Forum RSPO Cina Rumuskan Minyak Sawit Berkelanjutan

Forum internasional yang membahas rantai pasokan minyak sawit berkelanjutan di Cina baru saja diadakan di kota pelabuhan Cina, Tianjin. Forum yang mengumpulkan berbagai macam perwakilan dari pemerintah, industri, dan LSM ini diselenggarakan bersama oleh Chinese Chamber of Commerce of Foodstuffs and Native Produce (CFNA), WWF Cina, Consumer Goods Forum (CGF) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Forum tersebut menyoroti berbagai upaya yang dilakukan oleh RSPO dan perusahaan anggota RSPO dalam memasyarakatkan produksi dan penggunaan minyak sawit berkelanjutan, dari hulu ke hilir di dalam industri minyak sawit.

Pada forum tersebut, Sekretaris Jenderal RSPO, Darrel Webber, mengatakan, perkembangan RSPO terkini dan peluang RSPO di masa depan, menekankan pada peran yang akan dipegang oleh Cina dalam mempromosikan minyak sawit berkelanjutan.  Dalam pidatonya, Webber mengatakan,”Cina merupakan fokus utama RSPO, dan China Sustainable Palm Oil Supply Chain Forum ini menyorot keinginan semua pelaku industri untuk mendorong agenda minyak sawit berkelanjutan di Cina. Isu-isu tentang sustainability mulai mendapatkan perhatian lebih khusus di Cina, sebagaimana tercantum dalam Rencana Lima Tahun yang ke-12 yang ditetapkan oleh Pemerintah Cina, dan RSPO berkomitmen penuh untuk memberikan kontribusi besar dalam mendukung usaha yang dilakukan oleh Cina”.

Peserta forum yang hadir mencakup perusahaan yang ada di seluruh rantai pasokan industri minyak sawit seperti grower, processor dan pedagang, produsen barang-barang konsumen dan retailer. Di dalam forum tersebut, para peserta saling berbagi wawasan dan mendapatkan informasi lebih jauh tentang komitmen strategis dalam mencapai minyak sawit berkelanjutan dari perusahan-perusahaan global seperti Unilever, Walmart, dan L’Oreal.

Salah satu pesan utama yang disampaikan dalam forum tersebut adalah dengan banyaknya perusahaan internasional di Cina yang memberikan komitmen global di dalam rantai pasokan industri minyak sawit, kini hanya masalah waktu saja sebelum Cina memainkan peranan penting dalam mengadvokasikan minyak sawit berkelanjutan dalam negeri.

Darrel menambahkan, ”Kami melihat begitu banyaknya perusahaan yang mengambil langkah terdepan dalam mengarahkan pasar menuju minyak sawit berkelanjutan, demi menjamin masa depan dunia. Yang menjadi inspirasi terbesar adalah sebagian dari perusahaan-perusahaan tersebut memberikan komitmennya bahkan sebelum kesadaran dan permintaan dari konsumen sepenuhnya terbentuk.Ini menunjukkan akuntabilitas korporasi yang patut diacungi jempol dari organisasi yang secara tradisional adalah organisasi komersial, dalam upaya-upaya menuju sustainability”.

Cina adalah negara importir minyak sawit terbesar kedua di dunia. Tahun 2011 Cina mengimpor sekitar 5,9 juta ton minyak sawit. Minyak sawit di Cina setara dengan sekitar 1,5 juta hektar perkebunan kelapa sawit, hampir seluas negara Israel. Permintaan minyak sawit di Cina diperkirakan tumbuh sebesar 10% setiap tahunnya, dan akan mencapai  8,6 juta ton pada tahun 2015 dan 12 juta ton pada tahun 2020. Cina juga merupakan negara konsumen minyak sawit terbesar ketiga di dunia. Sebagian besar minyak sawit digunakan di industri katering, pengolahan makanan, produk konsumen dan kimia.

"Seiring perjalanan RSPO menuju titik terpenting dalam upaya yang dilakukan oleh RSPO untuk melindungi area dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, mengatasi perubahan iklim dan deforestasi, serta permasalahan sosial di negara produsen, transformasi pasar di Cina akan menjadi milestone yang sangat penting. RSPO berkomitmen penuh untuk mendukung Cina melalui inisiatif-inisiatif strategis yang akan menempatkan Cina di garis terdepan minyak sawit berkelanjutan internasional," papar Darel dalam keterangan persnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)