HIPMI: Indonesia Harus Jadi China-nya Asia Tenggara

Dengan segala kekayaan alam yang dipunyai, Indonesia seharusnya bisa menjadi bangsa yang besar. Namun, kenyataannya, negara ini justru menjadi sasaran empuk, yakni sebagai pasar. Oleh sebab itu, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) mendorong agar Indonesia memainkan strategi menyerang atau ofensif.

Acara diskusi Indonesia Young Leaders Forum, di Jakarta, Rabu (20/3/2013).

Dalam acara diskusi Indonesia Young Leaders Forum, di Jakarta, Rabu (20/3/2013), Harry Warganegara Harun, Sekjen BPP HIPMI, mengatakan, bahwa sekarang ini, strategi yang dilakukan di Indonesia adalah bertahan atau defensif. Misalnya,  pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mengenakan SNI kepada produk-produk impor. “Label produk berbahasa Indonesia, kalau tidak, produk tidak bisa masuk. Ini kan gerakan defensif,” jelas Harry.

Strategi bertahan memang penting untuk mencegah masuknya barang impor dengan deras. Karena kalau tidak, pengusaha lokal bisa banyak yang gulung tikar. Akan tetapi, kata dia, strategi ini tidak bisa selamanya dijalankan. Indonesia harus bisa melakukan strategi menyerang atau ofensif. Mengingat, negara ini punya sumber daya alam yang mendukung untuk melakukan itu.

Harry pun mencontohkan bagaimana sejumlah negara di Asia Tenggara bisa melakukan spesialisasi untuk bisa unggul. Dulu Malaysia menanam karet tetapi sekarang beralih ke kelapa sawit. Thailand sebelumnya menanam kelapa sawit tetapi sekarang karet. “Mereka unggul di situ. Indonesia semua ada,” tegas dia.

Karena itu, menurut dia, Indonesia tidak bisa berdiam diri hanya dengan menjadi bangsa yang konsumtif. Negara republik ini harus bisa menjadi produktif dalam banyak hal. Apalagi, tahun 2015, negara-negara di Asia Tenggara harus menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Di mana mulai dari tahun itu, pergerakan barang, jasa, hingga sumber daya manusia menjadi lebih bebas diantara negara ASEAN. Misalnya saja, ia menerangkan, mahasiswa Indonesia tidak lagi bersaing dengan mahasiswa dari universitas lain di dalam negeri, melainkan dari universitas asing.

“Ujung-ujungnya kalau dari kami menyimpulkan bahwa kita harus mementingkan diri kita sendiri. Jangan dengan adanya ASEAN Community kemudian free trade, kita selalu kebablasan,” tegas Harry.

Sebagai wujud nyata mendukung Indonesia menghadapi tahun 2015, HIPMI sendiri akan melakukan diskusi-diskusi dengan sejumlah pemangku kepentingan, seperti birokrat, politisi, media, akademisi, hingga masyarakat umum. Setelah itu, HIPMI pun mempunyai acara besar yang akan digelar pada pertengahan April mendatang.

Yang jelas, ia menegaskan, para pengusaha muda berkeinginan agar Indonesia jangan puas sebagai negara konsumtif saja, tetapi juga harus menjadi bangsa yang produktif.  Ia pun menyarankan Indonesia harus mencontoh negara China. “China itu memang bukan dari bagiannya ASEAN, tapi bisa nggak Indonesia jadi China-nya di ASEAN dengan segala resources yang kita miliki,” tandasnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)