Gistex Fokus Kembangkan Produk Pakaian Dalam

PT Gistex akan fokus mengembangkan produk pakaian dalam (underwear) guna mempertahankan nilai ekspor. Tahun depan, ekspor perusahaan ditargetkan mencapai US$ 25 juta. Strategi perusahaan dengan fokus pada lini garmen khususnya produksi pakaian dalam bukan saja mampu menciptakan efisiensi, namun juga bisa menekan biaya (costing) dan langkah penawaran (offering) ke konsumen akan lebih atraktif.

Jeffery Montana, Marketing Executive PT Gistex, menjelaskan, upaya perusahaan untuk fokus pada pengembangan pakaian dalam sudah dirintis sejak lima tahun lalu. Kala itu, Indonesia sudah mulai tidak dilirik oleh pelanggan di luar negeri dan lebih condong memilih produk garmen asal China.

“Sejak itu, kami mulai berfikir untuk menawarkan produk yang kompetitif, kami mulai mendesain produk-produk yang kuantitasnya kecil, tidak kontinyu, dan tidak menganggu efisiensi kami. Kami fokus di produk underwear. Upaya ini ternyata mendukung langkah efisiensi, pendapatan garmen dalam dolar naik dalam lima tahun terakhir, karena itu kami ke depan masih akan fokus di underwear,” jelas dia.

gistex

Apalagi, pangsa pasar produk underwear di pasar ekspor juga cukup signifikan, sekitar 60%. Meskipun Indonesia memiliki kompetitor yakni Vietnam yang memiliki Perjanjian Kemitraan Trans-Pasifik (TPP), ceruk pasar masih terbuka.

“Untuk produk garmen kami memiliki strategi untuk fokus ke underwear guna mengejar efisiensi supaya bisa menekan costing dan offering ke konsumen lebih atraktif. Jadi, lini garmen kami fokus pada boxer dan underwear, harapanya kami bisa menurunkan cost kepada buyer di Amerika Serikat, sehingga kami tidak ketinggalan jauh dengan Vietnam yang memiliki fasilitas TPP,” kata dia.

PT Gistex berdiri sejak 1975 dan memproduksi kain tenun seperti T/C, katun, dan rayon dengan kapasitas produksi 1,2 juta yard per bulan. Gistex merambah pasar ekspor pada 1986 dan melakukan pengembangan produksi untuk dyeing, printing, dan finishing. Gistex melakukan modernisasi teknologi tenun dan celup pada 2011. Gistex bergerak di bidang tekstil dan garmen dengan konsumen seperti Zara dan H&M.

Ekspor Gistex mayoritas dalam bentuk produk garmen. Bahkan, di Timur Tengah, Gistex telah memiliki tiga merk sendiri yang sudah dipatenkan, yakni Fantastis, Euforia, dan Gistex. Merk di pasar tersebut dinilai penting karena ekspor Gistex ke Timur Tengah mencapai 34% dari total ekspor.

“Di Middle East, konsumen sangat branded oriented sehingga nama brand menentukan kesuksesan. Kami sudah patenkan produk sejak 10 tahun lalu dan banyak kompetitor Cina yang mengkopi namun sejak pertama kali launching sampai sekarang kami tetap bisa mendapatkan harga yang lebih baik,” jelas dia.

Jeffery Montana menuturkan, Gistex memang berupaya mencari market yang cocok dengan kondisi perusahaan, berbeda dengan Cina yang menawarkan produk dengan kualitas kurang namun harga murah. Gistex lebih menyasar kelas middle up seperti Uniqlo, Zara, H&M, dan semua brand Amerika yang rata-rata memang pelayanannya bertumpu pada kualitas, delivery juga cukup berat namun tidak sensitif terhadap harga sehingga harganya lebih bagus. (Reportase: Aulia Dhetira)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)