Fakta-Fakta Menarik Tentang Kelas Menengah

Topik kelas menengah masih menghangati beragam diskusi di Tanah Air. Kehadiran mereka mampu menggerakkan perekonomian lewat guyuran belanja yang mengalir dari kantongnya. Kelompok masyarakat dengan penghasilan sekitar Rp 4-17 juta per bulan itu (hasil riset Inventure) tumbuh pesat selama lima tahun terakhir. Itulah kenapa survey tentang kelas menegah perlu dilakukan. Mereka adalah pasar yang sangat menarik.

“Terlihat dari penjualan produk yang laris manis, mulai dari kuliner bernuansa hedonic, bercitarasa luar negeri, bisnis perawatan kecantikan dan kebugaran tubuh, produk fesyen bermerek, mobil berharga Rp 150-300 juta, sampai investasi, seperti properti. Permintaan yang besar untuk produk ini adalah indikator kelas menengah Indonesia terus bertumbuh,” kata Istijanto Oei, Pengamat Pemasaran dari Prasetiya Mulya Business School.

Menurut dia, kelas menengah yang didukung tingkat pendidikan tinggi tergolong unik. Warga kelas ini secara umum menginginkan produk yang bermutu tinggi tapi dengan harga yang terjangkau (high quality-affordable price/HQAP). Mereka juga tidak terlalu menonjolkan ego status sosialnya karena lebih mengedepankan fungsi. Inilah yang menjelaskan kenapa merek mobil seperti Avanza, Xenia, Terios, Ertiga, dan sejenisnya terus saja diburu.

“Pendidikan yang tinggi juga membuat mereka lebih sadar akan pentingnya kesehatan dengan membeli produk yang sehat atau mengunjungi layanan kebugaran. Mereka juga lebih melek teknologi dan informasi, serta menginginkan layanan yang instan atau cepat. Produk yang mereka cari juga harus mudah digunakan,” ujarnya.

kelas menengah

Dia yakin kelas menengah di Indonesia akan terus tumbuh. Dengan dukungan tingkat pendidikan yang baik, minimal lulus S1, mereka bisa masuk ke dunia kerja dengan posisi yang membuat perekonomian mereka meningkat tajam. Selain itu, banyak juga yang mendapat durian runtuh berupa warisan properti dari orang tuanya, mengingat harga properti saat ini telah meningkat berkali-kali lipat. “Otomatis daya beli mereka juga meningkat sehingga memacu pembelian barang-barang secara masif. Ini berita yang positif untuk perekonomian nasional,” katanya.

McKinsey Global Insitute (MGI), melalui laporannya yang berjudul The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential, mengungkapkan bahwa kelas menengah Indonesia memiliki potensi tumbuh menjadi 135 juta orang pada 2030 dari 45 juta orang pada 2010. Yang termasuk kelas menengah menurut versi MGI adalah penduduk atau kelas konsumen yang berpendapatan lebih besar atau sama dengan US$ 3.600 per tahun.

Sementara itu, Asian Development Bank (ADB) – yang surveinya banyak diacu oleh lembaga-lembaga di Indonesia – merumuskan kelas menengah sebagai kelompok masyarakat dengan pengeluaran US$ 2-20 per hari. Berdasar pada angka ini, menurut ADB, jumlah kelas menengah di Indonesia mencapai sekitar 134 juta (2010) atau sekitar 56% dari total penduduk Indonesia.(Reportase: Lia Amelia Martin)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)