Hendra Adidarma, “Inovasi Bisa Menjadi ’Kendaraan’ Melewati Krisis”

Dr. Hendra Adidarma Dipl. Chemiker adalah pemilik sekaligus perintis PT Propan Raya ICC. Di perusahaan yang didirikan tahun 1979 itu, sekarang dia menjabat sebagai presiden direktur. Dia meraih gelar Doktor der Naturwissenschaf dari Technical University of Stuttgart, Jerman pada 1973. Setelah mendapatkan gelar Sarjana Kimia dari FMIPA Universitas Padjadjaran, Bandung (1966), dia melanjutkan studi ke Chemiker of Faculty Technical Hoehschul Braunschweig, Jerman.

Saat ini, Propan Raya menjadi salah satu perusahaan cat terbesar di negeri ini, terutama di industri cat kayu, yang menguasai sekitar 60% pasar. Selain itu, perusahaan ini juga memproduksi dan memasarkan cat tembok.

Bagaimana Hendra membawa Propan Raya melewati masa-masa krisis dan pelajaran apa yang bisa dipetik dari krisis? Berikut ini petikan wawancara wartawan SWA, Arie Liliyah, dengan pria kelahiran Pemangkat, 1 September 1939 ini, ditemani anaknya, Kris Rianto Adidarma, yang kini menjabat sebagai CEO Propan Raya.

Bagaimana Bapak melihat krisis ekonomi akibat wabah Covid-19 ini dibandingkan dengan krisis ekonomi yang pernah terjadi sebelumnya?

Krisis saat ini berbeda dengan yang terjadi sebelumnya, seperti krisis 1998 dan 2008 yang merupakan murni krisis finansial. Krisis finansial masih dapat diatasi dengan berbagai instrumen pemerintah, tidak berjangka panjang dan tidak menyentuh ekonomi rakyat. Tetapi Covid-19 ini kan wabah yang menyentuh nyawa manusia. Aktivitas manusia terhenti dan itu berdampak ke semua sendi kehidupan. Banyak perusahaan bangkrut, karyawan banyak yang terkena PHK (pemutusan hubungan kerja), dan banyak pula yang kehilangan sumber pencarian.

Luar biasa sekali dampaknya. Seluruh dunia dan seluruh bidang terkena dampak pandemi Covid-19. Ekonomi menjadi mandek, sehingga memicu resesi. Akan tetapi, Indonesia masih lumayan bisa bertahan dibandingkan negara-negara lainnya, meski tetap mengalami penurunan ekonomi.

Pelajaran apa yang bisa dipetik dari melewati krisis-krisis sebelumnya?

Belajar dari krisis-krisis sebelumnya, bahwa inovasi bisa menjadi “kendaraan” untuk melewatinya. Jadi, memang pada dasarnya Propan Raya itu perusahaan yang sangat inovatif, yang sejak dulu sangat kuat dalam hal product development. Kami mendorong karyawan untuk menjadi kreatif dan inovatif. Inilah yang menjadi kekuatan Propan Raya sampai sekarang. Selain itu, Propan Raya sangat konservatif dalam mengelola cash flow. Utang perusahaan sangat kecil pada saat terjadi krisis 1998 dan 2008.

Jadi, pelajaran yang bisa dipetik, pertama, semua perusahaan harus berhati-hati dalam mengelola cash flow. Kemudian, hindari utang besar dari pihak luar.

Kedua, miliki core competency yang tinggi dan fokus. Kompetensi inti Propan Raya adalah product development. Dari situ kemudian tumbuh customer base yang loyal. Satu lagi, kami mempunyai SDM yang andal. SDM kami didorong untuk inovatif dan kreatif. Jadi, menurut saya, suatu perusahaan agar bisa sustainable dalam menghadapi krisis, salah satu syaratnya adalah harus punya core competance. Nah, itu kami jalankan sampai sekarang. Jadi, kami tetap optimistis menghadapi krisis.

Dan, sebuah langkah strategis yang sudah diambil Propan Raya adalah keputusan membangun pabrik bahan baku cat 20 tahun yang lalu, yakni dengan mendirikan PT Alkindo Mitra Raya. Bahan baku yang dibuatnya pun dikembangkan sendiri sesuai dengan kebutuhan customer, sehingga cat Propan memiliki keunikan dan ciri khas yang berbeda dibandingkan dengan kompetitor. Jadi, bahan baku cat bisa kami penuhi sendiri, tidak terus-menerus bergantung pada impor.

