Great Leader, Kunci Transformasidi Telkom

Alex J. Sinaga Alex J. Sinaga, Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk

Leader is not just knowing all about leadership theory. Leader is about practicing it in daily life“. Demikian Alex J. Sinaga, Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk., selalu mendorong hadirnya great leader di perusahaan telekomunikasi terbesar negeri ini. Menurutnya, peran great leader sangatlah penting dalam melakukan transformasi bisnis yang sejalan dengan penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG).

Dari great leader akan lahir visi dan misi yang besar pula. Visi dan misi untuk mentransformasi bisnis. “Jadi, great leader merumuskan visi dan misi. Lalu, visi-misi mendorong people, dan people mendorong bisnis. Bisnis mendorong kultur, organisasi, dan proses bisnis,” kata Alex panjang lebar.

Karena itulah, Telkom memiliki leadership architechture, yaitu leader by heart dan manage by hand. Keduanya adalah pilar utama. “Dengan filosofi to be the best sebagai fondasinya serta prinsip to be the star dan practice to be the winner. Saya sendiri mengeluarkan suatu quote: leader is not just knowing all about leadership theory, leader is about practicing it in daily life. Makanya, kurikulum pengembangan leader kami lebih ke arah practicing, bukan hanya ada di kelas-kelas,” katanya menegaskan.

Alex menjelaskan, untuk merespons tantangan baru, pada 2006, visi dan misi Telkom berubah. Visinya menjadi: To be The King of Digital in the Region, sedangkan misinya: Lead Indonesian Digital Innovation and Globalisation. Dengan visi dan misi tersebut, strategic objective-nya adalah Telkom menjadi Top 10 Market Capitalization Telco in Asia Pacific by 2020.

Pada 2015, Telkom ada di posisi 12 di Asia Pasifik. Target kami masuk Top 10,” ujar Alex penuh semangat. Diakuinya, tidak mudah mencapai target tersebut. Pasalnya, pemain lain yang berada di posisi top 10 juga tidak berdiam diri. Mereka salip-menyalip. “Jadi, jika sekarang berhasil masuk Top 10 di Asia Pasifik, tentu membanggakan. Kami akan terus mempertahankan posisi itu,” lanjut Alex penuh semangat.

Telkom juga melakukan transformasi menuju telekomunikasi digital dan menjadi raja di regional. Alex mencatat, setidaknya ada tiga paradigma baru saat Telkom bertransformasi ke arah telekomunikasi digital. Yaitu, memperkuat bisnis digital; lebih ringkas dalam cara kerja dan organisasinya; serta customer experience. “Untuk itu, kami harus mendigitaliasi bisnis, diri sendiri, dan kultur yang mengadopsi digital,” ungkapnya.

Selain great leader serta visi-misi, pilar penting lainnya dalam melakukan tansformasi bisnis yang sejalan dengan penerapan GCG adalah people. “Komitmen Telkom adalah membangun great people,” ujar Herdy R. Harman, Direktur Human Capital Telkom.

Herdy R Harman, Direktur Human Capital Telkom

Menurutnya, CEO Telkom sudah menyampaikan bahwa kunci bisnis bukan teknologi, tetapi orang. Teknologi bisa dibeli, tetapi salah merekrut orang, habis semua. Lalu, apa yang dijanjikan kepada people yang masuk ke Telkom? Yaitu, Employee Value Preposition: dinamis, kreatif, dan lingkungan yang mendukung.

Dalam melakukan transformasi people, culture, and organization, ujungnya adalah bisnis akan ke mana, orangnya seperti apa yang dibutuhkan, dan ujungnya menyasar world class people and culture. “Semuanya harus terukur. Kalau tidak terukur, tidak bisa di-manage,” ujar Herdy. Jadi, ketika Telkom melakukan transformasi dari perusahaan telkom menjadi digicom (digital company), pihaknya sudah membuat master plan untuk mewujudkannya, bukan saja teknologinya tetapi juga kulturnya.

Transformasi belum selesai sekarang, kami masih terus improvement KPI (Key Performance Indicators), remunerasi, pola karier, kontrak manajemen. Kelak orang tidak hanya bekerja pada atasan langsung, tapi bisa bekerja buat siapa pun atau project-based. Itu butuh evaluasi tersendiri, orang dirangsang untuk kreatif,” kata Herdy. Untuk itu, Telkom membangun innovation lab dan startnya justru di Kalimantan. Sekarang, lab inovasi sudah ada di banyak titik. “Saat ini ada 30 tim dan ini terus berkembang seperti jamur,” katanya.

Lalu, bagaimana transformasi organisasi di Telkom? Menurut Herdy, transformasi di sisi organisasi: sebelumnya product centric model --anak-anak perusahaan Telkom memilih melayani pasar masing-masing, dan tidak terlihat adanya end to end show of customer-- menjadi customer centric model yang mengubah sesuatu yang bersifat produk menjadi experience untuk customer. Setiap customer segmen dilayani oleh Customer Facing Unit. CFU memastikan agar setiap customer mendapat pengalaman yang exellent dari layanan Telkom. CFU memastikan customer mendapat value yang optimal.

Transformasi di Grup Telkom terus dilakukan secara berkelanjutan untuk menjaga agar revenue, EBITDA dan net income pertumbuhannya triple double digit. Harry M. Zen, Direktur Keuangan Telkom, menerangkan, hingga kuartal ketiga 2017, Telkom membukukan laba bersih Rp 17, 92 triliun. Perolehan tersebut naik 21,7% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 14,73 triliun.

Adapun total pendapatan per akhir September 2017 mencapai Rp 97 triliun atau tumbuh 12,5% dari kuartal ketiga 2016 yang sebesar Rp 86,19 triliun dan EBITDA tumbuh 12,8% menjadi Rp 50 triliun dari sebelumnya Rp 44,38 triliun. Sebagian besar pertumbuhan tersebut berasal dari segmen Data, Internet & IT Service yang tumbuh 30,5%. Segmen Data, Internet & IT Service masih menjadi kontributor dominan pertumbuhan kinerja dengan menyumbang sebesar 43,8% terhadap total pendapatan perseroan.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)