Inilah 8 Wajah Kelas Menengah di Indonesia

Managing Partner Inventure, Yuswohady mengatakan potensi pasar kelas menengah lebih dari Rp 100 triliun per bulan. Pertumbuhan kelas menengah yang mencapai 8-9 juta per tahun sejak tahun 2010 membuat merek yang awalnya luxury menjadi mass luxury seiring daya beli mereka yang terus meningkat. Bahkan, ada juga bagian dari kelas menengah yang membeli produk dengan kelas satu tingkat di atasnya. Lalu, bagaimana strategi pemasarannya?

“Secara general, perusahaan perlu melakukan aktivitas Below The Line melalui edukasi ke komunitas, di Website dan Blog. Untuk Above The Line cenderung masih menggunakan iklan. Akan tetapi iklan yang lebih dulu memperlihatkan jalan cerita, tidak langsung menawarkan produk,” katanya.

Menurut dia, media yang bersifat satu arah tidak lagi efektif dan biayanya cenderung mahal. Saat ini, media yang bersifat dua arah lebih efektif, yang mengintegrasikan offline dan online, fisik dan conversation. Misalnya suatu produk diiklankan di televisi tetapi juga diikuti dengan aktivitas melalui media sosial dan turun langsung ke konsumen. “WOM juga masih memiliki peran yang kuat,” ujarnya.

Managing Partner Inventure, Yuswohady Managing Partner Inventure, Yuswohady

Dia menjelaskan, strategi pemasaran harus disesuaikan dengan tipologi konsumen kelas menengah. Ada 8 wajah kelas menengah di Indonesia. Pertama, Climber yang memiliki keinginan atau mimpi yaitu kebebasan finansial artinya memiliki mereka uang yang cukup. Selain itu mereka punya keinginan untuk menjadi family row.

“Untuk tipologi seperti itu perlu diciptakan program yang membangun ingatan dan ekspresi tentang keluarga. Hal lainnya adalah karena mereka tidak punya waktu banyak karena dihabiskan untuk bekerja maka perlu produk yang time edition dan program yang mengarah ke family values,” katanya.

Kedua, Trendsetter. Tipe ini menggambarkan anak muda yang ingin dihormati oleh lingkungan, mereka mengikuti perkembangan tren baik itu gadget maupun fashion, dan memiliki tingkat pengeluaran besar tetapi masih meminta dari orang tua. Untuk tipe konsumen ini program pemasaran yang cocok adalah melalui iklan, dan majalah serta surat kabar yang mampu memenuhi kebutuhan informasi mengenai tren yang baru.

Ketiga, Follower yang memiliki daya beli rendah dan sulit untuk mengikuti tren karena kemampuan daya beli tersebut. Mereka lebih aktif di komunitas dan berkumpul dengan teman-teman. Strategi pemasaran untuk menarik mereka dapat dilakukan melalui internet atau media sosial.

Keempat, Aspirator yang lekat dengan kehidupan sosial, merupakan golongan profesional yang ahli dalam bidang tertentu dan memiliki jabatan yang tinggi. Karena mereka fokus pada keluarga dan pendidikan formal, strategi melalui kampanye efektif dilakukan. Aktvitas mereka pun menyukai menyampaikan aspirasi melalui kampanye secara online untuk memberikan awareness kepada masyarakat.

“Kelima, Reformer. Untuk mendekatinya, pemilik merek dapat melakukan promosi melalui internet. Karena reformer adalah para wirausahawan muda yang dekat dengan teknolgi dan informasi dalam pekerjaannya,” ujarnya.

Keenam, Expert. Strategi pemasaran melalui pelatihan dan seminar perlu diterapkan para owner untuk tipe ini karena mereka fokus pada pekerjaan akan tetapi kurang terkoneksi secara sosial. Terakhir, Flow-Er dan Settler. Pemilik merek perlu menerapkan strategi yang lebih sederhana dan bertemu langsung dengan konsumen. Mereka adalah tipe yang mengutamakan basic needs, keluarga, dan agama. Word of Mouth mungkin efektif di tipe ini. (Reportase: Tiffany Diahnisa)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)