HM Sampoerna Terapkan Analisis Big Data Secara Nasional

Ketika membicarakan teknologi Big Data, industri yang paling diuntungkan adalah industri telekomunikasi dan jasa keuangan karena memang pada dasarnya memiliki basis data yang besar. Namun, PT. HM Sampoerna Tbk, yang notabene bergerak di industri FMCG (Fast Moving Consumer Goods), juga tak kalah  dalam memanfaatkan dampak positif implementasi teknologi Big data.

Head of Marketing Services & Strategic Planning HM Sampoerna Lisa Irawati mengakui, implementasi big data dalam departemennya mampu mendongkrak efisiensi operasional secara signifikan. “Kami bisa tahu titik-titik billboard mana yang paling berpotensi menarik perhatian viewer kita. Selain itu, divisi marketing pun bisa lebih cepat dalam mengambil keputusan,” katanya.

Ia menjelaskan, perseroan telah cukup lama mengimplementasikan big data untuk strategi pemasaran. Sejak tahun 2010, sudah diimplementasikan untuk menunjang aktivitas dalam out of home advertising. Misalnya, untuk melihat ribuan titik di seluruh Indonesia yang sudah kita tempatkan billboardnya.

“Kami menganalisa untuk mengetahui mana titik-titik yang paling potensial. Kami sudah melakukan tapi masih konvensional dan lama. Hingga satu tahun belakangan implementasi big data di sana,” ungkapnya.

Prosesnya, sambung dia dimulai dari mengakuisisi berbagai data seperti data trafik, demografi, internal sales, volume, serta point of interest (POI). Di setiap kota, biasanya yang menentukan ramai atau tidaknya itu seperti misalnya ada tidaknya pasar, terminal, tempat-tempat umum dan lainnya. Perseroan mulai mengimplementasi big data analytic sejak awal tahun 2014 hingga diimplementasikan di 6 kota besar pada kuartal III-2014 dan secara nasional mulai Januari lalu.

Lisa Irawati, Head of Marketing Services & Strategic Planning PT HM Sampoerna Tbk Lisa Irawati, Head of Marketing Services & Strategic Planning PT HM Sampoerna Tbk

“Data tersebut kemudian dianalisis dengan teknologi yang tepat sehingga bisa menghasilkan manfaat yang sangat fundamental untuk menunjang aktivitas bisnis. Data ini bisa dimanfaatkan, mulai dari head office sampai 67 kantor cabang dengan total 700 karyawan,” katanya.

Dampaknya yang paling terasa, Lisa menambahkan, adalah meningkatkan efisiensi operasional. Sehingga, proses pengambilan keputusan juga bisa dilakukan lebih cepat dan hasilnya tentu saja jauh lebih optimal. Waktu yang berlebih sering digunakan untuk membahas strategi perseroan ke depan. Ke depan, perseroan akan mendorong semua level karyawannya untuk bisa menerapkan teknologi ini.

“Ini salah satu dari sekian kultur yang mesti diubah. Faktanya, kehadiran solusi big data seolah menjadi validasi bagi mereka. Kami buka data tentang demografi, habitual behavior, data penjualan brand dan lain-lain dan melihat respon mereka. Akhirnya, mereka bisa percaya fakta yang disajikan data tersebut,” katanya.

Menurut Lisa,  data di HM Sampoerna memang tidak sebesar perusahaan telko, banking, dan industri jasa keuangan lain. Namun, variasi data di perusahaan afiliasi Phillip Morris ini sangat besar. Total ada sekitar 2.000 data dari 20 sumber yang harus dikelola. Itu belum termasuk data dari 10 jenis kanal promosi, yang terdiri dari data transaksi, demografi, data penjualan, dan lainnya.

“Sebelumnya, kita pusing bagaimana mengintegrasikan data tersebut satu sama lain. Setelah menggunakan big data, kami bisa menghitung lebih cepat,” tandasnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)