Equine Technologies Group, Prioritaskan Pengembangan SDM dan Project Management

Hendra Kusumawidjaja, Eko Heryanto & Sutanto Tanuwijaya.

Di ranah bisnis teknologi di Tanah Air, nama Equine Technologies Group (Equine) sudah cukup dikenal. Perusahaan ini didirikan oleh tiga sekawan: Eko Heryanto (kini menjabat sebagai CEO), Sutanto Tanuwijaya (direktur), dan Hendra Kusumawidjaja (direktur). Mentor dari tiga sekawan ini adalah Kusnadi Sukarja, mantan Presdir PT Metrodata Electronics Tbk., yang juga komisaris dan ikut menanam saham di perusahaan ini.

Grup usaha ini berawal dari satu perusahaan dengan bendera PT Equine Global, yang secara resmi beroperasi pada 2011. Saat ini, sebagai grup usaha di bidang TI, Equine sudah memiliki empat operating company dengan jumlah karyawan sekitar 900 orang.

Pertama, PT Equine Global sendiri, yang membidangi IT consulting, yang mencakup IT strategic, IT operation, serta IT risk & security. Selain itu, Equine Global juga memiliki bisnis penyediaan aplikasi dan jasa ERP SAP (sebagai SAP Gold Partner).

Entitas bisnis kedua, PT Optima Data Internasional. Bisnis utamanya, penyedia solusi Oracle, mencakup beberapa aplikasi yang banyak diminati, seperti Oracle NetSuite, Oracle Fusion Cloud, Oracle Transportation, dan Customer Experience.

Entitas bisnis ketiga, PT Niagaprima Paramitra, perusahaan penyedia solusi dan layanan IT infrastructure, network & security. Seiring dengan perkembangan teknologi, Niagaprima juga menyediakan solusi cloud, machine learning, big data, Internet of Things (IoT), bahkan juga tengah menjajaki bidang blockchain.

Entitas bisnis keempat, PT Xsis Mitra Utama, yang bergerak di pengembangan SDM TI, antara lain melalui penyelenggaraan booth camp.

Berkat konsistensi kerjanya, Equine Technologies Group (ETG) telah berhasil mendapatkan beberapa penghargaan. Antara lain, SAP Innovation Partner of the Year 2017, Oracle Partner of the Year 2017 for ODP Cloud Application & HCM Cloud, dan Top IT Consulting 2015 Award dari Asosiasi Perusahaan Konsultan dan Telematika Indonesia (Aspekti).

Keberhasilan tiga sekawan itu sejauh ini bukanlah seperti rezeki yang turun dari langit. Banyak pengorbanan dan perjuangannya. Eko menceritakan, dalam membangun Equine mereka harus rela menggadaikan rumah mereka bertiga untuk dijadikan modal awal --yang total nilainya di bawah Rp 5 miliar.

Sebelum mendirikan Equine, Eko (kelahiran 1978) yang lulusan Teknik Informatika UBiNus punya pengalaman 11 tahun bekerja di perusahaan konsultan TI. Sutanto (kelahiran 1977) tidak berbeda jauh latar belakangnya; setelah lulus kuliah dari Teknik Elektro, sempat bekerja di perusahaan manufaktur teknologi, lalu berkarier di perusahaan konsultan TI yang sama dengan Eko.

Adapun Hendra, yang lulusan arsitektur, punya pengalaman lebih panjang. Selesai kuliah S-2 di bidang TI, ia bekerja selama 12 tahun di Microsoft, kemudian bekerja di perusahaan yang sama dengan Eko dan Sutanto selama dua tahun. “Barulah kemudian kami mendirikan Equine,” kata Hendra.

Sebelum mendirikan Equine, Eko meyakini bahwa bisnis teknologi tidak akan pernah turun, dan tidak ada bisnis yang bisa menghindari teknologi. “Proyek TI akan terus ada dan berkembang,” katanya percaya diri.

