ILO: SCORE, Program Untuk Tingkatkan Kualitas UKM

Usaha kecil dan menengah (UKM) telah terbukti bisa bertahan dari krisis ekonomi. Namun demikian, UKM dinilai tetap rentan terhadap guncangan. Maka untuk membuat UKM bisa berdaya saing dan berkelanjutan, Organisasi Buruh Internasional (ILO) pun semakin gencar mengenalkan SCORE.

Peter van Rooij, Direktur ILO di Indonesia, di Jakarta, Kamis (1/11/2012), mengatakan, “ SCORE adalah program dari ILO untuk meningkatkan produktivitas dan kesinambungan UKM di Indonesia. SCORE merupakan Program Keberlanjutan melalui Usaha yang Kompetitif dan Bertanggung jawab.

Diterangkan Peter, ekonomi Indonesia tumbuh dengan baik. Pertumbuhan ekonomi bisa di atas 6 persen belakangan ini. Kondisi demikian memunculkan tantangan dan potensi. Potensinya adalah terciptanya lapangan kerja. Sementara tantangan adalah bagaimana meningkatkan produktivitas usaha yang ada, khususnya UKM.

UKM dibidik oleh ILO bukan tanpa pertimbangan. Usaha ini dinilai telah mampu bertahan dalam kondisi krisis. UKM pun disebut sebagai salah satu motor penggerak perkembangan usaha di Indonesia. Dalam kesempatan yang sama, Mudji Handaya, Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, pun berpandangan, lebih dari 60 persen ekonomi Indonesia didukung oleh kegiatan ekonomi UKM.

“Indonesia dengan format informal, belum terjebak dalam format yang formal, ternyata mampu sebagai buffer (penyangga) daripada ekonomi Indonesia di tahun 2009-2010, sehingga ekonomi masih tumbuh 4 persen," kata Mudji.

Sekalipun demikian, UKM bukan tanpa cacat. ILO melihat, usaha tersebut masih rentan terhadap guncangan. Misalnya saja, UKM mengalami kesulitan dalam mempertahankan keberlangsungan usahanya di tengah keberadaan perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China. Sebagai solusi, ILO lantas mengenalkan program SCORE kepada para UKM.

Program yang telah berada di 7 negara, termasuk Indonesia ini, bertujuan membantu UKM meningkatkan kualitas dan produktivitasnya, memperbaiki kondisi kerja, dan mengurangi kerusakan lingkungan. Program ini sudah mendapat dukungan dari kementerian terkait, seperti Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Asosiasi Pengusaha Indonesia, konfederasi serikat pekerja nasional, dan Yayasan Dharma Bhakti Astra.  Bahkan program ini dibantu pendanaannya oleh Sekretaris Negara untuk Bidang Ekonomi Swiss dan Badan untuk Kerja Sama Pembangunan Norwegia. Dana dari keduanya sekitar 1 juta dollar AS untuk tahun 2009-2013.

Di Indonesia, SCORE telah masuk sejak tahun 2010. Detailnya, pelatihan SCORE diadakan baik di ruang kelas maupun di tempat kerja UKM. Program ini terdiri dari 5 modul yakni kerja sama di tempat kerja, pengelolaan mutu, produktivitas dan produksi yang lebih bersih, pengembangan sumber daya manusia, dan keselamatan dan kesehatan kerja.

Januar Rustandie, Manajer Program ILO-SCORE, mengatakan, pelatihan diberikan bukan hanya kepada atasan, tetapi turut juga karyawan. Tak hanya sekadar memberitahukan teori, ILO juga akan memonitor kinerja UKM. Lembaga ini akan meminta data, seperti pertumbuhan produktivitas. “Bilamana ada masalah kita juga bisa mengetahui dan bisa mendatangi perusahaan itu untuk memberikan advise (nasehat),” tutur dia.

Jumlah UKM yang ikut serta pun terus bertambah setiap tahunnya. Tahun 2010 hanya ada 20 UKM. Bertambah menjadi 60 UKM pada tahun 2011. “Sekarang kita mau narik ke angka 100 lebih,” lanjut Januar.

Tidak hanya menargetkan jumlah UKM, lembaga ini pun akan terus menyasar provinsi-provinsi di Indonesia. Program ini sudah ada di beberapa provinsi, yakni mulai dari Jakarta, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, hingga Lampung. Ke depan, kata dia, ada rencana UKM akan juga diberikan akses ekspor. “Ini sekarang lagi dijajaki kerjasamanya dengan pihak Apindo,” tandas dia. (Ester Meryana)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)