Ingin Memulai Usaha? Ini Tipsnya!

Merintis sebuah bisnis mandiri di masa depan memang bukanlah perkara yang mudah. Tidak semua orang mempunyai keberanian untuk mengambil langkah ini karena terbatasnya pengetahuan dan modal usaha. Saat awal memulai suatu bisnis, kebanyakan orang hanya berfokus pada berapa modal uang yang akan diperlukan. Sebenarnya modal uang bukanlah hal yang utama yang harus dimiliki seorang untuk memulai sebuah bisnis

Irwanto Oentung, Presiden Direktur Pollux Kemang Superbloc, menjelaskan bahwa untuk memulai bisnis tidak semata dibangun dengan uang atau dana sendiri. Keahlian pertama yang harus diasah adalah kemampuan untuk memperluas networking. Dengan adanya komunikasi dengan menjalin hubungan dekat dengan pihak-pihak yng memiliki dana maupun info bisnis, kita dapat mengambil keuntungan berupa akses untuk prospek bisnis ke depannya.

PhotoGrid_1440468184064_resized_1

Kemampuan yang harus ditingkatkan lagi saat membangun suatu bisnis yaitu channelling. Hal ini berguna untuk mewujudkan prospek bisnis tadi melalui relasi-relasi yang telah dibangun melalui komunikasi. Menurutnya melalui dua kemampuan tersebut kita bisa mendapatkan modal yang bisa dikembangkan untuk membangun suatu bisnis.

“Satu hal lagi menurut saya yang penting sebagai seorang entrepreneur, yaitu mampu mengambil keputusan kilat. Karena apa? Barang bagus akan terjual cepat. Pada saat kita ditawarkan, harus segera memutuskan untuk mengambil atau tidak. Seperti peribahasa Tiongkok yang artinya: transaksi jual beli, harus segera, saat itu juga. Karena malam panjang, mimpi makin panjang, segala sesuatu bisa berubah. Di sinilah timing berperan,” tuturnya.

Sukses dibidang properti yang sudah dijalaninya sejak tahun 1990-an, Oentung menceritakan bahwa ketahanan mental juga sangat diperlukan untuk mengadapi persaiangan bisnis, melihat pengalamannya saat berada diposisi terpuruk, ia merasa banyak dihina orang. Namun saat itu, Oentung tidak pernah marah hal ini dijadikan semangat untuk terus berusaha dan bekerja keras untuk membangun bisnisnya menjadi besar. Dia memiliki keyakinan bahwa revolusi mental yang gencar diterapkan oleh pemerintah adalah salah satu kunci menuju mental entrepreneurship dikarenakan pembentukan mental yang fleksibel, kuat terhadap tantangan, suka bekerja keras dan kreatif.

“Selain itu, pengusaha harus memiliki ambisi besar. Belajarlah terus pada orang-orang sukses. Sampai saat ini saya masih sering bertukar pikiran dengan rekan-rekan bisnis yang sukses. Saya mengibaratkan bahwa bsnis ituerti air. Ditaruh di gelas berbentuk gelas, ditaruh di mangkok berbentuk mangkok. Maka perlu bersikap fleksibel dan tidak kaku, baik dalam perundingan maupun dalam pergaulan," tambahnya.

Menurutnya entrepreneur atau pengusaha adalah salah satu indikator kemakmuran negara. Dengan makin banyak pengusaha, maka makin banyak pula kegiatan bisnis dan lapangan pekerjaan. Makin banyak investor asing masuk membawa dana.Hal ini akan berdampak kepada rakyat yang makmur dan negara aman tenteram.

Saat ini di Indonesia, persentasi pekerja yang menjadi entrepreneur hanyalah sekitar 2%. Jumlah ini jauh dibawah negara Singapura (7%), Malaysia (5%), bahkan Thailand (3%). Apalagi dibandingkan dengan negara entrepreneur tinggi seperti USA (18%). (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)