Holdingisasi, Garuda Hanya Fokus Bisnis Penerbangan

Maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia Tbk sepakat apabila dilakukan pembentukan perusahaan induk (holdingisasi) bagi BUMN penerbangan. Apabila kebijakan itu diimplementasikan, Garuda akan benar-benar fokus pada bisnis penerbangan (airlines business) dan bidang lain (non-airlines business) dikelola oleh holding company. Ke depan, memang harus dibuat semacam holding company apabila akan ada konsolidasi BUMN penerbangan. Dengan holdingisasi, kekuatan BUMN penerbangan akan menjadi lebih besar. Holding company bisa mengakuisisi perusahaan lain untuk memperkuat aset. “Jadi, ke depan masih harus dilakukan beberapa rekonstruksi organisasi. Dengan demikian, Garuda bisa benar-benar fokus di airlines bisnis,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia Arif Wibowo.

Menurut dia, sebenarnya sudah ada pembahasan dengan komisaris tentang kebijakan konsolidasi BUMN penerbangan. “Konsolidasi dengan BUMN penerbangan lain masih dalam proses. Konsolidasi baru dalam tahap penjajakan. Masih belum ada kepastian apakah akan berkonsolidasi atau tidak. Dari Garuda Indonesia sudah mencoba menjajaki, tapi keputusan ada di tangan pihak yang diajak. Sampai saat ini mereka masih belum memberi kabar apakah setuju atau tidak,” katanya.

Garuda Indonesia (Foto: IST) Garuda Indonesia (Foto: IST)

Saat ini, Garuda sebenarnya sudah layak menjadi holding company, hanya saja strukturnya masih perlu sedikit penyesuaian. Garuda sebagai airlines membawahi beberapa anak perusahaan, bahkan ada beberapa cucu perusahaan yang sektornya non-airlines. Meskipun demikian, fungsi dari anak dan cucu perusahaan tersebut mendukung ke bisnis Garuda. “Untuk bentuknya memang masih belum sempat dibuat holding company. Secara struktur organisasinya secara langsung dibawahi oleh airlines bisnis. Saat ini, kami masih recovery terlebih dulu di airlines bisnis. Namun pada saat yang bersamaan, Garuda akan segera membuat anak perusahaannya berkontribusi kepada induk perusahaan,” ujarnya.

Garuda tengah melakukan tahapan evaluasi untuk menuju holding company tersebut. Saat ini misalnya, maskapai penerbangan Citilink merupakan perusahaan yang terpisah tapi 100% dimiliki oleh Garuda, sehingga Citilink harus berkembang secara profesional mendukung induknya. “Citilink saat ini sudah mulai memberikan nilai positif kepada induknya setelah dalam tahap investasi selama dua tahun terakhir. Garuda juga berinvestasi untuk menjadi global player, baik untuk Garuda-nya sendiri maupun Citilink. Salah satunya strateginya adalah mengakusisi Gapura. Unit bisnis baru ini merupakan supporting function untuk Garuda,” kata dia.

Sepanjang kuartal I-2015, Garuda berhasil membukukan keuntungan bersih (net profit) sebesar US$ 12,4 juta atau meningkat 107,5% dari tahun lalu yang mana perseroan merugi sebesar US$ 166,2 juta. Per Maret 2015, Garuda berhasil meraih pendapatan (operating revenue) sebesar US$ 927,3 juta atau meningkat sebesar 13,4% dari periode sama 2014 sebesar US$ 817,4 juta.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)