Emirsyah Satar: Ini 6 Fungsi Utama CFO | SWA.co.id

Emirsyah Satar: Ini 6 Fungsi Utama CFO

Jabatan direktur keuangan adalah posisi strategis kedua setelah direktur utama di sebuah perusahaan. Pemilik atau pemegang saham tidak boleh sembarangan memilih orang yang duduk di sana. Emirsyah Satar melihat seorang CFO harus bisa mengelola aset, liabilities, dan shareholder equity untuk mendukung strategi bisnis. “Ia adalah partner CEO, mendukung visi CEO mau kemana,” kata mantan CEO Garuda Indonesia yang kini menjabat Komisaris Utama Mataharimall.com ini.

Menurut dia, seorang CFO tidak boleh hanya tahu plus-minus laporan keuangan atau income dan outcome keuangan. Tetapi, ia harus bisa memahami elemen bisnis perusahaan dan melihat jauh ke depan untuk menentukan kelangsungan bisnis perusahaan di masa yang akan datang. “CEO yang benar, tidak hanya melihat pada waktu dia menjabat saja. Tapi, lebih ke jangka panjang. Sustainability bisnis ke depan,” ujar dia.

Ketika CEO banyak melakukan investasi, tentu mengorbankan profitabilitas. Sehingga, mungkin saat itu hasil investasi baru bisa dirasakan oleh CEO berikutnya. Direktur keuangan harus mendukung hal tersebut. Suatu perusahaan biasanya punya rencana jangka pendek, menengah, dan panjang. “CFO tidak bisa berada di depan, tapi harus duduk sama-sama dengan CEO dan business unit mendukung bagaimana mengembangkan bisnis,” kata dia

emirsyah

Emir menjelaskan, CFO terbaik tak hanya menguasai teknik akunting, pembukuan, dan lainnya. Tetapi, juga keuangan korporasi untuk mendukung pengembangan bisnis ke depan. Misalnya, struktur permodalan yang dibutuhkan. “Pemegang saham ingin perusahaan besar, tapi modalnya kurang. Dia harus berani bilang, mengajukan solusi seperti mengambil dari pasar lewat IPO atau pemilik tambah modal,” ujarnya.

Seorang CFO juga harus pintar berkomunikasi dan mengelola hubungan yang baik dengan para bankir sebagai mitra pembiayaan. Di saat situasi bisnis tengah bagus ataupun buruk, komunikasi dengan mitra bisnis harus dijaga baik. Saat dirinya menjabat CFO Garuda Indonesia. Perusahaan saat itu sudah pailit karena utangnya mencapai US$ 1,8 miliar. Belum lagi, armada pesawat yang sudah tua, moral pegawai rendah dan sering demo. Perusahaan juga harus berjuang keras membayar gaji karyawan.

“Tantangannya, bagaimana menyelesaikan utang. Sebagai CFO, saya mendekati para kreditur, bagaimana menyelesaikan masalah ini. Para kreditur itu mitra, kita harus sama-sama duduk menyelesaikan masalah,” ujarnya.

Parahnya lagi, saat itu tahun 1998 tengah terjadi krisis ekonomi. Nilai tukar rupiah anjlok terhadap dolar AS. Jika para kreditur kesulitan menemui direksi di satu perusahaan, Garuda Indonesia justru sebaliknya. “Saya justru menemui mereka. Harus dihadapi apapun hasilnya. Paling tidak, kami tahu mereka melihatnya bagaimana” katanya.

Yang juga penting, seorang CFO harus punya banyak skenario. Mereka membuat stress test, misalnya untuk fluktuasi nilai tukar rupiah dan dampaknya terhadap biaya operasional dan keuntungan perusahaan. Hal ini bisa membantu CFO dalam mengelola cash flow dengan baik. Skenario itu juga harus diserahkan kepada CEO sebagai pengambil keputusan tertinggi.

“Dia harus buat test, jika nilai tukar melemah hingga Rp 15 ribu bagaimana kondisinya. Saya hafal setiap penurunan 1 sen dolar harga avtur per liter, biaya operasional Garuda berkurang Rp 17 juta per tahun. Kalau rupiah melemah Rp 100 terhadap dolar AS, beban biaya bertambah Rp 10 juta per tahun,” katanya. (Reportase: Herning Banirestu)

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)