Iklan TV Masih Bertaji

Produk bagus tentu tak akan bisa bicara banyak jika tak diiklankan sehingga tak bisa menjangkau target pasar yang tepat. Televisi masih menjadi medium yang bagus untuk mengiklankan produk-produk terbaik perusahaan. Lain halnya dengan media cetak seperti koran dan majalah yang semakin sulit memperoleh iklan.

"Data Nielsen menyebutkan TV masih menjadi majority di Indonesia. Sebanyak 95% adalah pemirsa TV. Pengguna Pay TV pun naik. Disusul, pengguna internet. Koran, majalah, dan radio mengalami penurunan," kata Adji Watono, Founder dan Chairman Dwi Sapta Group.

Pada tahun yang sama, porsi belanja iklan di televisi secara nasional naik dari tahun sebelumnya menjadi 78%. Sementara, belanja iklan di koran dan majalah menurun menjadi di bawah 3%. Kenapa iklan di TV masih dominan? Itu semua karena membaiknya infrastruktur di Tanah Air.

Dengan adanya satelit, tayangan TV bisa menjangkau hingga daerah terpencil. Untuk menikmatinya, pengguna pun tak perlu membayar alias gratis. Lain halnya dengan pengguna internet yang harus mengeluarkan uang ekstra untuk bisa berselancar di dunia maya.

"Dibanding medium lain, TV masih jauh dan menjadi majority. Disusul, pengguna internet dan social media seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan lainnya. Tapi, pengguna media sosial tumbuh sangat cepat," kata dia.

Hingga saat ini, lanjut dia, Dwi Sapta Group masih menempatkan sebagian besar belanja iklan di TV, yakni 80%. Sisanya, disebar di koran, majalah, radio, internet, dan Pay TV. Meski begitu, para pengusaha masih menanti kepastian hasil Pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 19 April mendatang. Kedua pasangan calon yakni Ahok-Djarot masih bertarung memperebutkan hati para warga DKI dengan Anies-Sandiaga.

"2015 ke 2016, datanya naik. Kenaikannya mencapai 12-15%. Nah, 2017 ada kenaikan di Januari dan Februari. Tapi, kita belum bisa memerkirakan lebih lanjut karena semua tergantung infrastruktur, kondisi sosial, dan keamanan di Indonesia, terutama Jakarta karena 70% ekonomi ada di kota ini," kata dia.

Adji menjelaskan, perusahaan mesti jeli meracik iklan yang tepat untuk menjaring target pasar. Saat ini, konsumen semakin cerdas dan tidak terlalu mengutamakan iklan yang dibuat menarik atau tidak. Yang penting adalah produk tersebut mampu memenuhi kebutuhan konsumen sesuai kriteria mereka seperti usia, gender, status sosial, dan lainnya. Di sinilah pentingnya peran agensi iklan. Kehadiran mereka membantu para pengiklan menyasar target market yang tepat. Semua keputusan yang dibuat pun tidak asal bunyi, melainkan berbasis pada data.

"Kita tidak bisa dengan mudah memengaruhi orang lain tanpa data. Kami juga tidak bisa sembarang meletakkan iklan. Semuanya membutuhkan data. Rating masih menjadi patokan dalam beriklan sesuai data riset. Dari sana, data tV dipilah-pilah lagi mana program yang sekiranya tinggi dan cocok dengan produk yang akan diiklankan," ujar dia. (Reportase: Anastasia Anggoro Sukmonowati)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)