia Outlook 2015, I Made Dana M. Tangkas, Direktur External Affair & Corporate Planning Toyota Motor Indonesia, mengatakan bahwa dalam pengelolaan kebijakan industri harus melihat beberapa faktor. Pertama, bagaimana perkembangan pasar, dan kedua terkait dengan produk penggunaan sumber daya alam. “Melihat secara khusus, bidang otomotif pasar ini berkembang terus sejak 2007, kemudian tahun 2012 sudah menembus 1 juta dan seterusnya. Sementara melihat negara tetangga, Thailand, sudah bisa berproduksi 2.5 juta dan seterusnya. Dengan melihat kondisi ini tentunya menjadi tentangan sendiri bagi Indonesia,” ujarnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)