INAPLAS Dukung Pengelolaan Sampah Plastik Lewat Circular Economy

Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS) menyambut baik upaya Pemda DKI Jakarta dalam mengelola sampah di Jakarta. Namun, niat untuk mengimplementasi Pasal 2, Peraturan Daerah No.3 tahun 2013 tentang Kantong Belanja Ramah Lingkungan dinilai terlalu memberatkan industri karena pemahaman terhadap pasal tersebut diperluas menjadi pembatasan pengunaan kantong plastik.

“Kami tentu saja mendukung penuh upaya Pemda DKI untuk mengelola sampah, namun pembatasan kantong plastik justru akan memperlambat pertumbuhan ekonomi daerah karena mematikan industri, terutama industri kecil dan menengah yang bergantung pada penggunaan plastik sebagai kemasan,” ujar
Budi Susanto, Wakil Ketua Umum INAPLAS.

Budi menjelaskan, banyak sekali upaya yang dapat dilakukan dalam pengelolaan sampah dari hulu ke hilir secara terpadu dengan turut serta mengajak konsumen untuk meningkatkan pemisahan sampah di sumber agar dapat didaur ulang. Dalam skala besar, banyak upaya pengelolaan sampah yang berguna yang telah terbukti efektif di luar negeri, seperti misalnya pengelolaan sampah menjadi energi atau listrik dan pencampuran sampah plastik pada pembuatan jalan aspal yang menambah stabilitas aspal.

Saat ini, konsumsi plastik kemasan di Indonesia masih jauh di bawah negara tetangga yang lebih maju. Di Indonesia, konsumsi plastik kemasan baru sebesar 15 kg/kapita sementara di Malaysia, Thailand dan Singapura, konsumsi plastik kemasannya sudah diatas 60 kg/perkapita. Di ketiga negara tetangga tersebut tidak ada larangan pengunaan kantong plastik, namun mereka fokus pada pengelolaan sampah yang baik dari hulu sampai hilir.

Konsep circular economy merupakan solusi dari pengelolaan sampah plastik. Konsep ini berfokus pada penggunaan barang-barang dengan maksimal dan mengubah barang-barang yang telah dipakai menjadi barang lainnya. Sampah plastik merupakan bahan yang dapat digunakan kembali, didaur ulang, ataupun
ditingkatkan efektivitas penggunaannya.

“Sebagai perwakilan industri, kami mendukung Pemda DKI untuk menerapkan konsep circular economy ini karena dampaknya yang lebih positif terhadap perekonomian daerah dan dapat menambah lapangan pekerjaan bagi masyarakat,” jelas Budi.

Saat ini, INAPLAS bekerja sama dengan para pelaku industri menerapkan Masyarakat Zero Waste atau disebut juga MASARO. MASARO, yang saat ini dikelola oleh Dr. Ahmad Zainal Abidin dari Institut Teknologi Bandung. Konsep pengelolaan sampah ini berbasis masyarakat, untuk mendapatkan insentif jika memilah sampah di rumah dan mengumpulkan sampah yang sudah terpisah ke bank sampah untuk diolah menjadi berbagai macam produk seperti bahan daur ulang, bahan bakar minyak, penguat aspal berbahan dasar plastik, pupuk, pakan organik dan media tanam.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)