Fadel: Konsep Minapolitan & Megapolitan Perlu Dilanjutkan

Pengembangan sektor kemaritiman yang dicanangkan pemerintahan Jokowi-JK patut didukung. Konsep minapolitan dan megapolitan yang dicanangkan pada era pemerintahan SBY layak dilanjutkan guna mendukung pengembangan sektor itu. Dengan komitmen yang kuat, ke depan bukan tidak mungkin kejayaan Kerajaan Sriwijaya bangkit lagi di Indonesia.

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Fadel Mohammad mengatakan, mengambil contoh di berbagai belahan dunia, pemimpin dan negara-negara yang mengedepankan sektor maritim akan lama masa pemerintahannya dan lebih berjaya kondisi ekonominya. “Saya lihat negara-negara maritim itu pemerintahanya panjang, seperti Kerajaan Sriwijaya, itu kalau lihat sejarah. Sudah seharunya Indonesia mengembangkan maritim yang kuat. Saya yakin Pak Jokowi berkeinginan menerapkan ini. Saya senang pemerintahan sekarang berkomitmen mengembangkan maritim, saya siap memberi masukan," ujarnya.

Salah satu masukannya adalah dilanjutkannya konsep minapolitan dan megapolitan yang sudah mulai dijalankan di eranya. Dua konsep itu nyaris tak tersentuh di era Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sharif Cicip Sutardjo. "Pak Cicip dengan format sendiri ingin membangun industri. Ini tidak salah, tapi gagal, bagaimana bisa membuat industi kalau barangnya atau bahan bakunya tidak ada. Yang lebih penting itu adalah bagaimana menaikan produksi ikannya dulu,” paparnya.

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Fadel Mohammad Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Fadel Mohammad

Melalui konsep minapolitan dan megapolitan, kata dia, produksi ikan bisa digenjot. Konsep minapolitan adalah memilih daerah tertentu untuk pengembangan jenis ikan tertentu, baik ikan laut maupun ikan darat. Contohnya, Riau dipilih sebagai sentra ikan patin, Boyolali sebagai sentra ikan lele. “Waktu itu, semua sudah saya atur, sehingga terjadi kenaikan produksi sebesar 335%. Sayang konsep itu tidak dilanjutkan, banyak juga yang kecewa," ujar dia.

Konsep selanjutnya adalah mega minapolitan yang mana mengandalkan laut sebagai sumber ikan dan sumber wisata. Kala itu, Kementeran Kelautan dan Perikanan (KKP) sudah mengaplikasikannya di Pulau Morotai yang luas pulaunya jauh besar dari Bali melalui kerja sama dengan Formosa, Taiwan. Formosa dipilih karena daerah basis perang dunia kedua itu memiliki jarak tempuh hanya 2,5-3 jam dari Formosa kw Morotai. "Waktu itu sudah disiapkan bersama Pak SBY, Keppres-nya bukan saja menyangkut wisata di Morotai tapi juga perikanannya," ujar dia.

Menurut Fadel, wisata layak dikembangkan karena dalam melihat laut tak cukup hanya melulu ikan. Potensi mina wisata (wisata bahari) di Indonesia sangat disukai wisatawan dunia karena Indonesia dilintasi katulistiwa. “Saya waktu itu sudah melakukan pemetaan, pulau-pulau untuk wisata ini, terutama yang dekat pesisir,” ujarnya.

Namun demikian, pengembangan sektor kemaritiman memiliki ambatan terbesar berupa kemiskinan nelayan. Dalam catatannya, ada 10.200 desa miskin di seluruh Indonesia yang masyarakatnya umumnya bermata pencaharian sebagai nelayan. "Keppres No 10 Tahun 2011 sudah menyiapkan langkah-langkah untuk mengatasi 10.200 desa miskin, tinggal dijalakan saja. Di sisi lain, untuk mengatasinya Kementerian Keluatan dan Perikanan (KKP) tak bisa jalan sendiri, tapi harus menggandeng Menteri Kesehatan dan Menteri Pendidikan dan juga pemda, karena laut tak hanya dikelola KKP," kata dia.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)