Indosat-Pegadaian Garap Pasar Pemilik HP Tak Punya Rekening

Dari 250 juta penduduk Indonesia, 80% di antaranya tidak memiliki akses perbankan. Jumlah ini, dianggap sebagai suatu potensi yang bisa diraih oleh para pemain financial technology. “Banyak masyarakat tidak punya akses perbankan, tapi punya ponsel. Nah, ini yang harus dimanfaatkan,” jelas Alexander Rusli, Presiden Direktur dan CEO PT Indosat Tbk.

Alexander Rusli, Presiden Direktur dan CEO PT Indosat Tbk (tengah) Alexander Rusli, Presiden Direktur dan CEO PT Indosat Tbk (tengah)

Menurut Alexander, selama ini Indosat telah melayani kebutuhan transaksi keuangan masyarakat melalui layanan Dompetku dengan tiga platform. Pertama, Dompetku yang menempel dengan kartu Indosat. Kedua, Dompetku Nusantara yang menjadi platform untuk melayani laku pandai. Ketiga, Dompetku Pengiriman Uang (DPU) untuk transfer uang telco agnostic dan bank agnostic (layanan transfer uang independen tanpa terikat dengan operator telekomunikasi atau rekening bank).

Melihat tingginya jumlah masyarakat yang tidak menggunakan bank, ia pun tertarik untuk menyasar pasar tersebut melalui layanan DPU, karena kebanyakan masyarakat yang tidak memiliki akses perbankan adalah masyarakat kelas menengah ke bawah yang hidup jauh dari perkotaan, sehingga Indosat menggandeng Pegadaian.

Saat ini Pegadaian memiliki 7 juta nasabah dengan 4.455 outlet yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Pegadaian kini menjadi salah satu channel DPU yang sebelumnya telah memiliki 20.000 pelanggan tersebar di seluruh Indonesia.

Nasabah hanya perlu membawa KTP dan uang cash ke outlet Pegadaian terdekat. Di sana mereka akan mengisi formulir identitas. Setelah itu, pengirim uang bisa mengirimkan uang tunai dan akan diberikan nomor tertentu sebagai PIN yang bisa diberikan kepada penerima uang. Nantinya penerima, akan membawa nomor tersebut ke Pegadaian terdekat untuk mencairkan uang tunai. Penerima akan diverifikasi melalui data yang telah diberikan pengirim dan setelah menjawab beberapa pertanyaan verifikasi.

Ia mengklaim bahwa layanan tersebut dapat dilakukan real time dan tidak lebih dari 2 jam. Mengingat kelas yang disasar adalah menengah ke bawah, Alexander tak ingin memberikan harga yang tinggi pada pengguna. Setiap pengirim uang dikenakan biaya administrasi yang akan dibagi untuk Indosat dan Pegadaian. Biaya tersebut sebesar Rp 15.000 untuk nominal di bawah Rp 1,5 juta, Rp 20.000 untuk di atas  Rp1,5 juta dan Rp 30.000 untuk pengiriman uang Rp 5 juta ke atas.

Batas tertinggi pengiriman adalah Rp 25 juta sementara untuk batas terendah, ia mengaku tak memberikan batasan agar banyak masyarakat yang berminat mengirimkan uangnya melalui layanan tersebut. Layanan ini sudah mulai dilakukan sejak Juli 2016 dan hingga kini mampu mencapai 2.800 transaksi dengan total Rp 1,6 miliar.

Saat ini pihaknya belum menargetkan jumlah transaksi, tapi akan berfokus pada kenaikan jumlah transaksi. Selain di dalam negeri, pihaknya juga menyasar para pengguna transaksi non perbankan di luar negeri. “Kami tidak bekerja sama dengan negaranya, namun lebih kepada entitas yang memiliki cabang-cabang karena ini layanan cash to cash. Jadi untuk orang yang luar yang ingin mengirimkan uang ke orang Indonesia,” jelas Alexander.

Menurutnya, layanan ini kebanyakan digunakan oleh para freelancer yang tinggal di Indonesia untuk pembayaran gaji. Kedepannya ia menargetkan untuk menambah jumlah entitas yang diajak bekerja sama di luar negeri serta dalam negeri. Sudah ada beberapa pihak yang berminat untuk bekerja sama, tapi masih menunggu izin dari Bank Indonesia.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)