Erik Stern : Investasi Manufaktur Akan Tingkatkan Perekonomian

Keputusan pemerintah mencabut BBM bersubsidi merupakan kebijakan yang positif untuk perekonomian Indonesia. Dalam APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), Pemerintah memiliki ruang fiskal yang lebar untuk mengalokasikan pembiayaan proyek pembangunan yang memberi multiplier effect terhadap perekonomian nasional, misalnya pembangunan infrastruktur dan pendidikan. Untuk mengembangkan pertumbuhan ekonomi, pelaku usaha di Indonesia diharapkan bertransformasi menjadi perusahaan berbasis manufaktur dari sebelumnya mengandalkan barang-barang komoditas.

Erik Stren2_edit Erik Stern, Presdir Value Management International

Hal ini disampaikan Erik Stern, Presiden Stern Value Management, menanggapi tren perekenomian Indonesia di tengah pelambatan ekonomi global. “Saya menilai kebijakan pemerintah yang diputuskan tahun lalu itu adalah keputusan yang cerdas karena anggarannya bisa dialihkan ke pembangunan infrasruktur, pendidikan dan hal lainnya,” kata Stern saat dijumpai SWAOnline, di Hotel Keraton, Jakarta pada Rabu (18/3/2015).

Menurutnya, subsidi BBM hanya menguntungkan orang yang berkantong tebal. “Subsidi BBM tidak bisa dinikmati orang miskin karena mereka tidak mampu membeli mobil,” tambahnya. Selanjutnya, Stern melihat penguatan dollar Amerika Serikat terhadap rupiah memberi sisi positif kepada industri berbasis ekspor.

Saat ini, kata Stern, harga barang-barang komoditas global masih belum pulih lantaran permintaan barang komoditas masih melambat, semisal crude palm oil (CPO). Produsen komoditas global yang berorientasi pasar ekspor memang dapat mencetak kinerja yang lebih baik lantaran penguatan dollar tersebut. “Faktanya harga komoditas dunia masih turun dan tampaknya masih akan belum membaik kondisinya hingga beberapa periode yang akan datang,” tutur Stern.

Mengacu data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) , harga CPO global pada bulan kedua di tahun 2015 belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Harga rata-rata CPO global sepanjang Februari 2015 bergerak di kisaran US$ 625 – US$ 705 per metrik ton. Harga rata-rata CPO pada Februari hanya naik 1,4%, menjadi US$ 678,5 per metrik ton daro US$ 669,4 per metrik ton pada bulan sebelumnya.

Adapun, harga harian CPO global di dua pekan pertama pada Maret ini terus menunjukkan tren penurunan. Harga pada awal Maret di US$ 708 per metrik ton terus tergerus menjadi US$ 650 per metrik ton pada akhir pekan kedua. GAPKI memperkirakan harga CPO hingga akhir Maret akan cenderung bergerak di kisaran harga US$ 630 - US$ 670 per metrik ton.

Untuk itu, Stern mengusulkan pemerintah dan swasta berinvestasi untuk mengembangkan industri yang mampu memproduksi barang-barang bernilai tinggi. “Jadi, produknya tidak mengandalkan barang komoditas. Seharusnya, Indonesia gencar berinvestasi untuk memproduksi produk bernilai tinggi yang berkualitas, seperti manufaktur. Contohnya seperti yang dilakukan Tiongkok yang berinvestasi di sektor manufaktur,” katanya.

Menurut pengamatannya, transformasi perekonomian di Tiongkok tumbuh pesat sejak tahun 1989 hingga 2007. Ia menyarankan pelaku bisnis Indonesia dan global gencar berinvestasi di sektor industri manufaktur dan jasa. Pemerintah berupaya untuk meningkatkan investasi di semua sektor. Pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla berkomitmen memberi kemudahan berinvestasi kepada investor.

Melirik data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi penanaman modal asing (PMA) menunjukkan grafik peningkatan selama rentang 2012-2014. Investasi PMA pada 2014 mencapai Rp 307 triliun dan melebihi target senilai Rp 297,3 triliun. BKPM baru-baru ini meresmikan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) yang terpusat dan terintegrasi dengan daerah untuk mempermudah perizinan investor. (***)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)