Ini Dia Cara Startup Mudah Dapatkan Investor

Hadirnya startup yang terus bermunculan di Indonesia di satu sisi memberikan inspirasi semangat berwirusaha bagi anak muda. Namun, di sisi lain, selalu menjadi permasalahan utama soal permodalan. Sebagian besar para startup sulit mencari investor untuk mendanai bisnisnya agar cepat berkembang.

IMG-20160525-WA0023_resized_3

Menurut Ketua Asosiasi Modal Ventura Indonesia (AMVI), Andi Buchari, permasalahan yang pertama adalah keterjangkauan di mana 99,9% pelaku Usaha (UMK/Startup) hanya menerima 9,27% pembiayaan dari bank dan bank hanya menjangkau 7,7% UMK.

“Banyak sekali perusahaan kecil dengan prospek bisnis yang bagus terkendala dengan minimnya modal atau tidak memiliki akses perbankan,” ujarnya.

Hal ini dibenarkan oleh Riawan Paramarta selaku Digital Business Consultant, salah satu penyebab para startup sulit mendapatkan investor karena kurangnya sarana atau platform yang menjembatani bertemunya para investor dan startup.

Selain itu, para startup, banyak yang belum bisa melakukan pitching dengan waktu yang singkat, sehingga saat ada kesempatan bertemu dengan para investor, mereka belum mampu mengeluarkan ide-idenya dengan maksimal, akibatnya gagasan tersebut tidak ditangkap dengan baik oleh investor sehingga mereka tidak bisa memberikan dananya tersebut.

Ia berpendapat, di Indonesia harus adanya semacam market place permodalan untuk mempertemukan para di investor dan startup. Sehingga terlihat jelas orang yang mempunyai modal dan orang yang butuh modal untuk bisnisnya.

“Saya lihat selama ini , ada beberapa platform tapi belum mumpuni di bidang itu,” terangnya. Untuk itu, ada baiknya sang founder sebelum mendirikan perusahaan rintisan (startup) harus mempunyai bayangan bisnisnya ke depan akan seperti apa serta langkah-langkah yang akan dilakukan untuk mengembangkan bisnisnya.

Startup harus mempunyai finance plan yang jelas, mulai dari pitching hingga saat melakukan exit seperti apa. Kedua, para founder harus bisa bertahan, dalam startup ada istilah yang disebut burning rate. Ini merupakan suatu keadaan di mana suatu perusahaan sudah mendapatkan dana dan menghabiskannya dalam beberapa waktu, maka founder harus segera bisa mendapatkan pendanaan dari investor berikutnya sebelum dananya habis.

Selain itu, founder juga harus bisa mengelola bisnisnya secara keseluruhan dan berinovasi sehingga bisa mendapatkan pendanaan yang mencukupi agar bisa mengembangkan bisnisnya di market.

Andy menambahkan, modal ventura berpotensi besar dalam mendukung pengembangan bisnis dan bisa turut mendampingi lahirnya perusahaan baru. Menurutnya, IMV di Indonesia menunjukkan tanda menggeliat yang sangat mungkin menjadi sumber pendanaan baru yang diminati oleh berbagai industri kreatif yang tumbuh di berbagai daerah di Indonesia. Dengan syarat adanya dukungan regulasi dan kebijakan pemerintah.

Di sisi lain, founder juga harus bisa melihat kemampuannya hingga titik mana. Saat dititik krusial ia harus melakukan estafet kepemilikan kepada manager profesional ataupun diserahkan kepada pihak yang mempu mengelola bisnisnya tersebut, sehingga bisnis itu bisa berkembang. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)