Filosofi Hastabrata, Acuan Transformasi Sahid Jaya

Seiring dengan peningkatan pertumbuhan bisnis pariwisata di Indonesia yang terus meningkat, bisnis perhotelan pun seolah tak ingin ketinggalan. Populasi penduduk Indonesia yang  meningkat, begitupula dengan pendapatan perkapitanya, menjadi tumpuan utama industri hospitality ramai-ramai membangun cabang.

Menjawab tantangan supaya tak dibilang jalan di tempat, Sahid Jaya Hotel pun sigap menangkap peluang. “Kalau kami lihat, investasi di sektor perhotelan, setiap level bintangnya juga meningkat. Dan kompetitor kami juga makin agresif. Mereka membentuk kelas-kelas pasar tersendiri. Jadi tujuan utamanya adalah bagaimana kami mempertahankan brand Sahid ini,” terang Yudi Rakhmat Raharja, Direktur Operasional PT Hotel Sahid Jaya International Tbk.

sumber : bisnis-jatim.com Yudi Rakhmat Raharja, Direktor Operation PT Hotel Sahid Jaya International Tbk. sumber foto : bisnis-jatim.com

Saat ini Sahid Jaya Hotel sudah membangun 27 hotel di seluruh Indonesia. Sebagian ada yang milik sendiri, sebagian lagi merupakan operator bagi hotel lain. Hotel yang pertama kali beroperasi sejak tahun 1963 di Solo ini, mengakui bahwa saat ini secara branding memang sedang agak turun. Dari situlah Yudi menegaskan bahwa akan ada sejumlah transformasi untuk membenahi beberapa lini yang menghambat produktivtas tersebut. “Jadi visi kami adalah menjadi hotel yang mampu menumbuhkan kreativitas, inovasi, produktivitas SDM, dan yang paling penting adalah tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Itu yang menjadi kunci perbedaan kami dengan kompetitor kami,” terang Yudi.

Sesuai tagline Sahid yang tetap ingin mempertahankan culture agar menjadi ciri khas hotel, maka ada beberapa aspek yang menjadi fokus utamanya. Pertama, reformasi bisnis, yaitu Sahid hanya akan berfokus pada bisnis hospitality. Bisnis-bisnis lain akan ditinggalkan. Inovasi pada pembiayaan dilakukan dengan cara mengembangkan jaringan hotel dan condotel. Artinya hotel dan condotel di sini akan menjadi satu. Sahid juga berencana mengubah image kamar-kamar hotel yang sudah tua. Dari 2011-2012, Yudi menuturkan bahwa Sahid sudah menyiapkan pondasinya.

Kedua,  transformasi sumber daya manusia,  Sahid akan lebih profesional lagi. Penyiapan SDM rencananya akan dilakukan pada 2013-2015. Transformasi budaya kerja, yang sifatnya lamban pelan-pelan akan dikikis. Sementara internalisasi nilai akan dilakukan antara 2015-2015.

“Kami akan mengubah secara total organisasi dan SDM, walaupun sekarang kami juga sudah mulai mengubah itu. Dan tinggal landas akan kami lakukan rencananya paling lambat 2018-2021, yaitu organisasi modern yang berbasis kinerja,” ujar Yudi.

Untuk membangun dan memperkuat perubahan itu, langkah-langkah yang akan dilakukan adalah pemetaan terhadap kebutuhan dan kapasitas SDM. Yudi menekankan bahwa Sahid akan membentuk cluster leader, change agent maupun change leadernya. Change agent sendiri merupakan direksi yang turun ke level GM atau level manager. Filosofi Hastabrata juga benar-benar dipegang teguh. Hasta Bratha adalah kepemimpinan dimana sifat-sifat yang ada di dalamnya tersebut diambil dari alam, yaitu matahari, bulan, bintang, langit, angin, air, api, dan juga bumi.

Matahari (menyinari), artinya pemimpin itu harus menyinari. Bulan, pemimpin harus bisa memberikan penerangan. Bintang, pemimpin harus bersinar paling tinggi. Langit, bisa menyesuaikan dengan keadaan, dalam arti bisa terang bisa gelap. Angin, dalam arti pemimpin harus terasa pengaruhnya. Air, pemimpin harus bisa mengalir. Api, itu artinya kuat. Begitu juga dengan bumi, tempat berpijak. Filosofi inilah yang mendasari setiap transformasi yang dilakukan Sahid Jaya Hotel.

Kendalanya, menurut Yudi adalah belum siapnya seluruh komponen perusahaan untuk berubah. Tantangan eksternal, serta lingkungan bisnis kurang memberikan dukungan maksimal, apalagi bisnis perhotelan bersifat padat karya, dimana bisnis ini banyak tersangkut isu-isu perburuhan.

Upaya untuk membentuk change agent pun dilakukan dengan cara sinergi antara change agent dan karyawan. Tujuannya adalah menghadapai tantangan eksternal karena akan ada perekrutan tenaga profesional. “Yang tadinya lebih ke family basis, sekarang sudah banyak berubah, dengan merekrut tenaga profesional. Iklim keterbukaan yang dianut perusahaan, baik komisaris yang saat ini banyak dari pemilik, dengan dewan direksi, dan karyawan juga ada. dukungan dari stakeholder tentunya yang paling penting untuk mengubah ini semua. Program coaching & mentoring, strategic thinking oriented, communication sklill, dan budaya Sahid itu tetap kami tanamkan, karena itu yang kami lihat masih bisa kami jalankan dengan baik ,” tambahnya.

Hasilnya, tingkat hunian Sahid pun sejak 2007-2011 terus meningkat. Pendapatan meningkat, dan tarif rata-rata per kamar per malam juga meningkat. Per-2012 ini average per malam Rp 600 - 650ribu. “Secara kinerja nonfinancial, yang kami dorong adalah PT CMC-nya, tadinya hanya mengelola hotel yang milik keluarga, tapi sekarang sudah menjadi operator untuk hotel-hotel lain. Hotel milik sendiri hanya 15, sisanya hotel milik lain yang kami operasikan. Kurang lebih dengan itu semua, kami sudah mengelola 4000 kamar dan kami bagi grading atas hotel-hotel itu. Ada yang bintang 5, 4, 3, maupun yang budget hotel,” pungkas Yudi. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)