Incar Arab Saudi, Rangkaian Pertemuan Bisnis Digelar

Pemerintah Indonesia tak henti-hentinya meningkatkan intensitas perdagangan dengan negara lain. Menyusul kondisi ekonomi Eropa dan Amerika Serikat yang belum jua membaik. Beberapa hari terakhir, sejumlah kunjungan dilakukan pemerintah ke beberapa negara di Afrika dan Timur Tengah. Salah satunya adalah Arab Saudi.

Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan (kanan, baju batik coklat)

Dengan negara yang terletak di Timur Tengah tersebut, Indonesia sudah mempunyai hubungan dagang. Arab Saudi tercatat sebagai negara tujuan ekspor yang ke-22, dengan neraca perdagangan Indonesia dan Arab Saudi mencapai US$ 3,99 miliar pada tahun 2011. Dan selama Januari-Oktober 2012, neraca perdagangan kedua negara sebesar US$ 2,67 miliar, atau turun 17,66 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Jika ditilik lebih detail, yakni mengenai ekspor non-migas, ekspor Indonesia di sektor ini terus bertumbuh. Sepanjang tahun 2007-2011, pertumbuhan ekspor non-migas mencapai 8,43 persen, di mana nilai ekspor tahun 2011 mencapai US$ 1,43 miliar. Sementara selama Januari-Oktober 2012, nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 1,5 miliar, atau naik 25,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Produk non-migas dari Indonesia yang laku dijual di sana, antara lain kendaraan selain kereta, kayu, kertas, dan man-made filaments.

Bukan hanya ekspor saja, Indonesia juga mengimpor sejumlah produk dari Arab Saudi. Pada bulan Januari-Oktober 2012, nilai impor Indonesia turun 5,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, atau tercatat senilai US$ 4,18 miliar. Produk impor utama Indonesia dari negara ini adalah mineral fuels and oils, kimia organik, produk plastik, wood pulp & waste, man-made filaments, dan miscellaneous articles of base metals.

Melihat perdagangan yang terjadi antara kedua negara selama ini, pemerintah pun berpandangan masih ada peluang untuk ditingkatkan. Di Jeddah, Arab Saudi, Senin (4/2/2013) waktu setempat, Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan RI, mengatakan, “Harapan kami, sektor perdagangan dan investasi kedua negara yang selama ini sudah berkembang dengan baik dapat terus ditingkatkan.”

Gita berharap, Indonesia dan Arab Saudi bisa menggarap peluang-peluang bisnis di sejumlah bidang. Apalagi, Indonesia masih mempunyai sejumlah produk yang potensial untuk dipasarkan di kawasan Arab Saudi dan Timur Tengah. Produk tersebut, antara lain produk elektronik, ikan olahan, busana muslim, makanan olahan, plastik dan produk plastik, serta furnitur. Bahkan, Arab Saudi pun membutuhkan jasa tenaga kerja terampil, di antaranya, dari sektor pertambangan, infrastruktur, kedokteran, juru masak, dan hospitality.

Jika potensi yang ada bisa digarap secara maksimal, nilai dan volume perdagangan maupun investasi kedua negara bisa meningkat. Dan defisit perdagangan antara kedua negara pun bisa semakin kecil. Maklum, menurut catatan Kementerian Perdagangan, neraca perdagangan tahun 2011 terjadi surplus bagi Arab Saudi.

Sebagai langkah nyata untuk meningkatkan perdagangan juga investasi, pihak Indonesia pun menggelar rangkaian kegiatan. Dengan didukung oleh Kedutaan Besar RI di Riyadh, KJRI Jeddah, dan ITPC Jeddah, Kementerian Perdagangan menyelenggarakan serangkaian kegiatan berupa forum bisnis, pertemuan one-on-one, dan pertemuan business to business.

Dalam forum bisnis, Gita memaparkan perkembangan makro ekonomi Indonesia, serta potensi dan peluang perdagangan kedua negara. Diharapkan informasi yang disampaikan pada forum bisnis tersebut dapat memberikan pandangan baru yang positif tentang Indonesia, sehingga mendorong investasi dan arus perdagangan bagi kedua negara.

Ia pun menjelaskan bahwa dalam kondisi pertumbuhan ekonomi yang melambat di negara-negara maju, motor penggerak pertumbuhan ekonomi global saat ini ditentukan oleh pasar negara berkembang dan pertumbuhan selatan. Pada tahun 2012, laju pertumbuhan ekonomi bagi negara-negara Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) sebesar 1,2 persen. Sedangkan bagi negara-negara BRIC (Brasil, Rusia, India, China) sebesar 3,8 persen.  Lalu, ekonomi Indonesia berhasil tumbuh sebesar 6,3 persen, sedangkan Arab Saudi tumbuh sebesar 6 persen.

“Forum bisnis ini sangat strategis karena sebagai bagian dari kerjasama Selatan-Selatan. Kedua negara akan memegang peranan penting dalam perekonomian dunia (dalam) satu atau dua dekade ke depan. Di samping itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mempererat hubungan perdagangan dan investasi kedua negara yang pernah memiliki sejarah hubungan politik dan ekonomi sebagai sesama negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI),” tambah Gita.

Selain itu, perlu diketahui pula bahwa selain rangkaian pertemuan yang telah disebutkan sebelumnya, terjadi juga pertemuan antara Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, dengan Direksi Islamic Development Bank (IDB) dan para CEO Arab Saudi. Pertemuan tersebut diharapkan menghasilkan butir-butir strategis bagi peningkatan peluang hubungan perdagangan dan investasi kedua negara. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)