Gastrofest 2016 Siap Majukan Industri Kuliner Indonesia

Makanan merupakan salah satu bentuk nasionalisme yang seringkali dipandang sebelah mata. Menurut Guruh Soekarno Putra, Dewan Pendiri Indonesian Gastronomy Association (IGA), makanan merupakan hasil dari kebudayaan. Oleh karena itu sejarah makanan merupakan bagian dari sejarah suatu bangsa.

Namun, masih banyak orang yang kurang menghargai makanan, terutama di industri kuliner sendiri. Oleh karena itu, Guruh dan Ery Erlangga, Presiden Direktur PT Dyandra Promosindo, akan menyelenggarakan acara Indonesia Gastrofest 2017 pada tanggal 21-213 Juli 2017 di Ice BSD, Tangerang.

gastrofest

Acara ini akan menyasar pelaku industri restauran, merchandise, privat dan corporate chef, hotel-hotel, komunitas lokal dan internasional gastronomy, Ecommerce dan komunitas pecinta gastronomy. Menurut Indra Ketaren, President IGA, kuliner merupakan sajian makanan sementara Gastronomy merupakan orang-orang pecinta makanan. Biasanya gastronomy memahami sejarah, latar belakang, dan bahan-bahan makanan.

Dalam acara ini ia berharap agar orang yang suka makan bisa bertemu dengan para profesional yang bergerak di industri ini. Acara ini, akan memamerkan makanan lokal dan internasional. Oleh karena itu, Ery bekerja sama dengan 80 pemerintah daerah yang akan membawakan 3 makanan lokal mereka. Selain itu akan dihadirkan juga makanan internasional dari kedutaan yang ikut berpartisipasi.

Ia juga mengajak kerja sama berbagai pihak seperti asosiasi franchise, Perhimpunan Hotel dan Restaurant Indonesia (RHPI), GAPMI untuk industri makanan dan lain-lain. Para asosiasi ini diharapkan akan mendatangkan buyer untuk acara B2B dan berbagai workshop.

“Para Asosiasi ini nanti akan bertemu dengan para penggerak industri kuliner yang membawa produk atau teknologi baru di bidang masakan. Selain itu, kami juga akan mengadakan workshop seperti gastrofest cookery yang menampilkan chef dari dalam dan luar negri,” jelas Ery.

Nantinya akan ada berbagai workshop dan kelas lain dengan jumlah maksimal 50 peserta perkelas. Para buyer dan seller bisa bertemu di acara gastro banquet pada jamuan dinner dan lunch yang dibatasi hanya untuk 100 peserta.

Dalam 3 hari, Ery menargetkan 7.500 pengunjung B2C. Dengan biaya masuk Rp 200.000 untuk setiap workshop ia mematok Rp 1 juta untuk masing-masing kelas. Namun, khusus untuk program copy right atau Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) akan diusahan gratis. “Kami ingin agar semakin banyak pemain di industri kuliner. Selama ini banyak masyarakat yang bergerak di industri kuliner, tapi belum mendaftarkan ke HAKI karena berbagai alasan. Oleh karena itu kami ingin mencoba membantu para pelaku industri ini,” tambah Ery.

Ia cukup optimistis bakal banyak pengunjung yang hadir di acara tersebut. Ia mengharapkan tingginya kunjungan dari pihak pelaku industri makanan seprti chef dan pemilik hotel untuk acara tersebut. Menurutnya, hall mampu menampung 10.000 pengunjung. Akan tetapi,  sampai saat ini pihaknya hanya akan menampung 7.500 pengunjung, sehingga suasana bisa menjadi nyaman.

Khusus untuk acara B2B, ia mengaku tak ingin membatasi jumlah pengujnung agar para pemain di industri kuliner semakin bertambah banyak dan bisa saling menjalin kerja sama yang lebih baik.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)