Management Strategy

Indonesia Makin Dipercaya Dunia

Indonesia Makin Dipercaya Dunia

Krisis ekonomi tahun 1997 silam, diyakini banyak kalangan dari dalam maupun luar negeri, akan menenggelamkan Indonesia. Besarnya skala krisis, saat itu nilai tukar rupiah sempat mencapai Rp 16.000 per dolar AS. Namun, Indonesia berhasil selamat dari krisis. Pengalaman berharga ini juga yang membuat Indonesia bisa menghindar dari badai krisis kecil tahun 2008 lalu.

“Indonesia sekarang sudah lebih matang dan jauh lebih optimis. Dengan diberinya kesempatan sebagai tuan rumah World Economic Forum, sudah jelas negara-negara di dunia kian percaya dengan Indonesia,” kata John Riady, Executive Director Lippo Group di sela-sela gelaran World Economic Forum on East Asia di Jakarta, Senin (20/4).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil menambahkan, tantangan pemerintah Joko Widodo dan Jusuf Kalla saat ini jauh lebih sulit. Namun, sebagai negara besar dengan lebih dari 250 juta penduduk yang 60% diantaranya berusia di bawah 30 tahun, ia yakin Indonesia punya potensi besar untuk terus tumbuh pesat di tengah situasi ekonomi global yang masih banyak diliputi ketidakpastian.

“Indonesia punya sumber daya alam melimpah. Kami kini berusaha mengurangi impor dan memperbanyak ekspor. Produksi di dalam negeri ditingkatkan agar bisa memberi nilai tambah untuk negara dan masyarakatnya. Itu terlihat dari lebih dari 30 smelter dibangun untuk aluminium dan nikel agar bisa mengolah biji mineral di dalam negeri,” katanya.

Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil (tiga dari kiri). (Foto: World Economic Forum)

Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil (tiga dari kiri). (Foto: World Economic Forum)

Program lainnya yang juga menjadi prioritas adalah mendorong peningkatan kontribusi industri manufaktur untuk produk domestik bruto (PDB). Sejak 10 tahun lalu, kontribusi sektor yang banyak menyerap tenaga kerja tersebut terus menurun dari 28% menjadi 24%. Salah satu caranya adalah dengan cara menurunkan biaya tenaga kerja seperti yang telah berhasil diturunkan pemerintah Tiongkok.

Deputy Secretary-General, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), Mari Kiviniemi menilai reformasi struktural yang dijalankan pemerintahan di negara-negara kawasan Asia telah berjalan bagus. Itu terlihat dari banyaknya investasi yang datang baik dalam investasi langsung maupun portofolio. Meski begitu, ia mengingatkan tidak ada pekerjaan yang selesai dalam semalam.

“Pemerintah harus sabar, lalukan selangkah demi selangkah. Memang sulit, melakukan reformasi struktural. Tapi, lihat dampaknya yang sangat bagus untuk perekonomian dan bidang-bidang lainnya. Dengan cara ini, saya yakin para pemimpin Asia bisa mencetak pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Vice-Chairman, Asia Pasific and Country Chief Executive Officer, Credit Suisse, Jose Isidro Camacho menilai China masih akan mampu mencetak pertumbuhan lumayan meski melambat dengan tingginya konsumsi banyak orang kaya baru di Negeri Tirai Bambu. Mereka juga akan menggalakkan pembangunan infrastruktur untuk menciptakan 10-15 juta lapangan kerja baru, sekaligus menekan gelombang urbanisasi. “Ekonomi China terbukti lebih tahan terhadap krisis. Bank Sentral hanya menurunkan giro wajib minimum perbankan domestik,” katanya.


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved