Fesyen Merek Lokal Punya Sejumlah Dilema

Pemerintah berusaha mendorong masyarakatnya untuk mencintai produk dalam negeri. Akan tetapi, produk fesyen lokal sendiri tak leluasa berkembang seiring dengan kian derasnya gempuran dari produk asing. Geliat bisnis merek lokal pun terhambat oleh sejumlah kendala domestik.

Dicky Sukmana

Local brand di Indonesia banyak mengalami dilema," kata Dicky Sukmana, owner dari usaha fesyen Invictus, di sebuah acara seminar mengenai tekstil, di Bandung, Seni (7/1/2013).

Persaingan usaha fesyen lokal dengan merek global semakin sengit. Dengan berbasiskan produksi massal, merek global bisa memasang harga yang terjangkau. Apalagi, kata Dicky, berbagai merek asing kerap melakukan diskon besar-besaran. Kondisi ini lantas membuat konsumen berpikir dua kali untuk membeli produk dalam negeri yang dari segi harga bisa lebih mahal ketimbang produk impor.

Permasalahan tidak sampai di situ saja. Ia menyebutkan, pengusaha fesyen lokal juga harus menghadapi biaya sewa tempat dan pajak yang tinggi. “Saya kasih ilustrasi, tahun 2003, saya sewa tempat Rp 17 juta setahun untuk luas paling 25 meter persegi, sekarang harga itu sudah Rp 100 juta. Itu di tengah-tengah daerah strategis,” kata dia.

Sementara itu, bila pengusaha menaikkan harga produk, maka dikhawatirkan produk tidak akan laku lantaran semakin sulit mengimbangi harga merek global yang kian terjangkau. "Percepatan kenaikan harga produk sama rental tempat nggak seimbang," lanjut Dicky yang juga menjabat sebagai Creative Director di Marketbiz Media.

Masalah pembiayaan, masalah plagiat atau peniruan, dan kenaikan tarif dasar listrik juga termasuk yang menghantui pengusaha fesyen lokal. Kenaikan TDL pasti akan memberatkan pengusaha dalam biaya produksinya. Produk lokal pun rentan pembajakan. “Sering saya mengalami orang beli ke toko kami 5 pieces, tapi ketika dibawa ke daerahnya jadi berlusin-lusin,” terang dia.

Ia menyebutkan juga bahwa dasar permasalahan terletak di internal usaha. Menurut Dicky, pengusaha lokal kurang bisa mengatur usahanya dengan baik. “Jadi kami learning by doing semua, nggak pernah tahu cara me-manage staf yang besar,” imbuhnya.

Sebagai solusi, ia pun berharap agar merek-merek lokal melakukan regenerasi. Mulai tahun 2010, regenerasi sudah tampak dilakukan pengusaha fesyen lokal. Sekarang merek-merek lokal sudah mulai menggunakan konsep digital dalam usahanya. Dia juga berharap agar merek tidak hanya sekadar merek, tetapi kata dia, “Ya, brand dengan soul.”

Selain koreksi di internal perusahaan, Dicky berharap antarindustri di bidang tekstil pun bisa bekerja sama. Karena, pengalaman selama ini, industri fesyen lokal sering dipandang sebelah mata oleh perusahaan garmen untuk mendapatkan bahan baku tekstil yang berkualitas. “Kalau bule yang datang diservis bagus,” tuturnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)