Holding, Skema Paling Teruji untuk Memajukan BUMN

Skema pembentukan perusahaan induk (holding) BUMN layak dilanjutkan di Indonesia. Skema itu bukan lagi sebagai wacana, namun sudah menjadi best practices dan teruji (proven) dalam memajukan BUMN di Tanah Air, di antaranya dengan terbentuknya PT Semen Indonesia Tbk (Persero) yang kini sukses menjadi pemain utama semen di tingkat regional. Presiden Direktur PT Semen Indonesia Tbk (Persero) Suparni, menuturkan, adanya penggabungan BUMN melalui skema holdingisasi akan memberikan manfaat terhadap semua BUMN yang bergabung, mulai dari efisiensi, best practices, nilai positif dan nilai untuk shareholder dan stakeholder.

“Ini merupakan best practices, bukan lagi wacana, tetapi sudah menjadi proven. Memang ada perbedaan antara sesama perusahaan yang digabung, tapi persamaan dan ekspektasinya untuk holding harus lebih besar dibandingkan perbedaannya. Dibandingkan dengan perbedaan secara individu, nilai perusahaan setelah holding akan lebih terasa manfaatnya,” ujarnya.

Suparni, Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk Suparni, Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk

Semen Indonesia yang merupakan transformasi dari tiga BUMN semen, yakni PT Semen Gresik, PT Semen Padang, dan PT Semen Tonasa, dengan Semen Gresik sebagai holding-nya telah merasakan manfaat dari holdingisasi tersebut. Dengan pembentukan holding, kemampuan perusahaan dapat di konsolidasikan, mulai dari fasilitas produksi, keuangan, pengalaman, pasar, bahan baku, network, dan pengetahuan. “Dengan holding, bagian-bagian yang penting dapat lebih fokus, misalnya investasi tidak perlu dilakukan masing-masing perusahaan, perusahaan tidak perlu membangun segala-galanya untuk dirinya sendiri, kalau alat bantu dapat dikerjakan di satu tempat kenapa tidak, tinggal nanti didistribusikan ke semua perusahaan,” katanya.

Suparni menuturkan, dengan holdingisasi nilai perusahaan juga menjadi lebih besar yang pada akhirnya lebih dilirik para customer, juga bisa melakukan riset dan pengembangan dalam skala yang lebih baik. Dari sisi pengembangan usaha, perusahaan bernilai besar juga lebih mudah melakukan hal tersebut. Jaringan pemasaran juga jauh lebih baik karena ada proses integrasi yang sangat memadai. “Contohnya dengan ekspansi Semen Indonesia ke Vietnam. Nama Semen Indonesia di sana kini sangat bagus, banyak sekali pengusaha di sana yang meminta kami untuk berinvestasi dan membeli pabrik mereka. Ini bisa terjadi usai holdingisasi berjalan sempurna,” ujarnya.

Konsolidasi atau pembentukan holding BUMN semen baru berjalan sempurna mulai 2005. Meski resmi diterapkan 1995, nilai atau value Semen Indonesia tak juga menarik buat publik karena memang proses konsolidasi itu sendiri tidak berjalan mulus. Pada 2002 misalnya, Semen Padang tidak mau mengirimkan laporan keuangannya. “Di 2005, kami mulai stabil dan konsolidasi kami semakin membaik, tetapi nilai saham kami saat itu masih sangat kecil Rp 1.850, namun seiring berjalannya waktu kami selalu mengalami kenaikan sampai di 2014 saham kami naik hampir 800% menjadi Rp 16.075, ini dapat dijadikan sebuah pelajaran yang baik untuk BUMN lainnya,” kata dia. (Reportase: Istihanah)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)