Industri Kerajinan Keramik Kurang Diminati

Tahun 2015 merupakan tahun yang paling penting bagi perkembangan ekonomi kreatif. Bahkan Badan Ekonomi Kreatif menyatakan di tahun ini, pemerintah mulai memperhatikan sektor ekonomi kreatif setelah di tahun sebelumnya tidak mendapatkan perhatian yang berarti.

Seni, merupakan salah satu pintu dari industri kreatif di Indonesia yang diminati di Indonesia. Sayangnya, peminatan tersebut tidak terjadi secara merata. Saat ini, Digital Art menjadi salah satu favorit baik dari segi industri maupun hobi. Namun di sisi lain, beberapa seni tradisional agak tertinggal untuk kembali digairahkan menjadi sebuah industri.

Karya F Widayanto-Fashion Adventure#2-640x427

Industri kerjainan keramik merupakan salah satu sektor kerajinan yang saat ini sedang lesu. Hal ini dikarenakan banyak yang menganggap berbisnis kerajinan keramik bukanlah suatu yang menjanjikan. Selain prosesnya dianggap rumit, saat ini nilai dari sebuah keramik seolah tidak dianggap tinggi. Hal ini disebabkan karena tidak adanya pemahaman mumpuni baik bagi para pengrajin keramik maupun masyarakat luas mengenai filosofi dari sebuah keramik.

“Dahulu, keramik memang dinilai sebagai sebuah benda yang memiliki value tinggi. Ia dipandang sebagai sebuah nilai tukar antar negara. Namun saat ini, terjadi pergeseran makna secara global. Ini disebabkan karena pergeseran pemikiran bahwa keramik, hanya sebatas dari harganya saja. Tidak memandang value dari sebuah keramik itu sendiri,” ujar F. Widyanto, salah satu perupa keramik di Indonesia.

Beberapa cara dilakukan untuk kembali menggairahkan industri ini. Salah satunya dengan membuka sekolah khusus seni keramik di berbagai perguruan tinggi Indonesia. Namun sayangnya minat terhadap bidang ini selalu kembang kempis dari tahun ke tahun. meskipun banyak sarjana kesenian yang diluluskan, hanya 5 persen dari mereka yang memilih hidup dari industri keramik.

“Dunia keramik membutuhkan pengenalan dan sebuah perjalanan secara menyeluruh. Diikuti dengan dedikasi total serta penyerahan diri secara mutak.,” lanjut Widyanto.

Saat ini, beberapa pengrajin memang masih bertahan di industri ini. Bagi mereka, industri ini tidak hanya menjanjikan dari sebuah materi, namun juga nilai kepuasan yang mereka dapat dari karya mereka. Keramik layaknya seorang manusia, yang diciptakan dengan membawa keunikan tersendiri, tergantung dari tangan si pencipta.

“Pengrajin keramik memang tidak meneriakkan slogan seperti yang dilakukan oleh sektor industri lainnya. Kami membuktikan eksistensi karya kami dengan beberapa cara seperti pameran. Di situlah kami membuktikan keberadaan kami, bahwa pengerajin keramik, masih bergulat menciptakan identitas sendiri bagi rupa keramik Indonesia,” tutup Widyanto.(EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)