IFC Dorong Warung Gunakan Pembayaran Digital

Pembayaran secara elektronik ternyata bukan hanya diminati oleh konsumen akhir saja, tetapi juga peritel tradisional, seperti warung. Mereka mendambakan bisa melakukan pembayaran digital ke pemasoknya. Dengan begitu, bisnis pun bisa menjadi lebih berkembang.

Demikian salah satu temuan dari studi yang dilakukan oleh International Finance Corporation (IFC) dan e-Mitra tentang ritel tradisional yang dilakukan selama bulan September-Oktober tahun ini, yang mencakup 800 peritel kecil dan mikro di delapan kota di Indonesia.

"Beberapa kesimpulan yang kami dapat dari studi itu (salah satunya) adalah adanya proporsi yang signifikan dari peritel kecil yang menjalankan bisnis secara profesional, bertumbuh dengan baik, tetapi tidak menggunakan jasa perbankan dan menggunakan instrumen pembayaran elektronik dalam membayar ke pemasoknya, tapi mereka menunjukkan ketertarikan dalam menggunakan teknologi baru untuk meningkatkan bisnisnya," ujar Ivan D Mortimer-Schutts, Senior Operations Officer Mobile Financial Services East Asia and Pacific IFC, di Jakarta, Selasa (17/12/2013).
ifc
Dia mengatakan, jumlah peritel tradisional, yang kerap disebut warung, cukup besar di Tanah Air. Ketika ditanya berapa jumlahnya, ia pun menyebutkan, IFC mengestimasi ada sekitar 2-2,5 juta peritel tradisional.

Mengutip sejumlah sumber, IFC memperlihatkan data bahwa peritel tradisional mendominasi dengan 80 persen dari penjualan ritel. Penjualan ritel yang dilakukannya mencapai US$ 137 miliar. Namun demikian, karena sifatnya yang masih tradisional, pembayaran ke pemasok pun biasanya bentuk tunai. Mereka pun mempunyai keterbatasan integrasi dengan pemasok atau bank untuk mengelola pembelanjaan, persediaan, dan pembayaran.

IFC pun berpandangan, tanpa teknologi yang kompatibel, peritel tradisional hanya mendapatkan sedikit keuntungan. Ivan menyebutkan, lewat pembayaran digital, peritel bisa mendapatkan manfaat secara langsung, misalnya mengatur penjualan dan persediaan secara efisien.

"Di banyak pasar di Amerika Latin, peritel kecil mulai menggunakan sistem yang menggunakan tablet (tablet based system), yang membantu mereka untuk meningkatkan performa penjualan. Tablet ini telah terintegrasi dengan sistem pembayaran," paparnya.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan riset yang dilakukan IFC dengan e-Mitra, cukup banyak peritel yang tidak menggunakan jasa bank. Beberapa alasannya, yaitu karena transaksi dalam bentuk tunai, lokasi bank yang terlalu jauh dari rumah, dan tidak suka mengantri di bank. Dan, temuan lainnya yang menarik adalah peritel tradisional tertarik untuk menggunakan pembayaran digital. Maklum, penggunaan perangkat canggih kini sudah menjamur.

Sejauh ini, terang dia, masih sedikit sekali peritel yang menggunakan pembayaran digital. "Hanya ada sedikit, mungkin kurang dari 200 ribu peritel. Itu yang kami sebut dengan ritel modern," ungkapnya.

Karena itu, IFC pun berupaya mendorong agar pembayaran secara digital bisa berkembang di tingkat peritel tradisional. Lembaga ini berpandangan, supaya peritel tradisional mau mengadopsi pembayaran digital maka diperlukan suatu standar yang diterima oleh pihak-pihak terkait. Dalam hal ini, IFC berperan sebagai katalisator. Harapannya, peritel kecil dapat dengan cepat mengecap manfaat dari pembayaran digital. Pihaknya pun sudah dan akan terus berkomunikasi dengan sejumlah pihak terkait, seperti dengan Bank Indonesia. "Kami berdiri di tengah-tengah," tandas Ivan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)