Holding BUMN Perkebunan Fokus Hilirisasi

Setelah proses konsolidasi PT Perkebunan Nusantara I-XIV (Persero) dengan pembentukan perusahaan baru (new company atau New Co) tuntas, industri hilir perkebunan menjadi fokus utama semua BUMN perkebunan di Tanah Air. Produk perkebunan tidak akan lagi dipasarkan dalam bentuk mentah atau setengah jadi, namun akan dipasarkan dalam bentuk produk akhir agar lebih bernilai tambah. Direktur Utama PTPN III (Persero) Bagas Angkasa mengungkapkan, strategi hilirisasi produk perkebunan sebenarnya sudah mulai diterapkan di masing-masing PTPN. Namun dengan konsolidasi, hilirisasi produk perkebunan menjadi strategi bersama dan menjadi fokus bisnis semua PTPN. “Nantinya, PTPN bukan saja menjual raw material, tapi sudah memiliki industri hilir. Masuk ke industri hilir ini sesuai arahan Presiden (Joko Widodo),” katanya.

bagas1 Direktur Utama PTPN III (Persero) Bagas Angkasa

Menurut dia, proses pembentukan perusahaan induk (holdingisasi) BUMN perkebunan sebenarnya sudah resmi dilakukan, Oktober 2014 lalu dengan PTPN III sebagai champion holding. Namun agar lebih pas, saat ini tengah digagas untuk membuat New Co guna menggantikan peran PTPN III. New Co tersebut nantinya bisa bernama Perkebunan Nusantara Holding dan gagasan tersebut telah disampaikan PTPN III selaku champion holding kepada Menteri BUMN.

Saat ini misalnya hampir semua PTPN menghasilkan komoditas sawit, artinya sawit menjadi komoditas utama PTPN. Ke depan, sawit akan diarahkan ke produk minyak goreng dan biodiesel. Komoditas utama lannya adalah tebu, nantinya akan diarahkan ke produk bioetanol. Demikian juga untuk komoditas karet akan diarahkan untuk produk ban sepeda motor. “Kami akan membuat kawasan industri untuk keperluan itu, rencananya akan menggunakan lahan milik Pupuk Kujang. Kalau untuk pabrik minyak goreng, malah sudah akan dimulai pembangunan pabriknya di Semangke dengan kapasitas produksi 600 ribu ton per tahun,” ujarnya.

Bagas menambahkan, sejumlah PTPN sebenarnya sudah memulai hilirisasi sejak lama, PTPN III misalnya, memiliki Kafe Rolas karena memang memiliki kebun kopi, teh, dan cokelat, juga strawbery. Bahkan saat ini pengembangan produknya diarahkan ke kopi luwak. PTPN VIII sudah mengembangkan teh Walini yang sudah dikenal, PTPN IX juga mempunyai Kafe Banarang, PTPN VI memiliki teh Gayo, dan PTPN IV memiliki teh Aroma.

Nantinya holding BUMN perkebunan juga akan memperkuat jaringan pemasaran, semua pemasaran ritel akan dijadikan satu. Perseroan akan membentuk tim marketing yang modern dengan menggandeng profesional di bidangnya dari perusahaan-perusahaan terkemuka. Ini untuk menunjukkan keseriusan holding BUMN perkebunan membangun bisnis hilir. “Untuk yang sudah ada, produk dalam kemasan, kami akan buat segmentasi dengan menyasar kelas menengah ke bawah. Gula kemasan akan kami buat premium seperti Gulaku, untuk gula kemasan di Makasar sebenarnya sudah membuat, Sumatera Selatan juga ada gula kemasan, tapi kami akan buat terstandar dan sesuai dengan selera pasar. Kami tidak akan head to head dengan yang besar-besar. Masuk ke pasar tradisional lebih diutamakan, ritel modern tidak menjadi fokus penjualan,” katanya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)