Namun, meski bisnis ini menjanjikan, menurut Eko, pengelolaannya harus hati-hati. Karena itu, ketika Equine didirikan, ada dua titik perhatian. Pertama, soal pengelolaan dan pengembangan SDM. Walau terdengar klasik, mereka sangat menyadari tanpa pengembangan SDM yang kuat, perusahaan TI juga akan sulit berkembang. Ia mengakui SDM TI dikenal tidak betah berlama-lama di satu tempat, walaupun remunerasinya menempati posisi lima besar. Selain keterbatasan jumlah SDM TI, perusahaan juga menghadapi masalah pembajakan SDM yang tinggi.

Itulah mengapa SDM menjadi perhatian pertama. Bukan sekadar memberikan remunerasi yang menarik, tetapi juga memperhatikan hal lainnya, seperti mengelola kompetensi, merancang model KPI, menyediakan jalur karier yang jelas, dan menyiapkan job desc yang rapi.

Karena SDM merupakan faktor penting, seiring dengan berjalannya waktu, Equine lalu mengembangkan anak perusahaan yang khusus mengembangkan SDM TI, bernama PT Xsis Mitra Utama. Kegiatannya adalah mengelola Xsis Academy dengan berbagai aktivitas booth camp.

Equine pun telah menggandeng 20-30 perguruan tinggi, untuk pendidikan vokasi di bidang teknologi ini. Untuk program pendidikan vokasi di bidang teknologi ini, Equine sudah menyelenggarakan 250 batch; per batch ada 10 mahasiswa yang berpartisipasi. Memang tak semua direkrut menjadi karyawan Equine.

Selain SDM, perhatian terbesar kedua perusahaan adalah soal pengelolaan aneka proyek melalui project management office (PMO). Dijelaskan Eko, untuk mendapatkan proyek TI mungkin relatif mudah. Yang lebih sulit bagaimana proyek tersebut terselesaikan, dan semua pihak bisa merasakan manfaatnya. PMO dibentuk agar bisa mengawal semua proyek dengan baik, timeline proyeknya tepat, dan layanannya bermutu.

Menurut Eko, perusahaannya tidak berbasis produk melainkan value for services. Equine kini memiliki total 1.500 pelanggan perusahaan (dengan 1.200 pelanggan aktif), mayoritas perusahaan kelas menengah. Namun, seiring dengan populernya teknologi cloud, Equine pun mengembangkan layanan untuk kalangan usaha mikro dan kecil lewat layanan cloud.

Ketika mereka memutuskan mendirikan perusahaan sendiri, tiga sekawan ini mengira akan dengan mudah menarik klien. Alasannya, mereka memiliki jaringan dan sudah lama berpengalaman di bidangnya. Namun, ternyata tidak. Klien lama masih bertanya-tanya, Equine itu apa. “Kami harus sabar dan persisten,” kata Hendra. Persistensi ini membuahkan hasil.

Eko menyebutkan, Equine mulai merasakan quantum leap pada periode 2014-2015. Adapun dua tahun awal dirasakan sebagai kondisi perjuangan luar biasa.

Dari sisi revenue juga terjadi pertumbuhan signifikan. Eko menyebutkan, pada tahun pertama, dengan klien 10-15 perusahaan, revenue-nya hanya Rp 3 miliar. Tahun kedua, naik berlipat menjadi Rp 20 miliar. “Kenaikan signifikan terjadi pada 2014-2015,” ujarnya. Hingga di tahun 2019 berhasil mencapai revenue sekitar Rp 300 miliar.

“Kami sangat bersyukur dengan roadmap visi 2020 yang menitikberatkan pada SDM dan PMO itu,” ungkap Eko. Dengan situasi yang tidak mudah, tahun ini ia tidak muluk-muluk menargetkan pertumbuhan revenue Equine paling tinggi 5%.

Eko mengaku hingga tiga tahun ke depan belum punya rencana khusus. Kecuali, menjadikan Equine sebagai knowledge-based organization, dengan benchmark perusahaan seperti Astra dan BCA. (*)

Joko Sugiarsono & Herning Banirestu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)