Untuk para pemimpin bisnis, ada masukan atau nasihat untuk mereka harus seperti apa agar bisa melewati krisis seperti ini?

Ini agak sulit ya, karena satu nasihat belum tentu fit buat semua pemimpin bisnis. Model bisnis beda-beda, bidangnya beda-beda, sehingga saya kira dampak yang dialami juga berbeda. Tetapi, satu hal yang bisa diimplementasikan oleh semua adalah pengelolaan cash flow secara hati-hati dan sebisa mungkin hindari utang.

Jadi, saat ini jalankan strategi bertahan dulu hingga akhir tahun. Sebab, tahun depan, kalau vaksin Covid-19 sudah ada, pemerintah sudah memperkirakan ekonomi bisa tumbuh sampai 5%. Karena itu, kami saat ini bersiap untuk menggarap peluang di tahun depan saat kondisi pulih.

Saya ingat di krisis tahun 2008, di mana nilai tukar US$ 1 sampai Rp 15 ribu, dan pelanggan kami adalah perusahaan-perusahaan mebel. Nah, saat itu mereka kebanyakan masih bergantung pada bahan impor, khususnya untuk coating, sehingga sangat terpukul dengan naiknya nilai tukar dolar AS tersebut. Lalu, kami mendapat penawaran untuk mem-back-up kebutuhan mereka. Untung Propan Raya saat itu sudah siap untuk menyuplai kebutuhan bahan untuk coating, sehingga mereka tetap bisa produksi dan ekspor.

Selain itu, apa lagi masukan atau nasihat bagi para pebisnis?

Indonesia harus lebih baik lagi dalam hal penguasaan teknologi. Anak-anak muda kita masih sedikit yang sekolah ke bidang enginering, padahal sumber daya alam kita sangat besar sekali, butuh teknologi untuk bisa mengolahnya. Kalau nggak, seterusnya kita akan selalu bergantung pada luar.

Bisnis Propan Raya sendiri selama pandemi kurang-lebih lima bulan ini bagaimana kondisinya?

Sejak wabah ini merebak, aktivitas kami sempat berhenti sekitar tiga bulan. Penjualan kami sempat turun, tetapi tidak terlalu tajam. Maka, tahun ini kami pun merevisi target penjualan hingga akhir tahun.

Dalam kondisi sekarang, yang paling penting adalah bagaimana bisa bertahan. Kalau nanti hasilnya bisa kembali seperti penjualan tahun lalu, itu sudah sangat bagus. Namun, memang saat ini kami lebih kepada menyiapkan untuk tahun depan. Kalau kondisinya sudah pulih, kami harus bisa bergerak cepat.
 
Kris Adidarma: Walaupun penjualan tergolong masih stabil, kami tetap harus merevisi target tahun ini. Namun, kami tetap optimistis bisnis tetap bisa jalan meski tidak tumbuh. Kami perkuat kanal penjualan diigital. Kami punya aplikasi yang memungkinkan customer bisa mencari dan memesan cat Propan, kemudian nanti dikirim ke alamatnya.


Jadi, saat ini energi dipakai untuk menggarap peluang di tahun depan?

Ya, kurang-lebih begitu. Saat ini energi kami dipakai untuk mempertahankan cash flow agar bisa terus berputar dan terjaga baik. Kami sendiri masih bisa mempertahankan karyawan, tidak ada pengurangan. Begitu juga dengan gaji, tidak ada pemotongan. Bahkan, THR (tunjangan hari raya) dan bonus tetap bisa kami bayarkan. Ini bisa bertahan karena kami jauh sebelum ini kan sudah memperluas jenis produk, terus inovasi, sertadan memperluas jaringan distribusi dan kanal penjualan. Jadi, saat krisis ini bisa saling menopang dan tetap bergerak.  

Adakah penyesuaian atau efisiensi dalam operasional bisnis selama krisis ini?

Kris Adidarma: Ya. Efisiensinya lebih pada kami mengurangi business trip, kegiatan atau event, misalnya seminar, corporate branding ke daerah-daerah. Hal-hal seperti itu yang kami skip dulu. Kalau soal payment ke karyawan, kami tidak ada efisiensi, tetap dibayar secara penuh hak-haknya, termasuk THR dan bonus.

Arie Liliyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)