Ekspor Negara-Negara di Asia akan Bertumbuh Seiring Membaiknya Pasar Global

Perdagangan internasional akan meningkat secara bertahap dalam waktu dekat ini dikarenakan outlook yang beragam dari pertumbuhan ekonomi global. Tingkat pertumbuhan perdagangan di negara berkembang masih lebih tinggi daripada di negara maju. Misalnya India yang diharapkan tumbuh ekspornya sebesar 14% pada tahun 2014-2016. Sementara dalam jangka tahun yang sama, ekspor Cina dan Vietnam diharapkan meningkat 15%, dan Indonesia tumbuh 10% (tapi ini disesuaikan dengan standar pra-resesi).

Ekspor-impor-500x334

Dalam jangka panjang, perekonomian negara berkembang diharapkan bisa menjadi pendorong proyeksi pertumbuhan perdagangan dunia sebesar 8% pada 2030, namun syaratnya faktor struktural untuk pertumbuhan ekonomi masih bagus. Prospek pertumbuhan jangka panjang di Asia Pasifik (kecuali Jepang) akan tidak terpengaruh dengan perlambatan ekonomi saat ini, sehingga total ekspor di kawasan ini diprediksikan tumbuh 10% per 2030.

“Banyak pasar di Asia mengalami kemajuan besar dalam kemampuan riset di dalam negerinya, baik melalui investasinya sendiri maupun efek pengaruh dari perusahaan multinasional. Pasar di Asia Pasifik harus mendukung bisnisnya untuk berinvestasi di R&D untuk memperbaiki rantai pasok dan meraih pangsa pasar global,” tutur Simon Constantinides, Regional Head of Trade and Receiveables Finance HSBC Asia Pasifik.

Untuk Indonesia sendiri, HSBC memperkirakan bahwa tekstil dan garmen akan menjadi produk unggulan ekspor Indonesia ke depannya. Apalagi jika perekonomian di AS dan Eropa sudah kembali pulih, yang mana Indonesia banyak mengekspor ke sana. “Kalau mereka pulih, maka pasar ekspor Indonesia akan lebih banyak ke high value added. Berdasarkan survei Oxford Economics, ke depan tekstil dan bahan kimia akan kuasai pasar ekspor Indonesia,” imbuh Nirmala Salli, Head of Global Trade and Receivable Finance HSBC Indonesia.

Negara yang akan menjadi tujuan ekspor utama Indonesia, dalam beberapa tahun mendatang, adalah Cina dan India. Hal ini disebabkan jumlah penduduk kedua negara itu yang sangat besar, sehingga tentunya jumlah kelas menengahnya membesar, dan itu menyebabkan permintaan barang dari Indonesia juga akan meningkat.

Adapun dari sisi impor, ke depan Indonesia masih akan tetap fokus mengimpor mesin-mesin, khususnya mesin-mesin industri. “25% dari total impor Indonesia masih terfokus di mesin-mesin, yang ini terkait fokus pembangunan infrastruktur. Jadi lebih ke industrial machinery dan high tech products. Kita lebih banyak mengimpor high tech products, seperti gadget, flat TV, komputer, dan laptop. Ke depan masih akan impor,” ucap Nirmala.

PDB Indonesia, kata Nirmala, masih akan terus tumbuh, yang mana pasti berpengaruh kepada peningkatan investasi asing yang masuk ke Indonesia. Di samping itu, kuatnya pasar lokal Indonesia terkait peningkatan jumlah masyarakat kelas menengah akan membuat investor yakin menanamkan dananya di Indonesia. “Itu yang menunjang pertumbuhan ekonomi kita tetap optimis. Ditunjang juga dengan pasar ekspor kita (yang akan membaik),” ujar Nirmala.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)