Ini Keunggulan Layanan Hemodialisa RS Pondok Indah

Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) adalah rumah sakit berbasis teknologi yang diimplementasikan dalam setiap pelayanan kesehatannya, tak terkecuali hemodialisa (cuci darah). Rumah sakit ini bahkan mengimplementasikan prinsip single use, misalnya dalam menggunakan filter/dializer yang hanya dipakai sekali. Sehingga begitu selesai dipakai untuk satu pasien, maka tidak akan digunakan lagi untuk pasien yang lain.

Selain itu, aspek digitalisasi yang kemudian dirasa dalam layanan hemodialisa ini adalah bagaimana rumah sakit dapat membuat suatu medical record, yang terintegrasi dengan IT. Sehingga untuk memonitor keadaan pasien, mencari data riwayat pasien, tidak perlu lagi mengubek-ubek tumpukan kertas, cukup dengan mengakses data center. Dari sana bisa diketahui informasi yang dibutuhkan.

CEO RSPI, Dr. Yanwar Hadijanto mengatakan cuci darah atau terapi pengganti ginjal sebagian besar adalah rawat jalan. Frekuensinya rata-rata tiga kali seminggu dengan lamanya terapi sekitar 4-5 jam. Tahun ini, unit hemodialisa di RSPI mencapai 12 unit, meningkat pesat dibanding tahun lalu yang hanya empat unit.

“Dalam layanan HD, yang paling utama adalah efektivitasnya harus baik. Ini yang menjadi prioritas. Pasalnya sebagian besar yang di-hemodialisa di sini itu berlanjut lagi. Sehingga pelayanan harus seefektif mungkin yaitu dengan electronic medical record (EMR), serta berbagai peralatan yang berbasis teknologi mulai dari sistem dialisernya, sistem pengelolaan air, dan lainnya,” ujarnya.

 dr. Yanwar Hadiyanto, MARS (kanan) Chief Executive Officer Rumah Sakit Pondok Indah Group dr. Yanwar Hadiyanto, MARS (kanan) Chief Executive Officer Rumah Sakit Pondok Indah Group

Sebelum mendapatkan pelayanan hemodialisa, lanjut dia, pasien terlebih dulu berkonsultasi dengan Sp Penyakit Dalam KGEH (Konsulen Gastro Entero Hepatologi) untuk diperiksa apakah pasien boleh dihemodialisa atau tidak. Kemudian, pasien bakal melalui proses screening penyakit menular untuk mengetahui pasien memiliki penyakit menular apa saja dan risiko penyakit dan infeksi apa saja. Hal ini penting untuk menentukan apakah pasien akan di-treatment di tempat reguler atau memerlukan tempat khusus.

“Sebagian besar, harus cuci daerah seumur hidup karena ginjalnya sudah rusak. Pada sebagian kecil kasus, mereka yang dihemodialisa sekali, ada juga yang menjadi normal kembali. Pasien juga bisa memilih melakukan transplantasi ginjal, misalnya yang gagal ginjal kronis, agar tidak cuci daerah seumur hidup. Ada yang diterapi hanya untuk mengeluarkan racun 1-2 kali,” ujarnya.

Jika sudah terkena diabetes, Yanwar mengimbau pasien untuk rutin mengontrol kesehatannya, terutama cek gula darah serta mulai membiasakan diri menjalankan pola hidup sehat. Untuk meningkatkan pelayanan, RSPI memiliki EMR sehingga data pasien bisa diakses lebih cepat. Dengan teknologi tersebut, dokter bisa memantau tekanan darah pasien dari waktu ke waktu, termasuk riwayat penyakit, dan aktivitas medis yang telah dilakoni untuk mengetahui perawatan apa yang sesuai.

“Intinya, jika masih mencari record dari tumpukan kertas, itu sangat tidak efisien karena lama. Alat-alat penunjang juga menggunakan teknologi terbaru sehingga kualitas pelayanan lebih prima, karena lebih safety, lebih akurat, dan efektif. Kami juga menerapkan prinsip single use, seperti dializer itu hanya digunakan sekali. Dengan pertimbangan men-zerokan risiko pasien tertular dari pasien sebelumnya,” katanya. (Reportase: Fardil Khalidi)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)