Holding BUMN Penerbangan, AP II Tunggu Instruksi Pemerintah

Pembentukan holding diyakini mampu mendongkrak kinerja BUMN. Itu sudah terbukti di holding BUMN semen yakni PT Semen Indonesia Tbk. Namun, ide holdingisasi ternyata belum bisa diwujudkan untuk BUMN sektor penerbangan, yakni AP I dan AP II. Direktur Utama AP II, Budi Karya Sumadi mengatakan, holding akan menjadikan layanan lebih terintegrasi dan operasional perusahaan pun akan lebih efisien.

Selanjutnya, negara yang akan diuntungkan karena pendapatan BUMN meningkat. Namun, pembentukan holding mesti dipersiapkan dengan matang, terutama untuk pucuk pimpinan holding yang harus memiliki kapasitas yang prima dari segi wawasan, kebijakan, dan juga jaringan.

“Tentu, harus ada kualifikasi dalam pembentukan holding tersebut, baik secara personal maupun kelembagaan. Ini juga memakan waktu lama karena tentu ada pihak-pihak yang merasa terganggu dengan holding ini,” ujarnya.

Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Budi Karya Sumadi Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Budi Karya Sumadi

Hanya saja, lanjut dia, ia belum mendapat instruksi dari Kementerian BUMN soal rencana pembentukan holding di sektor penerbangan. Sejak ditunjuk menjadi Dirut tiga bulan lalu, Budi masih fokus membenahi internal perusahaan agar kinerjanya semakin baik.

Perseroan juga belum pernah menggelar pembicaraan dengan manajemen AP I soal rencana holdingisasi BUMN. Perseroan juga tengah fokus mengembangkan terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang ditargetkan selesai pada akhir tahun 2016.

“Nilai investasinya mencapai Rp 6 triliun, yang diambil dari kas internal dan kombinasi pinjaman perbankan dan obligasi. Untuk pembangunan landasan terminal 3, kami mendapat bantuan dari Penyertaan Modal Negara sebesar Rp 2 triliun,” katanya.

Budi menjelaskan, program penguatan kinerja BUMN juga bisa dilakukan lewat sinergi yang saling menguntungkan. Selain meningkatkan jaringan kerja yang akan meningkatkan pangsa pasar, sinergi BUMN juga akan meringankan program kerja yang diemban.

Negara juga yang akan diuntungkan karena beragam program pembangunan akan lebih mudah dilaksanakan dengan dukungan sejumlah BUMN. Sejauh ini, AP II telah bersinergi dengan BUMN lain di sektor konstruksi seperti Adhi Karya dan Wijaya Karya. Ke depan, sinergi lain seperti dengan PLN untuk ketersediaan listrik dan lainnya juga akan segera menyusul.

“Besaran investasinya untuk kerjasama ini tergantung dari proyek yang dikerjakan. Rata-rata Rp 100 miliar- Rp 1 triliun. Yang paling besar adalah proyek kelistrikan dengan PLN. Kami ingin meningkatkan pendapatan di bidang nonaeronautika sehingga porsi listrik banyak terserap,” katanya.

Sepanjang tahun 2014, AP II mencetak laba bersih Rp1,098 triliun, meningkat dibanding laba tahun sebelumnya Rp1,032 triliun. Sebesar 20% dari laba bersih 2014 atau Rp219,61 miliar diputuskan untuk dividen, sementara itu 80% digunakan untuk cadangan perseroan.

Alokasi penggunaan laba bersih tersebut telah mendapat persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham atau RUPS. Sebagai bagian dari upaya peningkatan kinerja, pada tahun ini perseroan melakukan pengembangan di sejumlah bandara yang dikelola.

Salah satu program utama, dari Grand Design Bandara Internasional Soekarno-Hatta adalah pembangunan Terminal 3 Ultimate. Hingga bulan ini progress pembangunan T3 Ultimate telah mencapai 76,21% atau lebih cepat dari perkiraan awal. (Reportase: Syukron Ali)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)