Ekspor Kapal Laut Naik US$ 175 Juta Dorong Surplus Perdagangan November 2013

Kinerja perdagangan Indonesia cukup baik pada bulan November 2013. Neraca perdagangan mengalami surplus US$ 0,78 miliar. Ada sejumlah produk yang mengalami peningkatan ekspor yang cukup signifikan.

"Komoditas kontributor utama peningkatan ekspor di bulan November, tentunya terdiri dari lemak dan minyak hewan. Ini CPO (minyak sawit mentah)," terang Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan, di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (3/1/2014).

gita wirjawan kemendag

Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan, surplus perdagangan terjadi pada bulan November 2013 sebesar US$ 0,78 miliar. Itu dihasilkan dari surplus neraca non-migas sebesar US$ 1,97 miliar dikurangi defisit neraca migas sebanyak US$ 1,19 miliar. Secara kumulatif, selama Januari-November tahun lalu, neraca perdagangan tercatat masih defisit dengan angka US$ 5,6 miliar.

"Tingginya surplus di bulan November 2013 disebabkan oleh kinerja ekspor yang terus meningkat, sementara impor terutama impor non-migas mengalami penurunan yang cukup signifikan," terang Gita.

Ia menyebutkan, produk ekspor yang mendorong peningkatan ekspor pada bulan November tahun lalu, antara lain lemak dan minyak hewan/nabati dengan kenaikan 41,6 persen dan bahan bakar mineral dengan 14,7 persen.

Terkait kenaikan ekspor CPO, dia mengatakan ada dua variabel yang mendukung hal itu terjadi. Pertama adalah pemberlakuan harga patokan ekspor (HPE) yang berkorelasi dengan harga dari bursa di Indonesia. "Penggunaan bobot sebesar 60 persen dari bursa di Indonesia, sedangkan 20 persen dari bursa malaysia, dan 20 persen dari Rotterdam. Ini telah mengkristalisasi nilai," ucap Gita.

"Variabel kedua yaitu penguatan permintaan atau kebutuhan dari tiga negara besar: Tiongkok, India, dan Pakistan," ujarnya. Negara seperti Tiongkok dan India, kata dia, memang membutuhkan produk-produk, seperti CPO. Dan, seiring dengan pemulihan ekonomi di negara maju, seperti Amerika Serikat dan Jepang, permintaan terhadap produk-produk dari Tiongkok pun meningkat, sehingga berimbas pada peningkatan permintaan CPO dari Indonesia.

"Kalau Pakistan itu peningkatan volumenya sederhana, yaitu karena ditandatanganinya PTA (Preferential Trade Agreement) antara Indonesia dengan Pakistan, yang sudah diratifikasi beberapa bulan lalu. Dan, ini sudah berjalan dengan baik sehingga Pakistan yang bukan hanya membutuhkan produk-produk kelapa sawit dari Indonesia, tapi Pakistan itu merupakan mulut untuk negara-negara di belakangnya, seperti Afganistan, Iran, yang juga sangat membutuhkan produk-produk kelapa sawit dari Indonesia," terang dia.

Bila melihat durasi waktu Januari-November 2013, produk-produk yang mengalami kenaikan ekspor, di antaranya kapal laut yang naik US$ 175 juta atau naik 23,6 persen secara tahunan, produk alas kaki naik US$ 305,9 juta atau naik 9,6 persen, dan pakaian jadi bukan rajutan naik US$ 131,1 juta atau naik 3,8 persen.

"Ini di tengah penurunan kinerja ekspor selama 2013, ekspor pakaian jadi dan alas kaki masih naik, masing-masing 3,8 dan 9,6 persen (yoy)," pungkas Gita. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)