Ini 5 Tantangan Anies-Ahok untuk Generasi Milenia

Masih banyak warga yang belum memiliki rumah di Jakarta. Apalagi generasi Milenia, berdasarkan data kependudukan Jakarta per 2015, setidaknya 30% atau 3 juta pemilih adalah golongan usia tersebut. Sesuai dengan isu demografi saat ini, milenial menempati jumlah cukup banyak, mereka sebagai pemilih di DKI Jakarta. Setelah ditelisik lagi, jumlah pemilih dari golongan milenial juga cukup tinggi.

Apalagi, saat Jakarta sedang menyeleksi pemimpinya untuk lima tahun ke depan, dimana pemilihnya adalah golongan milenial yang mayoritas berada di tengah-tengah. Pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta, para pasangan calon sudah bicarakan bagaimana memenuhi kebutuhan hunian bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), pekerja informal, dan golongan bawah lainnya. Sementara milenial Jakarta, kebanyakan adalah pekerja dengan penghasilan cukup, tapi belum mencapai tinggi. Kebanyakan tidak lagi masuk dalam kualifikasi MBR, namun juga belum mampu ajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pada umumnya.

Ignatius Untung Country General Manager Rumah123

Berdasarkan data Rumah123.com per Desember 2016, kaum milenial usia 23-37 tahun, 94%, kisaran gajinya di bawah Rp 12 juta, dimana hanya bisa mencicil rumah kurang dari Rp 3,6 juta/bulan. Ignatius Untung Country General Manager Rumah123 mengatakan, open challenge ini sengaja didengungkan untuk menarik perhatian calon Gubernur Jakarta mendatang terkait isu ini.

“Gubernur terpilih sudah seharusnya juga menyiapkan kebijakan yang bisa membantu para pemilih terbesarnya ini untuk bisa memiliki hunian, baik rumah tapak maupun apartemen,” kata Untung.

Untung menegaskan tantangan untuk calon Pemimpin Jakarta mendatang adalah:

1. Butuh waktu cukup panjang untuk menabun down payment properti bagi generasi milenial.

2. Cicilan per bulan tidak boleh lebih dari 30% dari penghasilan, karena membatasi pilihan properti yang bisa mereka beli.

3. Dengan begitu besar tantangan untuk memiliki property, besar godaan bagi milenial untuk membelanjakan uangnya padahal yang bersifat jangka pendek. Padahal, semakin mereka menunda, semakin mereka kehilangan daya beli properti.

4. Program dan fasilitas calon pemimpin daerah yang serba menarik juga akan semakin menarik banyak orang daerah untuk datang ke Jakarta. Pada akhirnya Jakarta menjadi kota tempat yang kuat dan kaya akan bertahan karena mampu membeli properti dan yanag tidak kuat akan tergeser.

5. Tersedianya properti dengan harga yang lebih terjangkau di kota sekitar Jakarta akan menambah panjang daftar masalah transportasi, karena akan banyak orang bekerja di Jakarta namun tinggal di kota-kota penyangga Jakarta.

Jadi, wajar jika siapapun yang terpilih sebagai Gubernur DKI mendatang, juga memperhatikan masalah kaum milenial, khususnya terkait hunian. Sayangnya, masalah yang dihadapi tidaklah sesederhana ingin punya hunian belaka.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)