Inovasi Generasi Keempat Wong Hang Tailor

Samuel Wongso , Generasi Keempat Penerus Bisnis Wong Hang Tailor.
Samuel Wongso , Generasi Keempat Penerus Bisnis Wong Hang Tailor.

Nama Wong Hang Tailor (WHT) tidak asing lagi bagi pelanggan jas eksklusif di Tanah Air. Butik jas kalangan atas ini awalnya merupakan penjahit jas dari Surabaya. Dirintis pada 1933 oleh Wong Hang, perantau dari daratan China, WHT terus berkembang ke berbagai kota besar di Indonesia.

Adalah Peter Wongso, generasi ketiga, yang pertama membuka jalan ekspansi WHT. Peter membawa WHT ke Jakarta dengan membuka gerai di daerah Mangga Besar. Lalu, berturut-turut membuka cabang di banyak tempat, antara lain Pondok Indah, Kelapa Gading, Grand Indonesia, Kebayoran Baru, Green Lake City, dan Gading Serpong. Bahkan, WHT juga mulai berekspansi ke luar kota, di antaranya Bandung, Semarang, Makassar, dan Medan.

Kini tongkat estafet WHT sudah diserahkan kepada generasi keempat keluarga Wongso. Samuel Wongso (30 tahun), salah satu generasi keempat penerus bisnis WHT, mengatakan bahwa sampai saat ini WHT masih merupakan bisnis keluarga Wongso. “Kami menjalankan bisnis bersama-sama karena kebetulan kami semua mempunyai passion di bidang ini,“ ungkap Samuel.

Menurut putra kedua Peter Wongso ini (dari empat bersaudara), bukan kebetulan jika anak-cucu Wongso menyukai dunia jahit-menjahit. “Dulu nenek saya bilang, kami semua harus punya skill menjahit. Bukan berarti untuk bekerja di Wong Hang, melainkan agar dapat survive di masa depan,” kata Samuel. Dengan demikian, dunia jahit-menjahit pun sudah mendarah daging bagi seluruh anggota keluarganya. Ditambah lagi, keluarga besar Wongso punya tradisi melakukan pertemuan dan diskusi, untuk bertukar pengalaman dan informasi, yang semakin menumbuhkan minat untuk terus bergelut membesarkan WHT.

Diakui kelahiran Surabaya, 22 Desember 1990 ini, nilai-nilai yang ditanamkan keluarga adalah kerukunan. “Orang tua kami mengatakan, hanya kekompakan yang membawa kami menjadi semakin besar. Kuncinya harus hidup rukun,” Samuel menegaskan. Meskipun di kemudian hari dalam pengembangan usaha caranya berbeda-beda karena setiap anggota keluarga punya citarasa yang tidak sama, SOP yang dijalankan dijamin sama. “Kami berangkat dari visi dan misi yang sama, meskipun itu tidak mudah,” ungkap Samuel serius.

Mengelola sebuah merek yang melegenda memang bukan hal mudah. Apalagi, WHT memiliki pelanggan yang punya standar kualitas tertentu. “Tugas kami, menjaga kepercayaan pelanggan. Karena, itulah yang menjadi kunci sukses WHT eksis sampai sekarang. Kepercayaan itu harus kami jaga dengan cara menjaga kualitas dan identitas WHT,” demikain tekad Samuel. Caranya, antara lain dengan tetap mempertahankan identitas sebagai penjahit pakaian formal (jas) yang menonjolkan sisi tradisional, yaitu dibuat dengan tangan (craftsmanship). “Identitas ini tidak akan kami hilangkan karena akan semakin langka di masa mendatang,” ujarnya menegaskan

Di samping menjaga nilai-nilai warisan keluarga, Samuel yang sempat beradu akting dengan Daniel Mananta di film A Man Called Ahok ini juga mencoba terus berinovasi agar tetap relevan dengan zaman dan teknologi yang terus berubah. Ia menyadari bisnis yang digeluti adalah bisnis gaya hidup yang membutuhkan dinamika dan kebaruan.

Kesadaran itulah yang mendorong pria yang berprofsi sebagai desainer ini mencoba mengusung Wong Hang Distinguished Tailor (WHDT). Ini adalah label busana pria yang dibuat dengan kain terbaik, menggunakan metode artisan tradisional dan pengukuran yang sempurna agar sesuai dengan pesanan klien.

“Galeri Wong Hang Distinguished Tailor pun kini telah tersebar di beberapa kota besar di Tanah Air, meliputi Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, dan Makassar,” Samuel menjelaskan. “Kami tidak boleh hanya berdiam diri. Kami harus terus berinovasi agar tetap relevan dengan perubahan zaman dan teknologi,” kata pria yang selalu tampil necis menggunakan jas dalam aktivitas sehari-hari ini.

Salah satu inovasi yang dikembangkan WHT adalah pembuatan aplikasi bernama Stevano Brill. "Ini merupakan cara Wong Hang memopulerkan cara belanja modern sesuai tuntutan masa depan," kata Lianto Wongso selaku founder Stevano Brill sekaligus Master Designer Wong Hang di The Old Temple Cafe, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, saat peluncuran, Juli 2019.

Stevano Brill adalah aplikasi teknologi pengukuran baju ke badan dengan menggunakan kamera ponsel atau webcam. Jadi, bagi pelanggan yang sibuk dan tidak sempat ke butik, mereka tetap bisa fitting jasnya tanpa melalui kehadiran.

“Itulah salah satu upaya go digital kami. Kalau tidak, nanti nggak maju-maju,” ujar Samuel yang membawa teknologi ini dari Inggris. “Di dunia, tailor yang menggunakan teknologi itu nggak sampai 10. Wong Hang menjadi satu-satunya di Indonesia,” ujarnya lagi, bangga.

Yang terbaru, WHT memperkenalkan inovasi Traveling Tailor, yaitu upaya traveling ke berbagai kota atau negara untuk menjaring klien. “Traveling tailor sendiri masih baru di Indonesia dan Wong Hang yang pertama melakukannya,” kata Samuel yang hobi jalan-jalan ini.

Kendati ini merupakan metode yang baru diperkenalkan di Indonesia dan sekarang sedang tertahan oleh pandemi Covid-19, Samuel optimistis ke depan cara ini akan bisa menjaring klien lebih banyak lagi. Pasalnya, jumlah penduduk Indonesia sangat besar dan tersebar di banyak pulau. Dengan Traveling Tailor, akan banyak pelanggan baru yang dapat dijangkau, terutama pelanggan di kota-kota yang belum ada store-nya. (*)

Dyah Hasto Palupi/Andi Hana Mufidah Elmirasari

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)