Gambut Selamatkan Malaysia dari Ancaman Krisis Ekonomi

Kebijakan pemerintah yang melarang penggunaan lahan gambut untuk perkebunan atau pertanian perlu dikritisi. Apalagi sudah ditemukan teknologi dan metode yang mudah diterapkan. Bila tidak arif dan tergesa-gesa, pemerintah justru bakal mengalami kerugian beruntun: usai terbakar kemarin, malah kehilangan pendapatan negara dan bertambahnya pengangguran.

Sejumlah masukan dari pakar tentang pengelolaan lahan gambut mencuat dalam diskusi publik dengan tema “Mengelola Gambut dengan Aman dan Berkelanjutan” yang diselenggarakan di Jakarta, November lalu. Masukan tersebut setidaknya disampaikan Prof. Supiandi Sabiham, Ketua Himpunan Masyarakat Gambut Indonesia (HGI), dan Dr. Lulie Melling, Direktur Tropical Peat Research Laboratory Unit, Malaysia.

Ketimbang melarang pemanfaatan atau pun merestorasi, Supiandi mengusulkan agar lahan yang terdegradasi (termasuk lahan gambut yang sudah rusak maupun bekas terbakar), akan lebih baik bila digunakan untuk kegiatan perkebunan seperti kelapa sawit. Di samping pengembalian gambut perlu biaya besar, menurutnya, juga butuh waktu sampai 50 tahun. “Sedangkan jika dikonversi menjadi kegiatan pertanian dan perkebunan, hanya butuh lima tahun saja,” kata dosen IPB yang sudah banyak meneliti gambut ini.

Ia tak sependapat dengan tudingan yang cenderung menyalahkan lahan gambut sebagai faktor pemicu kebakaran lahan. Menurutnya, ketahanan lahan gambut terhadap daya bakar sebenarnya sangat tinggi. Dari satu hasil riset yang pernah ia pelajari, ternyata 90% kebakaran lahan justru karena faktor sosial kemasyarakatan. “Kebakaran bukan dipicu masalah teknis pengelolaan gambut,” katanya.

Lahan gambut Lahan gambut (Antara)

Dari data-data hasil penelitian, ia juga menepis persepsi miring bahwa industri sawit biang keladi perubahan fungsi, kerusakan gambut dan kebakaran lahan. Sebagai contoh soal tuduhan sawit penyebab penurunan kelembaban tanah. Dari penelitian tim IPB-CRC 2015 ternyata transpirasi kelapa sawit tidak lebih tinggi dari hutan maupun hutan karet.

Begitu juga tentang hubungan sawit dengan subsiden, flux CO2, maupun permukaan air tanah di lahan gambut. Semua menunjukkan fakta bahwa sawit di lahan gambut tetap dalam batas normal.

Fakta ini hendaknya memperkuat keyakinan yang lebih positif dan optimistik dalam melihat dan memanfaatkan lahan gambut. Berdasarkan data Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBLSDP 2013) luas lahan gambut 15 juta hektar terdiri dari 6,7 juta berada di kawasan hutan, lahan pertanian dan perkebunan seluas 2,2 juta hektar, Hutan Tanaman Industri seluas 1,6 juta hektar dan sisanya 4,4 juta hektar berupa semak belukar.

“Indonesia masih menyimpan potensi lahan gambut seluas 6 juta hektar yang lebih cocok digunakan bagi kegiatan perkebunan,” katanya.

Kendati demikian, pemanfaatan lahan gambut harus disertai pengelolaan yang baik. Menurut Supiandi, kuncinya terletak pada manajemen pengelolaan air dalam rangka mempertahankan tinggi muka air (Ground Water Level/GWL) di kedalaman tertentu. Perlu juga menjaga kandungan air dan kelembaban gambut di bagian atas muka air supaya dapat mempengaruhi stabilitas gambut.

Masalah pengelolaan air ini diperkuat argumentasi Dr. Lulie Melling. Dan yang tidak kalah penting, seperti succes story yang sudah dibuktikan di Malaysia, yaitu perlunya dilakukan pemadatan (compaction).

Serawak yang merupakan kawasan gambut terbesar di Malaysia (13% luas daratan) dapat terhindar dari kebakaran karena mempunyai teknologi pemadatan dan tata kelola air yang baik.

Dalam pandangan pakar gambut internasional ini, hutan gambut yang bersifat open access juga lebih mudah terbakar dibandingkan kalau ditanam kelapa sawit. Sebab kebun sawit di areal gambut akan dijaga kelembabannya.

Perlu lebih memahami gambut

Semua kebijakan yang kurang tepat diawali kurangnya pemahaman yang benar tentang gambut. Itu sebabnya, Lulie menyarankan perlunya dilakukan peningkatan pemahaman. Tidak kalah penting, perlunya dibangun komunikasi yang baik untuk membangun kesadaran publik serta meluruskan asumsi keliru mengenai lahan gambut dan kebakaran gambut. Untuk ini Malaysia gencar menyebarkan informasi melalui seminar, workshop, dan sosialisasi langsung ke petani dan masyarakat.

Di Malaysia, negara tetangga Indonesia sesama produsen minyak sawit, lahan gambut bisa digunakan untuk kegiatan perkebunan sawit. “Lahan gambut dapat diubah menjadi lahan perkebunan sawit melalui dukungan teknologi tepat dan efektif untuk memperoleh produktivitas tinggi dan mencegah kebakaran,” ujar Lulie.

Dengan pemanfaatan gambut, dari catatan Lulie, Malaysia memperoleh banyak keuntungan ekonomis. Kontribusi sawit dari segi pendapatan secara langsung mencapai RM 400 juta – RM 500 juta per tahun. Industri sawit pun, menurutnya, selain membuka banyak lapangan kerja, tiga kali berperan menyelamatkan Malaysia dari krisis ekonomi. Itu sebabnya, demi meningkatkan kontribusi ekonomi pemerintah Malaysia berencana menambah areal sawit menjadi 2 juta hektar. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)