Tiga Kunci Keberhasilan Transformasi Ekonomi Indonesia

Belakangan ini Indonesia dihadapkan pada keadaan ekonomi yang berjalan lambat,  yang dipengaruhi oleh lesunya kondisi ekonomi dunia. Kendati demikian, sebuah upaya untuk membalikkan keadaan tersebut diperlukan, yakni melalui reformasi kebijakan – kebijakan struktural ekonomi untuk menciptakan perubahan jangka panjang yang lebih baik.

dbs insight

Melalui ‘DBS Asian Insights Seminar 2014’ yang hadir dengan tema ‘Gamechanger; Championing a Better Indonesia’, ada tiga poin penting yang perlu diterapkan guna mendongkrak perekonomian Indonesia melalui berbagai transformasinya, yakni inovasi, kolaborasi, dan konsistensi.

Seperti yang dipaparkan oleh Kuntoro Mangkusubroto, Guru Besar Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung, inovasi diperlukan untuk menciptakan ekosistem implementasi kebijakan yang baik.

Sementara itu, Sofyan Djalil, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia,  menjelaskan bahwa kunci kemajuan sebuah negara adalah menggulirkan kebijakan yang tepat guna (good policy) secara konsisten. Kebijakan fiskal perlu diarahkan untuk dapat membuka lapangan kerja, membangun infrastruktur, dan mendorong investasi untuk pembangunan. Kebijakan di sektor riil seperti penyediaan listrik di daerah juga perlu diarahkan agar lebih optimal. “Oleh karena itu, tantangannya sekarang adalah menciptakan iklim kemudahan untuk melakukan bisnis di seluruh Indonesia,” tegas Sofyan. “Dan saya yakin kami (pemerintah baru) dapat menepati apa yang telah kami janjikan,” tambahnya.

Mari Elka Pangestu, mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (2011-2014), berpendapat bahwa tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia adalah implementasi. “Kebijakan yang baik saja tidak cukup; tantangannya adalah implementasi. Jika tidak bisa mengubah semua, maka mulailah dengan perubahan hal yang kecil. Oleh karena itu, yang akan menjadi gamechanger bagi Indonesia adalah kreativitas dan inovasi,” ujar Mari E. Pangestu.

Senada dengan pandangan tersebut, Chatib Basri, pengamat ekonomi, menjelaskan bahwa melakukan reformasi bisa dimulai dengan melakukan perubahan-perubahan pada hal yang sederhana, baru setelah berhasil bisa diadopsi secara meluas.

Indonesia perlu menciptakan iklim investasi yang kompetitif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Lin Che Wei, pendiri Independent Research and Advisory Indonesia, menyampaikan bahwa kuncinya adalah eksekusi yang baik oleh pemerintah dan menggapai ‘low-hanging fruits’ untuk membangun momentum, misalnya dengan mengubah kebijakan untuk debottle-necking prosedur perizinan bisnis di Indonesia.

“Momentum emas bagi Indonesia adalah dalam kurun waktu 3-5 tahun ini karena ini merupakan saat yang tepat untuk reformasi kebijakan struktural ekonomi yang dapat membawa perubahan positif secara jangka panjang,” ungkap Gundy Cahyadi, Ekonom DBS Group Research. “Bagi kami yang penting adalah melihat implementasi kebijakan pemerintah secara bertahap namun konsisten.”

Konsistensi menjadi faktor penting yang mempengaruhi pasar modal. Hal ini dijelaskan oleh Maynard Arief, Head of Research di DBS Vickers Indonesia, “Selain faktor eksternal dan dinamika ekonomi global, naik-turunnya bursa saham juga sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar. Oleh karena itu, eksekusi dan konsistensi dalam implementasi harus dijaga untuk mempertahankan momentum yang baik.”

Menangkap kemauan dan niat baik dari pemerintah, Presiden Direktur DBS Indonesia, Melvin Teo menyampaikan dalam sambutannya, “Harapan kami dari diselenggarakannya acara ini adalah untuk bisa mengetengahkan ide, agenda, dan hal-hal yang dapat ditindaklanjuti bersama untuk kemajuan perekonomian Indonesia,” ungkap Melvin. “Tahun ini DBS Indonesia merayakan Hari Jadi yang ke-25 dan kami siap berkolaborasi untuk mengawal perubahan bagi Indonesia maju.”

Perekonomian nasional yang sehat tentunya perlu didukung pula oleh fondasi ekonomi yang kuat dan berkelanjutan. Terkait hal ini, Andrinof Chaniago melihat bahwa pemerintah Indonesia perlu mengarahakan kebijakannya untuk membantu agar semua pelaku ekonomi bisa berproduksi, misalnya dengan kebijakan fiskal untuk membiayai hal-hal yang bersifat produktif seperti infrastruktur.

Selain masalah infrastruktur, kepastian hukum, dan birokrasi, Indonesia juga perlu memperhatikan masalah financial inclusion masyarakat dalam perbankan. Hal ini penting untuk memberikan akses finansial kepada seluruh pelaku ekonomi di Indonesia. Chatib Basri mengungkapkan bahwa persoalannya saat ini 80 persen penduduk Indonesia masih belum memiliki akses perbankan. Salah satu cara untuk mengatasi persoalan ini adalah dengan cara mobile banking yang didukung oleh infrastruktur teknologi informasi yang memadai dan platform pembayaran yang andal. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)