Ini Penyebab Merger Bank BUMN Mandek

Rencana untuk menyatukan empat bank BUMN, yakni PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk belum terwujud hingga sekarang. Padahal, Indonesia membutuhkan satu bank besar untuk bisa meredam agresivitas bank-bank asing dalam menggarap pasar yang besar di Tanah Air. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Atma Jaya, A. Prasetyantoko mengatakan, tidak adanya kesamaan visi politik di pemerintahan sekarang adalah penyebab terbesar mandeknya rencana merger bank-bank pelat merah. “Kesulitan pertama, tidak sinkron antara BI (Bank Indonesia), OJK (Otoritas Jasa Keuangan), Kementerian BUMN, DPR, Kementerian Keuangan, dan Wakil Presiden (Jusuf Kalla),” katanya.

Untuk itulah, lanjut dia, Presiden Joko Widodo mesti segera merancang agenda besar. Usia pemerintah memang baru seumur jagung, namun presiden mesti menggali informasi sebanyak-banyaknya terkait konsolidasi bank-bank BUMN. Presiden juga harus mampu menjalankan kebijakan yang sedikit progresif. Di bank, konsolidasi bisa dilakukan dengan dua cara. Satu, bank BUMN dikumpulkan menjadi sebuah holding atau bank besar. Kedua, bank itu difokuskan saja. Misalnya, BTN sudah fokus di perumahan, BRI difokuskan ke UKM. “Kalau sudah, tinggal ditarik saja, sehingga tidak mengubah bank itu sendiri. Tetapi tetap ada otoritas di atasnya,” ujarnya.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Atma Jaya, A. Prasetyantoko Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Atma Jaya, A. Prasetyantoko

Faktor lain yang juga menghambat konsolidasi bank BUMN adalah resistensi dari jajaran manajemen bank. Kalau bank dimerger, nanti puluhan direksi akan kehilangan jabatan. Itulah kenapa banyak direksi bank yang menentang rencana ini. Meski begitu, pemerintah mesti berpegang teguh pada konsep holdingisasi, Indonesia Inc. super holding company yang memang sudah ada benchmark-nya di luar negeri, yang intinya mengarah ke perusahaan investasi. “Bank-bank asing itu tidak sekadar masuk ke Indonesia. Tetapi juga membeli bank di sini. Itu juga bisa dilakukan jika RI punya super holding company atau investment company seperti Temasek,” katanya.

Menurut dia, pemerintah tak boleh menyerah meski banyak rintangan menghadang. Terutama, adanya resistensi manajemen bank BUMN. Andai pemiliknya solid, dalam hal ini pemerintah, sesungguhnya itu tidak akan menjadi masalah besar. Yang penting, pemerintah fokus misalnya secara bertahan membentuk holding BUMN sektoral. Misalnya, BUMN perkebunan yang sudah mulai berjalan. “Kemudian, BUMN energi, infrastruktur (BUMN Karya) lebih dulu karena jauh lebih mudah. Jika berhasil, bisa direplikasi untuk perbankan,” ujarnya.

Dari Data Bloomberg, per Desember 2013 pangsa pasar aset bank BUMN menyusut tinggal 36,7 persen dari 49,4 persen pada 1999. Aset bank asing, campuran maupun bank swasta nasional yang dimiliki asing naik dari 11,6 persen menjadi 36,5 persen. Pangsa pasar kredit bank BUMN juga menyusut dari 53,2 persen menjadi 36,6 persen, sedangkan pangsa pasar bank asing, campuran maupun bank umum swasta nasional yang dimiliki asing naik tajam dari 20,3 persen menjadi 35,1 persen. (Reportase: Destiwati Sitanggang)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)