Ekspor Teh Harendong Tembus Rp 6-7 Miliar

Harendong optimistis nilai ekspor teh perusahaan pada 2017 bisa mencapai Rp 6-7 miliar, atau naik dari tahun ini. Kondisi ekonomi global yang masih melemah tidak mengurangi permintaan karena kualitas dan rasa teh yang telah teruji. Negara tujuan utama ekspor adalah Amerika Serikat, Jerman dan Jepang.

Pada 2013, nilai ekpor teh Harendong hanya Rp 308 juta. Namun, pada 2014 naik menjadi Rp 4 miliar. Pada 2015, ekspor turun drastis menjadi Rp 2,9 miliar dan tahun ini mulai meningkat kembali. Realisasi ekspor hingga saat ini mencapai Rp 5,5 miliar dari target Rp 6,1 miliar.

CEO Harendong, Alexander Halim mengatakan, indikasi peningkatan ekspor muncul setiap Harendong mengikuti banyak pameran, termasuk pameran yang didukung Kementerian Perdagangan.

Teh Harendong lebih unggul dari teh produksi negara lain, seperti kualitas keorganikannya sudah teruji, termasuk rasa. "Kami bisa prediksi akan terjadi peningkatan ekspor pada 2017," katanya.

teh-harendong CEO Harendong, Alexander Halim

Setiap tahun Harendong mengirim sekitar 6 kontainer teh ke luar negeri. Satu kontainer berisi sekitar 5 ton teh. Jerman paling banyak memesan, rata-rata 3-4 kontainer atau 15 ton per tahun.

Sisanya, dikirim ke Starbucks di AS dan satu ton untuk Jepang. Untuk produk andalan ekspor, setiap negara mempunyai pilihannya sendiri. AS, misalnya, teh hitam, Jerman teh oolong, dan Asia teh hijau.

Di Asia, Harendong mengekspor ke Malaysia, Thailand (Toyo), Jepang (lewat ItoEn), dan Korea Selatan. Di Eropa, Harendong mengirim ke Jerman lewat Tea Geschwender, JF Scheibler. Di AS, dikirim untuk Starbucks dan Teavana.

Harendong juga berencana mengekspor ke Perancis, Inggris dan Belanda. Mereka tengah mencari distributor. Ini karena banyak konsumen yang ingin membeli dalam bentuk kiloan (20-30 kilogram) yang harga pengirimannya bisa lebih mahal dari harga teh yang dibeli.

Distributor yang dicari diharapkan memiliki gudang di negara tujuan yang bisa menjadi middle man untuk pengiriman sesuai permintaan ke konsumen di wilayah lain.

Untuk menjaga pasar ekspor, Harendong terus menjaga kualitas produk, baik dari rasa maupun jenis produknya. Sekali-dua kali, produk yang kurang masih bisa dimaklumi, tetapi jika terus-menerus mengalami penurunan kualitas,  akan ditinggal buyer.

"Kami beruntung karena teh adalah komoditas yang bersifat tahan lama. Jika tahun ini tidak bisa terjual, masih bisa untuk stok penjualan tahun berikutnya. Karenanya, kondisi ekonomi yang melemah tidak berdampak langsung terhadap kinerja bisnis kami," ujar dia.

Harendong juga berencana menambah areal tanam guna menggenjot produksi. Harendong sedang dalam proses penanaman 30 ribu bibit teh dengan lahan seluas 2 hektare mulai Februari 2017 saat mulai musim hujan. Untuk itu, karyawan pun akan ditambah dari saat ini 170 karyawan.

"Produksi kami sempat anjlok hingga 30% pada 2015 akibat musim panas atau El Nino. Omzet kami saat itu turun sampai Rp 4,3 miliar dibanding 2014 yang sebesar Rp 4,9 miliar," jelas Halim. (Reportase: Syukron Ali)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)